Connect with us

Sorotan

Asa di Miangas dan Kekecewaan Gubernur Olly Soal Bupati Manalip

Olly mengatakan koordinasi pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah provinsi ibarat sambungan listrik. “Koordinasi itu sangat penting. Seperti sambungan listrik. Jika tidak tersambung lampu pun tidak akan nyala,” singgung Olly.

Bagikan !

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan kunjungan ke Miangas yang menjadi wilayah perbatasan langsung RI – Filipina, Rabu (31/5). Kedatangan rombongan Gubernur, selain untuk melihat secara langsung kondisi di Miangas terkait situasi tak kondusif di Filipina Selatan antara Pemerintah Filipina dengan kelompok bersenjata Maute sayap ISIS, juga ingin bertatap muka secara langsung dengan masyarakat pulau Miangas.

Disana, Gubernur memberikan bantuan drone untuk memperkuat keamanan wilayah perbatasan. Penempatan drone tersebut akan membantu TNI dalam menjaga pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugas utama drone ini adalah memantau setiap gerak-gerik yang terjadi di wilayah perbatasan.

Selain itu, untuk mengembangkan sektor pariwisata di Pulau Miangas, Kabupaten Talaud, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara akan mengirim 10 pelajar Miangas ke Cina. Mereka akan belajar bahasa dan budaya Cina selama enam bulan. Program ini sebagai bentuk dukungan pemerintah provinsi terhadap pembangunan pariwisata di Kabupaten Talaud.

“Kami meminta 10 pelajar Miangas untuk dikirim belajar bahasa ke Cina. Ini untuk memperkuat sektor pariwisata di daerah perbatasan. Nantinya turis Cina juga bisa berwisata di Miangas dengan kemudahan berkomunikasi,” kata Olly.

Menurut Olly pengembangan SDM seperti pengiriman pelajar tersebut sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur pariwisata untuk menghadapi kunjungan turis mancanegara.

“Siapkan dulu Sumber daya manusianya. Jika dibangun dahulu cottage di Miangas namun belum ada yang mengetahui bahasa Cina tentu sama juga tidak maksimal,” ujarnya.

Sementara, untuk mengatasi persoalan sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM) di Miangas, rencananya pemerintah akan membangun satu unit SPBU Kompak. Sedangkan di Kabupaten Sangihe dan Sitaro juga  masing – masing mendapat satu unit.

“Saat ini sedang diurus izin pendirian SPBU Kompak di wilayah perbatasan termasuk Pulau Miangas. Jika sudah selesai nanti langsung dibangun. Sulitnya penyaluran BBM nanti teratasi,” katanya.

Diketahui, SPBU Kompak didirikan Pertamina pada lokasi-lokasi yang belum layak untuk suatu SPBU konvensional, misalnya daerah yang hanya memiliki omzet satu ton atau 1.000 liter perhari, tidak mampu menutupi biaya operasional jika didirikan SPBU konvensional, sehingga tidak ada pengusaha yang tertarik maka dalam program satu harga ini dibangun SPBU Kompak.

Dalam hal layanan jaringan telekomunikasi, warga Miangas tak perlu khawatir lagi. Satu unit tower provider bakal dibangun untuk memperkuat jaringan internet. “Nanti jaringan internet akan diperkuat dengan pertambahan tower. Selama ini kalau jaringan untuk telepon dan sms kan ada. Yang belum lancar jaringan internetnya,” papar Olly saat bertatap muka dengan warga di BPU Miangas.

Diketahui, pembangunan jaringan telekomunikasi di daerah perbatasan dan pelosok merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membangun ketersediaan infrastruktur layanan akses telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan sarana telekomunikasi dan informatika di wilayah perbatasan sesuai dengan amanat poin ketiga Nawa Cita, yaitu membangun Indonesia dari pinggir dengan memperkuat desa-desa dan daerah-daerah dalam kerangka negara persatuan.

Manalip Tak Hadir

Yang menarik dari kunjungan Gubernur Olly bersama unsur Forkopimda Sulawesi Utara adalah ketidakhadiran Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyuni Manalip yang hanya mengutus Sekretaris Kabupaten Adolf Binilang. Hal ini sangat disayangkan Gubernur yang kecewa atas kejadian tersebut.

“Saya dan jajaran Forkopimda datang dari Manado untuk bersama-sama membangun wilayah perbatasan. Kenapa bupatinya tidak bisa hadir,” katanya.

Menurut Olly, koordinasi yang baik dapat diwujudkan jika setiap kepala daerah berkomitmen membangun daerahnya. “Bagaimana mungkin kita bisa mencapai banyak hal jika bupati saja tidak bisa datang ke pertemuan ini,” tegasnya.

Bahkan Olly mengatakan koordinasi pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah provinsi ibarat sambungan listrik. “Koordinasi itu sangat penting. Seperti sambungan listrik. Jika tidak tersambung lampu pun tidak akan nyala,” singgung Olly.

Mendengar teguran itu Sekretaris Kabupaten Talaud Adolf Binilang terdiam seakan menyadari hal tersebut.

 

Diolah dari situs humaspemprovsulut.blogspot.id

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

Sorotan

Hoaks sengaja disebar untuk picu kerusuhan di Wamena

Semuanya diminta untuk menahan diri.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko seusai rapat internal dengan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/09/2019) siang, langsung merespons peristiwa kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua. Moeldoko mengatakan bahwa peristiwa di Wamena harus disikapi dengan cara-cara proporsional dan profesional.

“Jangan sampai penyelesaian itu membangun dengan emosi yang pada akhirnya aparat itu melakukan tindakan-tindakan yang uncontrol. Itu yang tidak kita inginkan,” kata Moeldoko.

Kepala Staf Kepresidenan ini mengakui jika dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena terdapat korban, termasuk di pihak aparat keamanan, yaitu TNI dan Polri.

Ia menegaskan bahwa tidak ada instruksi bagi aparat untuk melakukan tindakan represif dalam menangani kerusuhan di Wamena itu. Semuanya diminta untuk menahan diri karena ini sangat berkaitan dengan perkembangan isu di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Jadi jangan kita memunculkan situasi yang tidak bagus. Jadi semuanya harus terkontrol dengan baik aparat keamanan, tidak ada langkah-langkah yang eksesif, tetapi juga keamanan menjadi kebutuhan bersama,” tegas Moeldoko.

Kabar hoaks yang memicu kerusuhan di Wamena, menurut Moeldoko, akibat adanya isu yang disebarkan bahwa ada seorang guru yang melakukan rasis. Padahal hal itu tidak terjadi. Kapolri juga mengatakan tidak ada hal itu.

“Sudah dicek ke sekolahan  itu tidak yang terjadi seperti itu. Tapi begini, ya, karena situasi ini, sekali lagi, situasi ini adalah situasi yang diprovokasi dalam rangka menciptakan situasi untuk konsumsi,” ujarnya.

Moeldoko menghimbau agar harus menyikapi ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nanti ikut terbawa emosi, terpancing dan seterusnya. Hal tersebut juga sudah menyampaikan hal itu kepada aparat keamanan di wilayah Papua.

Ia menduga adanya provokasi yang sengaja diciptakan untuk memicu terjadinya kerusuhan di Wamena. Saat aparat terpancing melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia berat bisa dijadikan celah tuntutan di PBB.

“Kami sudah tahu agendanya ke mana,” ujarnya.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading
Advertisement

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com