ZONAUTARA.com — Ancaman kekeringan meteorologis di Sulawesi Utara (Sulut) memasuki fase serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam pembaruan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis untuk Dasarian II September 2026 menempatkan 11 kabupaten dan kota di Sulut pada kategori Awas, sementara empat daerah lainnya berstatus Siaga. Dengan demikian, seluruh 15 kabupaten dan kota di provinsi ini masuk dalam dua tingkat peringatan kekeringan tersebut.
Daerah berstatus Awas adalah Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Utara, Kota Manado, Kota Tomohon, Kota Kotamobagu, Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, serta Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro. Sementara status Siaga berlaku di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Kota Bitung.
Status tersebut bukan sekadar penanda cuaca panas. Dalam ketentuan BMKG, peringatan kekeringan meteorologis mempertimbangkan antara lain lamanya hari tanpa hujan, probabilitas curah hujan sangat rendah, dan Indeks Curah Hujan Terstandardisasi atau SPI.
Kategori Siaga antara lain dapat diterbitkan ketika hari tanpa hujan mencapai sedikitnya 31 hari, sementara kategori Awas antara lain berlaku ketika hari tanpa hujan berlangsung sedikitnya 61 hari. Parameter lain untuk kategori Awas adalah probabilitas curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang di atas 70 persen dan/atau SPI paling tinggi minus 2,00.

El Niño sangat kuat, hujan jauh di bawah normal
Situasi di Sulut berlangsung di tengah El Niño yang masih berada pada intensitas sangat kuat. Dokumen pembaruan iklim BMKG pada Dasarian I September 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 sebesar positif 2,76 derajat Celsius. Indeks ENSO rata-rata tiga bulanan untuk Juli–Agustus–September mencapai 2,6, yang menurut BMKG menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. Fenomena ini diprediksi bertahan hingga awal 2027.
Kondisi kering sebenarnya telah terlihat sejak Agustus. BMKG mencatat curah hujan Agustus 2026 sebagai yang terkering kedua untuk bulan Agustus sejak 1991. Sebanyak 83,99 persen wilayah Indonesia berada pada kriteria curah hujan rendah dan 90,86 persen mengalami sifat hujan bawah normal.
Situasi itu berlanjut pada sepuluh hari pertama September. Curah hujan kategori rendah mendominasi 92,62 persen wilayah Indonesia, sedangkan 92,86 persen wilayah mengalami sifat hujan bawah normal. Sulawesi Utara termasuk dalam daerah yang dominan mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan bawah normal pada periode tersebut.
Berdasarkan jumlah Zona Musim atau ZOM, sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 ZOM telah mengalami musim kemarau pada Dasarian I September. BMKG juga memprediksi curah hujan periode Dasarian II September hingga Dasarian I Oktober umumnya hanya berada pada kategori rendah hingga menengah, 0–150 milimeter per dasarian. Pulau Sulawesi termasuk kawasan yang diprediksi mengalami curah hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian.
Prospek untuk Oktober juga belum menunjukkan pemulihan cepat. Dalam prediksi peluang curah hujan bulanan, BMKG menyebut sebagian besar Sulawesi Utara termasuk wilayah yang berpeluang tinggi menerima curah hujan kurang dari 50 milimeter selama Oktober 2026.

Pembaruan BMKG pada 14 September semakin menegaskan kondisi tersebut. Untuk periode 15–21 September, atmosfer kering masih mendominasi sebagian besar Indonesia. El Niño dengan anomali Niño 3.4 positif 2,76 derajat Celsius disebut turut menekan suplai kelembapan, sementara suhu maksimum lebih dari 36 derajat Celsius telah tercatat di sejumlah daerah, termasuk Sulawesi Utara. Untuk 15–17 September, Sulut juga termasuk wilayah yang diminta mewaspadai potensi angin kencang.
Sitaro distribusikan 37.200 liter air
Dampak kekeringan telah terlihat langsung dalam kehidupan warga. Di Kabupaten Kepulauan Sitaro, pemerintah daerah terus mendistribusikan air bersih setelah kemarau berkepanjangan membuat ketersediaan air warga semakin terbatas.
Pada Kamis, 10 September 2026, Pemkab Sitaro mendistribusikan 37.200 liter air bersih melalui armada BPBD, PDAM, PUPRKP, pemadam kebakaran Satpol PP Tagulandang, serta Dinas Sosial. Penyaluran menjangkau kampung-kampung seperti Hiung, Beong, Dompase, Akesimbeka, Dame, Nameng, Buha hingga Paniki. Laporan reporter Zonautara menyebut kemarau di daerah kepulauan tersebut telah berlangsung sekitar empat bulan dan menjadi persoalan serius terutama bagi masyarakat yang bergantung pada air hujan.
Pelaksana Tugas Bupati Kepulauan Sitaro Heronimus Makainas memastikan distribusi akan berlanjut selama masyarakat masih membutuhkan suplai.
“Bantuan akan terus kami lakukan untuk masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air,” ujar Makainas.
Upaya tersebut bukan penanganan pertama. Sejak akhir Agustus, Pemkab Sitaro bersama kepolisian dan PDAM telah memantau kondisi sumber air Danau Kapeta serta fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi penurunan debit air akibat El Niño.
Peringatan terbaru BMKG kini menempatkan Sitaro dalam kategori Awas kekeringan meteorologis.

