Tentang Korpaskhas TNI AU Dan CCT US Air Force

Penulis: Rizaly Posumah

MANADO, ZONAUTARA.com Dari tanggal 12 – 23 Maret 2018, di wilayah Sulawesi Utara (Sulut) berlangsung latihan bersama antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) dengan US Air Force. Latihan ini dibagi dalam dua jenis latihan. Latihan pertama dengan nama sandi “Cope West” dan yang kedua disebut “Spear Iron” atau Tombak Besi dalam istilah Angkatan Udara.

Menariknya, di latihan yang dibuka di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Sam Ratulangi Manado ini adalah keterlibatan dua pasukan dengan kualifikasi khusus dari TNI AU dan US Air Force. Yakni, Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI AU, dan Combat Control Team (CCT) US Air Force. Apa saja skill dari kedua pasukan ini dan bagaimana sejarah serta sepak terjangnya di dunia militer? Berikut ulasannya.

Korpaskhas TNI AU

Bernama lengkap Komando Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, disingkat Korpaskhasau, Paskhas, atau Korpaskhas. Paskhas bertugas membina kekuatan dan kemampuan operasional satuan-satuannya, untuk melaksanakan Operasi Perebutan Pengendalian Pangkalan Udara (OP3U), Operasi Pertahanan Udara, Operasi Pengamanan Alutsista Strategis, Operasi Khusus dan Operasi Penanggulangan Bajak Udara, serta operasi tempur lainnya sesuai kebijakan Panglima TNI.

Merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra, yaitu udara, laut, darat. Setiap prajurit Paskhas diharuskan minimal memiliki kualifikasi para-komando (Parako), untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, kemudian ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya.

Tugas dan tanggung jawab Korpaskhas sama dengan pasukan tempur lainnya, yaitu sebagai satuan tempur negara. Yang membedakan adalah fungsi paskhas sebagai pasukan pemukul NKRI yang siap diterjunkan di segala medan baik hutan, kota, rawa, sungai, dan laut . Paskhas mempunyai Ciri Khas tugas tambahan yang tidak dimiliki oleh pasukan lain, yaitu Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD), yaitu merebut dan memertahankan pangkalan dan untuk selanjutnya menyiapkan pendaratan pesawat dan penerjunan pasukan kawan.

Salah satu yang menjadi khas dan simbol dari setiap anggota Paskhas, yakni Baret Jingganya. Dalam buku yang ditulis Budhy Santoso berjudul “Baret Jingga. Pasukan Payung Pertama di Indonesia”, disebutkan arti warna baret jingga Paskhas terinspirasi dari cahaya jingga saat fajar di daerah Margahayu, Bandung, yaitu tempat pasukan komando ini dilatih.

Sebagaimana pasukan militer lainnya, Paskhas juga mempunyai Moto. Di mana, Moto Paskhas berbunyi “Karmaye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana”, yang berarti Bekerja Tanpa Menghitung Untung dan Rugi. Moto tersebut terinspirasi dari pidato Presiden RI pertama Ir. Sukarno, pada malam ”tirakatan” Hari Bhakti AURI di Istana Negara tanggal 30 Juli 1964. Maksud ungkapan Sukarno ini untuk memotivasi personel AURI. Sukarno menyitirnya dari kalimat termasyhur pada Sangkahya-yoga kitab Bhagawadgita, sloka 2.47, agama Hindu.

Sepanjang sejarah terbentuknya, Paskhas sudah beberapa kali terlibat dalam berbagai operasi militer. Di antaranya, Penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS), Penumpasan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Bandung Aceh dan Makasar. Penumpasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta PRRI/PERMESTA di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Operasi Trikora Irian Barat, Operasi Dwikora di Malaysia, Operasi Seroja di Timur Leste, dan Operasi Trisula dan Penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan. Selain itu, hingga sekarang, Paskhas juga aktif dalam operasi sipil.

