Connect with us
Hosting Unlimited Indonesia

ZONA TERKINI

Jurnalis Perlu Jernihkan Perspektifnya Sebelum Menulis Isu Sensitif

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Senjata seorang jurnalis adalah karya jurnalistiknya. Melalui tulisan atau karya jurnalistiknya, seorang jurnalis bisa memberikan kontribusi bagi perubahan sosial. Itu sebabnya ada Kode Etik Jurnalistik yang dibuat untuk sebagai pedoman jurnalis ketika berkutat dengan pekerjaannya.

Pasal pertama Kode Etik Jurnalistik langsung mencantumkan wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk.

Alenia berikutnya dari pasal tersebut memberikan penafsiran; Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Kemudian berimbang, yang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara. Dan tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pencantuman sikap independen, akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk pada pasal pertama menunjukkan pentingnya memegang empat sikap itu ketika seorang jurnalis melakukan proses jurnalistik, mulai dari liputan, melakukan wawancara, hingga menuangkannya dalam bentuk karya.

Empat sikap itu meminta jurnalis tak mencampuradukkan fakta dan opini dalam proses pekerjaannya, juga meminta jurnalis jernih dalam melihat persoalan. Terutama dalam liputan-liputan khusus yang terkait isu yang sensitif seperti SARA, hingga isu sosial seperti LGBT.

Pentingnya menjernihkan perspektif jurnalis saat bekerja, membuat Aliansi Jurnalis Independen bekerjasama dengan Ardhanari Institute sepakat mengadakan workshop yang dilanjutkan dengan lesson learn bertema “Keberagaman Gender dalam Perspektif HAM.”

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen Abdul Manan mengatakan, sebelum menulis dan menayangkan karya jurnalistiknya, seorang wartawan perlu menjernihkan perspektifnya.

Workshop Keberagaman Gender dalam perspektif HAM, menurut Abdul Manan, menjadi tempat yang tepat bagi seorang wartawan untuk melihat isu-isu keberagaman gender dengan perspektif netral dan humanis.

“Prinsip Kode Etik AJI adalah bagian dari komitmen dan tanggung jawab etik kita sebagai wartawan, untuk menempatkan kelompok minoritas dalam porsi yang benar dan profesional. AJI membela semua kelompok yang HAM-nya tertindas. AJI membela hak kelompok minoritas,” ujar Abdul Manan ketika menyampaikan sambutannya dalam lesson learn sebagai bagian “Keberagaman Gender dalam Perpsektif HAM” yang digelar di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Abdul Manan menambahkan, bagi orang awam, memberikan stigma apalagi stigma negatif masih mungkin terjadi. Tapi hal tersebut pantang dilakukan oleh jurnalis. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh AJI adalah bagian dari cara AJI memberikan perspektif yang jernih pada jurnalis, agar mampu menyampaikan karya jurnalistik tanpa menghakimi.

Komisioner Komnas HAM Muhammad Nurkhoiron juga menilai, saat ini segala bentuk diskriminasi terhadap kelompok LGBT makin meluas dan sistematis.

Menurut dia, tindakan diskriminatif terhadap kelompok LGBT terjadi karena masih banyak orang yang menganggap LGBT merupakan bagian dari penyakit mental yang harus disembuhkan.

Pemerintah sebagai pengambil kebijakan seharusnya bisa memberikan informasi yang benar terkait LGBT, sehingga tidak memunculkan beragam stigma negatif dan prasangka buruk. Sayangnya itu belum terjadi.

“Padahal negara wajib melindungi secara khusus, dengan afirmative action. Saat ini kita mengalami kevakuman HAM. Hampir semua pasal dalam konstitusi kita tidak ada turunan perspektif HAM,” ujarnya.

Nurkhoiron menilai, kelompok LGBT adalah kelompok minoritas, yang malah sering menjadi sasaran kebijakan yang tidak berperspektif HAM. Menurut dia, perkembangan kasus LGBT di Indonesia mengalami kemunduran karena LGBT selalu dikaitkan dengan persoalan agama.

