ZONAUTARA.com – Prestasi klub renang Znergy pada NSSC Swimming Competition 2026 tidak hanya ditandai dengan raihan medali. Dua atletnya, Muh. Fabian Laoh dan M. Taufik Hidayat Mokodompit, berhasil menjadi perenang terbaik pada kelompok umur masing-masing.
Keduanya tampil dalam Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan se-Indonesia NSSC Swimming Competition yang memperebutkan Piala Dankodaeral VIII. Kejuaraan tersebut berlangsung pada 28-30 Agustus 2026 di Kolam Renang Dankodaeral, Kairagi, Manado.
Znergy menurunkan 59 atlet dalam kejuaraan tersebut. Mereka terdiri dari 34 atlet putra dan 25 atlet putri. Dari jumlah itu, sebanyak 34 atlet mengikuti nomor kelompok umur (KU) 1 hingga KU 4 dengan total 186 nomor perlombaan.
Di antara para perenang Znergy, Fabian dan Taufik menjadi dua nama yang mendapat perhatian setelah masing-masing dinobatkan sebagai perenang terbaik pada kelompok umur mereka.
Fabian Laoh menjadi Perenang Terbaik KU 2, kategori atlet kelahiran 2011-2012 atau usia 14-15 tahun. Sementara Taufik Hidayat Mokodompit meraih predikat Perenang Terbaik KU 1, untuk kategori kelahiran sebelum 31 Desember 2010 atau usia 16 tahun ke atas.
Bagi Fabian, predikat tersebut datang setelah melewati persaingan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ia mengaku tidak tampil dalam kondisi performa terbaiknya sepanjang perlombaan.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi ketika Fabian turun di nomor 400 meter gaya bebas. Ia harus puas finis di posisi kedua setelah disalip perenang lain.
Kekalahan itu sempat menimbulkan kekecewaan. Namun, Fabian memilih menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk nomor berikutnya.
“Saya memang sempat kecewa ketika 400 meter bebas karena berhasil disalip dan hanya mendapat juara dua. Tapi saya mencoba tidak larut dalam kekecewaan itu. Saya jadikan hasil tersebut sebagai motivasi untuk lebih fokus di perlombaan selanjutnya,” ujar Fabian.
Strategi itu membuahkan hasil. Pada nomor 200 meter gaya bebas, Fabian berhasil merebut medali emas sekaligus membalikkan hasil dari perlombaan sebelumnya.
Selain nomor individu, Fabian juga menjadi bagian dari tim estafet Znergy yang berhasil mengamankan dua medali emas dan satu perak.
Rangkaian hasil tersebut membuat Fabian kembali mempertahankan predikat perenang terbaik. Ia menyebut pencapaian tersebut menjadi yang keempat kalinya ia memperoleh predikat serupa dalam empat kejuaraan berbeda.
“Menjadi perenang terbaik untuk keempat kalinya tentu membuat saya bangga. Tetapi saya juga melihatnya sebagai tanggung jawab untuk terus berkembang, karena setiap lomba selalu punya lawan dan tantangan yang berbeda,” katanya.

Taufik dan pertarungan melawan rasa gugup
Sementara itu, Taufik menghadapi tantangan yang berbeda. Bukan hanya lawan di dalam kolam, tetapi juga tekanan dan rasa gugup sebelum pertandingan.
Taufik mengaku selalu merasakan ketegangan ketika duduk di ruang pemanggilan atlet. Pikiran yang tidak tenang dan rasa takut menghadapi perlombaan menjadi bagian dari pengalamannya sebelum menuju start block.
Namun, ia memiliki cara untuk mengendalikan tekanan tersebut. Sesaat sebelum bertanding, Taufik berusaha mengatur napas, menenangkan diri, kemudian memusatkan perhatian pada perlombaan yang akan dijalani.
“Sebelum naik ke start block, saya biasanya mencoba menghilangkan pikiran yang macam-macam. Saya atur napas, menenangkan diri, lalu meyakinkan diri sendiri bahwa saya harus memberikan yang terbaik. Setelah itu saya bisa lebih fokus,” tutur Taufik.
Pengalaman dari perlombaan sebelumnya juga menjadi bekal penting. Ketika pernah gagal meraih kemenangan karena melakukan kesalahan, Taufik tidak ingin mengulanginya.
Ia mengingat bagian-bagian perlombaan yang menjadi kelemahannya, kemudian menjadikannya sebagai evaluasi sebelum turun di nomor berikutnya.
Cara tersebut membantunya menghadapi salah satu momen paling menegangkan dalam kejuaraan kali ini.
Pada nomor terakhir gaya bebas, Taufik harus kembali berhadapan dengan salah satu lawan terberatnya, Akbar Bau. Sebelumnya, ia sempat mengalami kekalahan sehingga muncul keraguan ketika akan menghadapi nomor terakhir tersebut.
Taufik bahkan sempat berpikir untuk menerima kemungkinan kalah. Namun, ketika berdiri di atas start block, fokusnya berubah. Ia memilih melepaskan hasil dan berkonsentrasi pada perlombaan.