Sumur warga Bunaken mengering dan berubah asin
Krisis serupa terjadi di wilayah kepulauan Kota Manado, yang juga masuk kategori Awas. Di Pulau Bunaken, kesulitan memperoleh air bersih telah berlangsung sekitar tiga bulan. Kemarau membuat debit sumur menyusut dan sebagian sumber air berubah asin, sehingga warga harus semakin ketat mengatur pemakaian air untuk minum, memasak, mandi dan mencuci.
James Antoni, warga Pulau Bunaken, menggambarkan perubahan yang terjadi pada sumber air mereka.
“Sebenarnya kami punya sumur, tetapi karena panas berkepanjangan, airnya sekarang sudah tidak tawar lagi, sudah asin,” ujar James.
Menurut laporan ANTARA pada 9 September, sebagian warga harus mencari sumber lain, sementara bantuan air bersih dikirim dari daratan menggunakan kapal.
Camat Bunaken Kepulauan Imanuel Mandak mengatakan bantuan telah mengurangi kesulitan warga, tetapi tambahan suplai tetap dibutuhkan karena kemarau belum berakhir.
Pada 2 September, BPBD Kota Manado bersama PELNI dan PDAM Kota Manado menyalurkan sekitar 16.000 liter air bersih ke Kepulauan Bunaken. RRI melaporkan sumur dan tempat penampungan warga semakin sulit digunakan untuk kebutuhan konsumsi setelah sekitar dua bulan mengalami kemarau.
Pada periode hampir bersamaan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama Pemerintah Kota Manado, PDAM dan Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendistribusikan 18.200 liter air bersih ke Pulau Manado Tua. Pengiriman menggunakan jalur laut dengan dukungan KM Matthew 3 dan KP Hiu milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulut Jimmy Ringkuangan saat itu menegaskan pelayanan dasar bagi masyarakat pulau tidak boleh terhambat kondisi geografis.
Pemprov Sulut menyebut distribusi darurat tersebut disertai pemantauan kebutuhan masyarakat dan upaya mencari solusi lebih berkelanjutan bagi penyediaan air di wilayah kepulauan.

Risiko kebakaran hutan dan lahan ikut meningkat
Krisis air bukan satu-satunya dampak kemarau. Kebakaran hutan dan lahan telah menjadi ancaman lain di Sulawesi Utara. Dinas Kehutanan Provinsi Sulut mencatat luas hutan dan lahan yang terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 1.500,5 hektare. Lebih dari 1.000 titik panas juga terpantau pada periode Januari hingga 25 Agustus, dengan jumlah tertinggi ketika itu berada di Sitaro.
Pada 4 September, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Alamsyah P Hasibuan mengatakan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, TNI, perusahaan dan masyarakat. Kepolisian juga meningkatkan kesiapan personel di wilayah rawan, termasuk dengan apel siaga dan pengecekan sarana penanggulangan kebakaran.
Risiko tersebut masih relevan hingga pertengahan September. Pemantauan satelit BMKG pada 13 September menemukan 104 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Pulau Sulawesi secara keseluruhan. BMKG mengingatkan atmosfer kering memungkinkan kebakaran bertahan lebih lama dan semakin sulit dikendalikan.
Pertanian dan stok pangan ikut diantisipasi
Dampak kemarau juga mulai menjadi perhatian di sektor pertanian. Sejak 1 September, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyatakan memperkuat mitigasi dengan menjaga pengairan lahan pertanian sekaligus memantau ketersediaan pangan.
Kepala Biro Ekonomi Pemprov Sulut Reza Dotulong mengatakan penyuluh pertanian dilibatkan untuk memperbarui data kondisi lapangan di seluruh kabupaten dan kota. Langkah tersebut diarahkan agar gangguan produksi akibat keterbatasan air dapat diketahui lebih dini sekaligus menjaga ketersediaan pangan selama musim kering.
Kepala Stasiun Klimatologi Manado Sulawesi Utara Aris Yunatas sebelumnya meminta masyarakat mengikuti rekomendasi BMKG di tengah kondisi kekeringan.
BMKG meminta warga tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menggunakan air bersih dengan hemat karena curah hujan diprediksi tetap rendah.

Meski kekeringan mendominasi, BMKG mengingatkan hujan lokal tetap dapat terjadi karena dinamika atmosfer. Karena itu, ancaman kekeringan tidak serta-merta menghilangkan kemungkinan hujan, petir, ataupun angin kencang dalam waktu singkat. Untuk periode 15–17 September, Sulawesi Utara justru termasuk daerah yang diperingatkan terhadap potensi angin kencang.
Dengan seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara kini berada pada kategori Siaga atau Awas kekeringan meteorologis, persoalan air bersih, kebakaran hutan dan lahan, pertanian serta ketersediaan sumber air menjadi tantangan yang membutuhkan penanganan lintas daerah.
Prediksi curah hujan rendah di sebagian besar Sulawesi dalam beberapa dasarian ke depan, ditambah El Niño sangat kuat yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027, menunjukkan tekanan kekeringan belum akan cepat berakhir.