Paskhas juga tergabung dalam misi perdamaian di luar negeri di bawah bendera PBB, seperti  Kontingen Garuda di Vietnam, Kontingen Garuda XIV di bawah Unprofor di Yugoslavia, Kontingen Garuda XIV A-B di Bosnia, Kontingen Garuda XVII di bawah OKI di Filipina, Kontingen Garuda XXIII di Libanon dan penugasan militer di luar negeri lainnya.

Sejarah Korpaskhas

Sejarah Paskhas berawal dari permintaan Gubernur Kalimantan Mohammad Noor kepada Kasau Marsekal Soerjadi Soerjadarma, untuk menerjunkan pasukan payung di Kalimantan, guna membantu perjuangan rakyat Kalimantan, disambut baik oleh Kasau dengan menunjuk Tjilik Riwut, untuk menyiapkan prajurit-prajurit AURI melaksanakan tugas penerjunan di Kalimantan.

Pada tanggal 17 Oktober 1947 dini hari, sebuah pesawat dakota memecah keheningan daerah Maguwo lepas landas menyeberangi lautan dan menelusuri belantara rimba Kalimantan menuju Kotawaringin sebagai daerah sasaran penerjunan. Pesawat dakota yang diawaki Kapten pilot Bob Freeberg dengan Copilot Makmur Suhodo, serta dibantu jump master Amir Hamzah dan pemandu jalan Mayor Tjilik Riwoet bersama 13 pejuang prajurit AURI sebagai satgas Dakota RI-002, siap melaksanakan penerjunan di Kotawaringin, Kalimantan, untuk meneruskan perjuangan bangsa Indonesia.

Tepat pukul 07.00 Wib, pesawat dakota yang membawa 13 pejuang prajurit AURI berada di atas sasaran melakukan penerjunan di daerah Sambi, Kotawaringin, Kalimantan Tengah. Peristiwa penerjunan yang dilakukan oleh 13 prajurit AURI di Kalimantan tersebut, merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur Pasukan Khas TNI Angkatan Udara yang dikukuhkan 20 tahun kemudian, berdasarkan keputusan Men/Pangau nomor 54 tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967.

Tanggal 17 Oktober 1947 kemudiaan ditetapkan sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat). Tanggal itu pun merupakan awal sejarah penerjunan oleh prajurit TNI yang merupakan operasi penerjunan pertama di Indonesia, serta dapat dikatakan untuk yang pertama kalinya operasi lintas udara dilakukan di Indonesia.

CCT US Air Force

Pasukan ini sudah ada sejak Perang Dunia II. Mereka mempunyai moto “First There”, yang bermakna “Terdepan Dalam Perang”. Satu penegasan komitmen dari tugas mereka untuk melakukan misi paling berbahaya. Menembus garis pertahanan musuh untuk membuka jalan bagi pasukan lainnya.

Adalah pasukan operasi khusus Amerika yang secara khusus dikenal sebagai “operator taktik khusus”, yang mengkhususkan diri pada semua aspek komunikasi udara, termasuk pengendalian lalulintas udara, dukungan persenjataan, melakukan kontrol, dan komunikasi secara rahasia.

Ditugaskan ke Skuadron Taktik Khusus dan Tim Taktik Khusus bersama Pasukan Khusus lainnya baik di dalam lingkup Angkatan Udara maupun Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Mereka digembleng untuk menghadapai berbagai medan, baik di air ketika ada operasi maritim, ataupun operasi penerjunan dari udara.

Pasukan ini juga sering ditugaskan secara individu atau sebagai tim ke satuan militer lainnya. Dalam sejarah militer amerika, dari tujuh penghargaan Air Force Cross yang diberikan sejak Perang Dunia Dua, lima diantaranya diberikan kepada CCT.

 

Penulis: Rizali Posumah/Tesa Filia Senduk/Novita Wenzen

Editor : Christo Senduk



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com