“Saat itu saya sudah berpikir, kalaupun kalah tidak apa-apa karena saya sudah berusaha. Ketika berdiri di start block, saya hanya mengingat Tuhan, mengucapkan bismillah, lalu berusaha sampai finis. Ternyata hasilnya justru saya bisa menang dan mencatat best time,” ungkapnya.
Kemenangan tersebut sekaligus menjadi penutup yang kuat bagi perjalanan Taufik dalam kejuaraan.
Di balik predikat Perenang Terbaik KU 1, ia melihat keberhasilan tersebut bukan semata hasil dari kemampuan individu. Dukungan orang tua, pelatih dan lingkungan tim dinilai memiliki peran penting dalam menjaga mental dan konsistensinya sebagai atlet.
“Kalau hanya mengandalkan kemampuan sendiri, saya rasa tidak cukup. Ada orang tua, coach, teman-teman satu tim, dan tentu Tuhan yang membuat saya bisa sampai di titik ini,” ujarnya.

Medali bukan satu-satunya ukuran
Head Coach Znergy, Zefanya In Christo Tambuwun, mengatakan pencapaian Fabian dan Taufik menjadi bagian penting dari hasil tim dalam kejuaraan tersebut.
Menurut Zefanya, keduanya menunjukkan kualitas yang tidak hanya terlihat dari jumlah medali. Ada proses panjang berupa kedisiplinan, kepercayaan kepada pelatih, kemauan memperbaiki diri, serta kemampuan bekerja sama dengan rekan satu tim.
“Yang membuat saya bangga bukan hanya karena Taufik dan Fabian menjadi perenang terbaik. Mereka juga menunjukkan kesetiaan terhadap proses, percaya kepada coach, mau mendorong diri sendiri, dan mampu menjadi contoh bagi teman-temannya,” kata Zefanya.
Zefanya menilai keberhasilan seorang atlet seharusnya tidak hanya diukur dari podium. Kemampuan menghadapi kekalahan, mengendalikan emosi, menerima evaluasi, dan kembali berlatih untuk memperbaiki kesalahan merupakan bagian yang tidak kalah penting dalam pembentukan atlet.
Hal itu terlihat dari pengalaman Fabian yang mampu menjadikan kekalahan di nomor 400 meter gaya bebas sebagai pemicu untuk tampil lebih baik pada nomor berikutnya. Demikian pula Taufik yang menggunakan pengalaman kekalahan sebelumnya untuk memperbaiki fokus dan strategi menghadapi perlombaan berikutnya.
Menurut Zefanya, proses seperti itu yang diharapkan terus tumbuh di dalam tubuh Znergy.
“Medali memang penting, tetapi karakter dan proses anak-anak jauh lebih panjang. Kami ingin mereka menikmati kompetisi secara sehat, belajar dari setiap perlombaan, dan tumbuh menjadi atlet yang mencintai olahraga ini,” ujarnya.
Prestasi individu menguatkan prestasi tim
Selain dua perenang terbaik, sejumlah atlet Znergy juga berhasil membawa pulang medali dari berbagai kelompok umur. Prestasi tersebut ikut menopang pencapaian Znergy hingga keluar sebagai Juara 2 Umum Klub Terbaik dalam NSSC Swimming Competition.
Raihan tersebut menunjukkan bahwa prestasi Znergy tidak hanya bertumpu pada satu atau dua atlet. Puluhan perenang yang diturunkan mendapat kesempatan bertanding pada ratusan nomor perlombaan, dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Bagi tim pelatih, kompetisi semacam ini menjadi ruang untuk mengukur perkembangan atlet secara lebih nyata. Hasil pertandingan dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana latihan yang dilakukan selama ini diterapkan ketika atlet berada dalam tekanan pertandingan.
Zefanya juga berharap orang tua melihat olahraga renang bukan semata sebagai arena mengejar medali. Menurutnya, proses latihan dan kompetisi dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar tentang disiplin, keberanian, tanggung jawab, kerja sama, serta kemampuan menghadapi kemenangan dan kekalahan.
“Kami berharap orang tua bisa melihat sisi positif olahraga ini bagi perkembangan anak. Jangan hanya melihat apakah anak mendapat medali atau tidak. Yang penting mereka menikmati prosesnya, berkompetisi dengan sehat, dan terus memiliki kecintaan terhadap olahraga,” kata Zefanya.
Bagi Fabian dan Taufik, predikat perenang terbaik akhirnya bukan sekadar tambahan penghargaan. Keduanya membawa cerita berbeda tentang bagaimana seorang atlet menghadapi perlombaan: Fabian dengan mengubah kekecewaan menjadi dorongan untuk bangkit, sementara Taufik belajar mengendalikan rasa gugup dan keraguan hingga mampu menutup perlombaan dengan kemenangan.
Di titik itu, medali menjadi hasil akhir dari sebuah proses yang lebih panjang—tentang latihan, evaluasi, keberanian kembali bertanding, serta dukungan orang-orang yang berada di belakang para atlet.

