Dua Kepala Suku di Merauke Tabuh Genderang Perang di Batuputih

  • Share
zonautara.com
Penampilan dua kepala suku delegasi TN Wasur Merauke dalam HKAN 2018 (Foto: zonautara.com/Garry Kaligis)

BITUNG, ZONAUTARA.com – Tambur tanda siap berperang terdengar nyaring, sambil diikuti pekik peperangan dan gerakan melompat yang dilakukan kepala suku Marorimenggei, Wilhemus dan kepala suku Kanume, Yeremia.

Kedua kepala suku ini, lengkap dengan pakaian adat mereka, terlihat tetap dengan aksinya, di tengah-tengah kerumunan orang.

Pemandangan ini, terlihat saat pelaksanaan rangkaian puncak kegiatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018, yang dilaksanakan di TWA Batuputih, Kecamatan Ranowulu, Bitung, Kamis (30/8/2018).

Salah seorang delegasi Taman Nasinal (TN) Wasur Merauke, Yohanes, kepada Zona Utara menjelaskan tentang alasan pihaknya, memboyong kedua kepala suku tersebut untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Kami memboyong keduanya, karena mereka adalah pimpinan dari kedua suku, yang hidup bermukim serta memiliki hak adat dalam TN Wasur,” ujar Yohanes.

Menurutnya, dengan kehadiran kedua kepala suku ini, diharapkan mereka dapat menimbah ilmu terkait cara pelestarian lingkungan hidup, terutama hutan yang berada di lahan konservasi.

“Kami yakin, cara dari saudara-saudara kita Desa Batuputih, dalam upaya menjaga serta melestarikan lahan konservasi, terutama yang berada di kawasan TWA Batuputih ini, dapat diikuti kedua kepala suku ini,” kata Yohanes.

Dengan demikian, diharapkan bahwa masyarakat bukan lagi sebagai perambah atau perusak, namun sebaliknya justru menjadi pelindung.

Hal ini tentu akan berdampak positif, dimana semua potensi alam beserta satwa yang berada di lahan konservasi, terawat dengan baik dan dapat menjadi sumber pendapatan serta peningkatan ekonomi bagi masyarakat.

“Hal ini bisa terjadi, saat lokasi tersebut mendapatkan kunjungan dari para wisatawan, baik lokal maupun manca negara,” kata Yohanes.

Menurut Yohanes, banyak ilmu yang didapatkan pihaknya, lewat keikutsertaan delegasinya dalam kegiatan ini.

“Kami bisa mengetahui banyak tentang harmonisasi alam dan budaya, yang ditampilkan oleh peserta daerah lain, lewat kolaborasi mereka dalam upaya menjaga serta melestarikan lahan konservasi,” kata Yohanes.

Editor: Ronny Adolof Buol



  • Share

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com