ZONAUTARA.com – Pada 12 Oktober 2026, dua isu krusial menjadi sorotan: aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Kedua kejadian ini tidak hanya berdampak pada lingkup nasional, tetapi juga menarik perhatian internasional. Pembaca harus mengikuti perkembangan ini karena potensi risiko terhadap keamanan, lingkungan, dan kesehatan masyarakat. Di samping itu, langkah-langkah pemerintah dalam menghadapinya akan menentukan bagaimana dampak ini bisa diminimalkan.
Gunung Anak Krakatau Erupsi 31 Kali
Dikutip dari Antara, Gunung Anak Krakatau mengalami 31 kali erupsi dari tanggal 5 hingga 9 Oktober 2026. Puncaknya terjadi pada 9 Oktober dengan 26 kali letusan. Meskipun aktivitas vulkanik menurun sejak 10 Oktober, status gunung api tetap di Level III atau Siaga. Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat di sekitar Selat Sunda.
Baca selengkapnya di Antara – Top News →
Keberhasilan Pemadaman Karhutla Diakui
Dari CNBC Indonesia, Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat mengenai kebakaran hutan yang masih melanda Indonesia, dimana keberhasilan penanganannya dilaporkan mencapai 80%. Fokus pemerintah saat ini adalah memadamkan titik api di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Kebakaran ini mempengaruhi negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Baca selengkapnya di CNBC Indonesia – News →
Pelantikan Kepala Badan Gambut-Mangrove Baru
CNN Indonesia melaporkan Menko Polkam Dudung Abdurachman menyatakan bahwa pejabat Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, akan dilantik sebagai Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional minggu depan. Badan ini dibentuk sebagai langkah pencegahan menghadapi karhutla di masa depan.
Baca selengkapnya di CNN Indonesia – Nasional →
Pelantikan Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional diharapkan meningkatkan upaya mitigasi karhutla di Indonesia. Pantau perkembangan selanjutnya.

