Connect with us

Siapa Dia

Gita Waloni dan Kisahnya Menempuh Ribuan Kilometer Saat Bencana Palu (5)

Published

on

Melakukan perjalanan subuh, membuat kami harus menembus hawa yang dingin. Namun disisi lain, kami mendapatkan udara yang segar dan pemandangan aktifitas warga kala pagi.

Kecamatan Isimu adalah persimpangan dari arah Manado di Kabupaten Gorontalo untuk menuju Sulawesi Tengah. Tempat istirahat kami sebelumnya berjarak sekitar 20 kilometer dari terminal bus Isimu.

Kami kemudian memilih istirahat sejenak di Tilamuta sambil mengisi bahan bakar pada pukul 6.00 sebelum melanjutkan kembali perjalanan 30 menit kemudian.

Baca: Kisah Perjalanan Kita bagian 4

Saat jeda itu, saya membaca email dari Alyshia. Dia mengirimkan form persetujuan penugasan yang harus saya tandatangani dan juga panduan memotret sesuai dengan yang mereka inginkan.

Saya hanya membacanya sekilas dan berencana untuk mempelajarinya pada pemberhetian berikutnya. Alyshia juga menghubungi lewat Whatsapp menanyakan posisi kami apakah sudah dekat Palu.

Dia terkejut ketika saya menerangkan rute perjalanan kami. Dia baru sadar bahwa jarak Manado ke Palu itu lebih dari 1000 kilometer. Namun dia berharap saya bisa tiba secepatnya.

Ditambah dengan harapan Pingkan Mandagi dan beberapa pesan dari orang lain, kami semakin terlecut untuk segera sampai di Palu.

Saya meminta Gita untuk sesering mungkin minum air guna menjaga kebugaran. Kami memacu sepeda motor menuju Popayato. Usai berkendara selama tiga jam, saya meminta Gita menepi.

Ada sebuah pondok seadanya di tepi jalan. Pondok itu hanya beratapkan daun kelapa. Kami memarkir sepeda motor di depan, dan mengeluarkan kompor portable. Gita memanaskan air dan membuat kopi. Jam menunjukkan pukul 9.35 Wita, sudah 580 KM kami tempuh saat berhenti di Popayato.

Seduhan kopi dan roti menjadi sarapan yang terasa sangat nikmat serta menjadi energi yang cukup. Terik matahari terasa mulai menyengat.

Tempat istirahat kami cukup sepi, lalu lalang kendaraan hanya beberapa. Sesekali terlihat rombongan kendaraan polisi dan tentara. Mereka juga menuju Palu. Beberapa juga adalah rombongan relawan, terlihat dari spanduk yang digantung di badan mobil.

Kesempatan istirahat itu kami gunakan untuk mempelajari email dari Alyshia. Ada sebuah dokumen yang berisi apa yang harus difoto secara detil. Permintaannya cukup ketat. Dalam email itu juga diikutkan dokumen yang harus ditandatangi orang yang ada di dalam foto. Mereka harus menyatakan persetujuaan foto yang memuat wajah mereka dipublish.

Tentu ini akan menjadi pekerjaan tambahan saat saya harus memotret di tengah bencana dan situasi emosional orang. Tapi syarat itu harus dipenuhi.

Usai membalas email, kami berkemas lalu melanjutkan perjalanan pada pukul 10.35 WITA. Masih ada 500an kilometer lagi yang harus dilewati.

Alyshia semakin tidak sabar menunggu kiriman foto langsung dari lokasi bencana.

(Bersambung)

Bagikan !

Siapa Dia

Stev, koreografer yang selalu sabar

Satu di antara banyak karyanya adalah koreografer Festival Pesona Selat Lembeh, Kota Bitung

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Bagi kalangan pegiat carnaval, nama Stevi Rico Koraag sudah tidak asing. Selain dikenal sebagai pembuat baju carnaval, Stev, sapaan akrabnya, juga terkenal sebagai seorang model carnaval dan koreografer.

Satu di antara banyak karyanya adalah koreografer Festival Pesona Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), yang dilaksanakan pekan pertama Oktober 2019. Ada tiga tarian kolosal yang digarapnya, yaitu Pukul Tambor, The Garden of Fish, dan Maengket.

zonautara.com
Latihan tarian di atas kapal untuk pembukaan Festival Selat Lembe 2019.(Image: Abi Hasantoso)

Dengan bermodalkan segudang pengalaman, seperti Jember Fashion Carnaval, selama sebulan Stev tidak terlalu kesulitan melatih 450 siswa-siswi SD dan SMP yang berasal dari SMP Negeri 1 Bitung dan SMP Negeri 2 Bitung.

“Tarian kolosalnya bagi dalam tiga segmen. Pada bagian pembukaan saya menampilkan tari Pukul Tambor. Dilanjutkan dengan tari tema festival The Garden of Fish,” kata Stev.

Pada bagian puncak ia sengaja menampilkan tari Maengket. Tarian tersebut merupakan tari khas adat dari Minahasa sebagai bentuk ucapan rasa syukur setelah panen padi yang dilakukan sembari bernyanyi.

Menangani anak-anak dalam latihan, menurut Stev, perlu banyak kesabaran. Biasanya dalam garapan kolosal anak-anak bermasalah pada hafalan gerakan dan susah mengikuti instruksi.

“Namun saya berusaha tetap sabar dan santai menghadapi anak-anak,” ujar anggota Asosiasi Carnaval Indonesia ini.

Stev sendiri mengaku menyukai dunia tari sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ia lalu serius menggeluti tari selama dua puluh tahun hingga dipercaya sebagai koreografer. Selain sibuk menjadi pelatih tari ia juga menjadi perancang busana.

Ia baru tiga tahun kembali ke kampung halamannya di Sulut. Sebelumnya Stev sejak SD hingga kuliah menetap di Kota Batam, mengikuti orang tuanya. Setelah pulang, Stev bertekad memajukan dunia tari di kampung halamannya.

“Di Batam saya bisa membangun tari di sana, masa daerah sendiri tidak bisa,” kata sosok yang tahun 2019 ini sempat meramaikan ajang Del Oriente, Italia.

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com