“Sewaktu UNDP menarik dananya hingga US$3 juta, saya sangat menyayangkan itu. Apalagi program yang terkait dengan isu LGBT ternyata hanya lima persen dari anggaran sebesar itu. Setelah kasus itu saya bertemu dengan banyak pihak dan juga menyurati Bappenas. Ternyata jawaban mereka semua hampir sama dengan MUI. Mereka menjawab, kasus ini mengganggu konstitusi,” ujar Nurkhoiron.

Ia menyedihkan terjadinya berbagai kasus penyerangan, kesewenang-wenangan dan kekerasan terhadap kelompok LGBT. Dia menengarai, stigma dan tuduhan soal LGBT lebih bersifat pragmatis dan politis.

Dalam lesson learn tersebut, 20 jurnalis yang hadir dari berbagai kota di Indonesia juga saling berbagi pengalaman mereka saat melakukan liputan mengenai LGBT. Hal yang nyaris sama yang mereka sampaikan adalah banyak narasumber dari kelompok LGBT yang akhirnya mundur teratur karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya, teman-teman mereka dan keluarganya.

Para jurnalis ini juga saling mengonfirmasi, bahwa isu LGBT kerap tinggi intensitasnya menjelang Pilkada, Pileg dan Pilpres.

“Sepertinya setiap menjelang pesta politik, isu LGBT kembali ramai dengan berbagai hoaxnya,” ujar Ervan, peserta dari Jakarta.

Menyadari isu ini bukan lagi isu sosial, namun sudah menjadi ‘gorengan politik,’ para jurnalis sepakat menahan diri untuk tidak meneruskan atau mempublikasian informasi apapun yang tak jelas soal LGBT, kecuali mereka sudah berhasil melakukan konfirmasi. Mereka juga sepakat untuk tak larut dalam pemberitaan masif soal LGBT, kecuali mengedepankan pertimbangan HAM.

Editor : Christo Senduk

Hukum dan Kriminal

Pilot ini ditangkap polisi karena sebarkan ujaran kebencian jelang 22 Mei

Polisi menangkapnya di Surabaya, karena memposting ujaran kebencian di Facebook-nya.

Published

on

IR, Pilot penerbangan swasta yang sebarkan ujaran kebencian melalui Facebook nya(Dokumentasi Polres Jakarta Barat) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sebarkan Ujaran Kebencian dan Hasutan, Seorang Pilot Ditangkap Polisi ", https://megapolitan.kompas.com/read/2019/05/20/05171911/sebarkan-ujaran-kebencian-dan-hasutan-seorang-pilot-ditangkap-polisi. Penulis : Jimmy Ramadhan Azhari Editor : Kurnia Sari Aziza

ZONAUTARA.com – Polisi menangkap seorang pilot dari salah satu maskapai penerbangan swasta, karena menyebarkan ujaran kebencian melalui akun media sosialnya.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edy Suranta Sitepu mengakui penangkapan itu, sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Pilot berinisial IR tersebut ditangkap di Surabaya, Jawa Timur pada sabtu (18/5/2019).

“Benar, kami telah menangkap seorang pilot yang menyebarkan ujaran kebencian di media sosial dan melanggar UU ITE,” kata Edy melalui keterangan tertulis kepada Kompas.com, Minggu (19/5/2019) malam.

IR dalam unggahannya menyebarkan konten ujaran kebencian serta narasi yang mengandung teror, hasutan dan menimbulkan ketakutan.

Salah satu pesan yang disebarkan IR adalah menghasut warga melakukan perlawanan pada 22 Mei 2019, saat pengumuman resmi hasil rekapitulasi pemilu oleh KPU RI.

“Catat…. Siapapun yang dimenangkan oleh KPU 22 Mei 2019 yang akan datang…. Benturan dan kerusuhan tetap akan terjadi dan yakinlah bahwa korban tidak akan sedikit….” tulis IR dalam akun Facebook-nya.

Selain itu, IR juga telah menyebar berita hoaks, salah satunya berjudul, “Polri Siap Tembak di Tempat Perusuh NKRI”.

“Saat ini masih kami dalami motif pelaku menyebarkan ujaran kebencian atau hate speech di medsos tersebut,” ujar Edy.

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Hosting Unlimited Indonesia

Trending