Tragedi Lion Air: 73 Kantong Jenazah, Penyelam Gugur, Mesin Pesawat Terdeteksi

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Hingga Sabtu (3/11/2018) sudah sebanyak 73 kantong jenazah berhasil dikumpulkan oleh tim SAR. Jumlah itu merupakan catatan di RS Polri pada Jumat (2/11) malam.

Seluruh kantong jenazah yang dikumpulkan dari berbagai unit tim pencari, dibawa ke RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur. Jumlah kantong jenazah yang terkumpul tidak mencerminkan jumlah korban yang sudah ditemukan.

Karena dalam satu kantong jenazah tidak berisi jasad korban secara utuh. Hampir semua korban ditemukan dalam kondisi tubuh yang terpenggal-penggal.

Kondisi jasad korban seperti itu, membuat Tim Disaster Victim Identification (DVI) harus bekerja lebih keras untuk mengindentifikasi korban.

Sejauh ini, Tim DVI RS Polri baru berhasil mengindentifikasi empat jenazah penumpang pesawat Lion Air dengan registrasi PK-LQP itu.

Keempat korban itu adalah Jannatun Cyntia Dewi, Candra Kirana, Monni, dan Hizkia Jorry Saroinsong.

Seluruh jenazah yang telah diidentifikasi langsung diserahkan kepada pihak keluarga.

Dinukil dari beritagar.id, pada hari ini tim SAR berhasil mengirim kembali 10 kantong berisi potongan tubuh korban dan tiga bagian pesawat Lion Air dari Posko Tanjung Pakis di Karawang.

Menurut Kasubdit Dokpol Polda Jawa Barat, AKBP Nelson, di Tanjung Pakis, ditemukan pula sejumlah barang milik korban pada Jumat (2/11) malam.

“Roda dan puing-puing pesawat sudah kita berikan dan dibawa ke JICT. Kita akan mengangkat puing-puing yang sudah terdeteksi keberadaannya,” ujar Panglima Komando Armada I TNI AL Laksamana Muda TNI Yudo Margono.

Satu Penyelam Gugur

Upaya pencarian korban dan badan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 itu menewaskan salah satu anggota tim pencari.

Penyelam Indonesia Diver Rescue Team, Syachrul Anto meninggal dunia saat mengevakuasi korban dari serpihan pesawat. Anto diduga terserang dekompresi saat menyelam.

Salah satu saksi mata menyebutkan, melihat Anto ikut turun pada operasi kemarin. Dia membantu menaikan serpihan pesawat. Sekitar 10 menit kemudian, atau sekitar pukul 16.40 WIB, penyelam lain sempat melihat Anto berada di bawah serpihan.

“Kemudian diangkat, kan lumpur pada naik. Tadinya di menit ke-11, kemudian sudah enggak ada nadinya. Dipikir sudah naik duluan, dia nyusul, dia naik, di atas dia melihat kawannya terlihat mungkin agak mirip (Anto). Jadi belum dilaporkan,” kata saksi sebagaimana dikutip dari kumparan.com, Sabtu (3/11).

Disaat bersamaan, Kapal Basarnas melihat ada tabung mengapung di belakang kapal. Tim Basarnas pun mencoba mendekat untuk melihat apakah ada penyelam atau hanya tabung saja.

“Saat diangkat, ternyata korban. Dokter pun turun, lalu dibawa ke Kapal Victory,” lanjut saksi.

Dari kapal tersebut, Anto kemudian langsung dibawa ke RSUD Koja. Namun, dalam perjalanan, sekitar pukul 19.30 WIB, Anto sudah mengembuskan napas terakhir.

Pukul 22.30 WIB, Anto dinyatakan telah meninggal dunia oleh dokter jaga IGD RSUD Koja. Atas rekomendasi dokter, jenazah Anto disarankan untuk diautopsi agar diketahui secara pasti penyebab kematiannya.

Namun, keluarga Anto menolak dan memilih untuk segera membawa jenazah Anto pulang untuk disemayamkan.

Mesin Pesawat Terdeteksi

Sementara itu Kompas.com memberitakan Tim Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut menemukan benda yang diduga merupakan mesin pesawat Lion Air PK-LQP, di perairan Karawang, Jawa Barat.

“Berdasarkan hasil penyelaman kemarin, tim Kopaska TNI AL berhasil menemukan yang diduga mesin pesawat Lion Air PK-LQP,” tutur Komandan Satuan (Dansat) Kopaska Koarmada I, Kolonel Laut (P) Johan Wahyudi.

Hingga saat ini, titik koordinat benda tersebut telah diamankan dan akan diangkat dengan alat yang memadai.

 

Editor: Ronny Adolof Buol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.