Connect with us

Siapa Dia

Gita Waloni dan Kisahnya Menempuh Ribuan Kilometer Saat Bencana Palu (4)

Published

on

zonautara.com

Menjelang tengah malam, kami memasuki Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara. Jalanan sudah sepi. Kami menepi mengisi bahan bakar di Kwandang.

Bapak yang menjual bahan bakar di botolan eceran merasa keheranan saat tahu kami akan menuju Palu. Sejak dari Atinggola, sebuah sepeda motor lainnya terus mengikuti kami.

Nanti saat di Kwandang dan sama-sama mengisi bahan bakar, kami tahu bahwa pria di sepeda motor itu akan menuju Marisa.

Tangki bahan bakar full, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pada pukul 2 dinihari, saya menepikan sepeda motor. Saya meminta Gita memarkir sepeda motornya. Posisi kami sudah di Isimu.

Baca: Kisah Gita bagian ke-3

Ada gazebo di tepi jalan yang kami pilih untuk beristirahat. Di Gorontalo, orang suka membangun gazebo di depan rumah. Saya meminta Gita tidur. Sudah 378 KM kami tempuh saat beristirahat di Marisa itu.

Saya mengecek kondisi sepeda motor, dan Gita mulai terlelap. Saya menyiapkan semua peralatan sejak dari rumah, termasuk head lamp, yang mode lampu merahnya saya nyalakan dan gantung di gazebo.

Beberapa kali warga melintas. Saya berusaha menyapa dan meminta ijin untuk beristirahat. Tidak ada kekhawatiran kami saat tidur di gazebo itu. Toh niat kami baik, itu selalu saya jelaskan ke Gita.

Pukul 4 saya membangunkan Gita. Suara orang membaca Al-Quaran di masjid terdengar jelas dari pengeras suara. Beberapa warga melintas hendak shalat di masjid. Kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Signal seluler yang masih bagus, saya gunakan untuk mengupdate berita dari Pasigala. Ini sudah hari kedua pasca Sulawesi Tengah diguncang gempa dan tsunami.

Sejak saya menggungah status hendak ke Palu, salah satu teman yang terus melakukan komunikasi adalah Pingkan Mandagi. Subuh itu saat saya bangun, pesan WhatsAppnya masuk kembali.

Pingkan mendoakan keselamatan kami menuju Palu. Dia juga berharap kami segera mendapat informasi dari Palu. Sejauh ini, kabar dari adiknya Petra Mandagi masih simpang siur.

Petra dan beberapa atlit paralayang dari Sulut sedang berlomba dalam kejuaraan paralayang di Palu. Mereka tinggal di Hotel Roa Roa, yang dalam tayangan televisi roboh akibat gempa.

Selain Pingkan, beberapa orang juga mengirimkan pesan lewat massanger Facebook. Mereka berharap kami membantu mencari informasi keberadaan sanak saudara mereka.

Komunikasi ke Palu memang masih sangat terbatas di hari kedua pasca bencana itu. Saya pun belum mendapat kabar apapun dari Palu secara langsung, termasuk dari anak saya.

Usai berbenah saya dan Gita melanjutkan kembali perjalanan. Pukul 4.20 WITA sepeda motor kembali kami pacu ke arah Marisa.

(Bersambung)

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

Siapa Dia

Stev, koreografer yang selalu sabar

Satu di antara banyak karyanya adalah koreografer Festival Pesona Selat Lembeh, Kota Bitung

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Bagi kalangan pegiat carnaval, nama Stevi Rico Koraag sudah tidak asing. Selain dikenal sebagai pembuat baju carnaval, Stev, sapaan akrabnya, juga terkenal sebagai seorang model carnaval dan koreografer.

Satu di antara banyak karyanya adalah koreografer Festival Pesona Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), yang dilaksanakan pekan pertama Oktober 2019. Ada tiga tarian kolosal yang digarapnya, yaitu Pukul Tambor, The Garden of Fish, dan Maengket.

zonautara.com
Latihan tarian di atas kapal untuk pembukaan Festival Selat Lembe 2019.(Image: Abi Hasantoso)

Dengan bermodalkan segudang pengalaman, seperti Jember Fashion Carnaval, selama sebulan Stev tidak terlalu kesulitan melatih 450 siswa-siswi SD dan SMP yang berasal dari SMP Negeri 1 Bitung dan SMP Negeri 2 Bitung.

“Tarian kolosalnya bagi dalam tiga segmen. Pada bagian pembukaan saya menampilkan tari Pukul Tambor. Dilanjutkan dengan tari tema festival The Garden of Fish,” kata Stev.

Pada bagian puncak ia sengaja menampilkan tari Maengket. Tarian tersebut merupakan tari khas adat dari Minahasa sebagai bentuk ucapan rasa syukur setelah panen padi yang dilakukan sembari bernyanyi.

Menangani anak-anak dalam latihan, menurut Stev, perlu banyak kesabaran. Biasanya dalam garapan kolosal anak-anak bermasalah pada hafalan gerakan dan susah mengikuti instruksi.

“Namun saya berusaha tetap sabar dan santai menghadapi anak-anak,” ujar anggota Asosiasi Carnaval Indonesia ini.

Stev sendiri mengaku menyukai dunia tari sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ia lalu serius menggeluti tari selama dua puluh tahun hingga dipercaya sebagai koreografer. Selain sibuk menjadi pelatih tari ia juga menjadi perancang busana.

Ia baru tiga tahun kembali ke kampung halamannya di Sulut. Sebelumnya Stev sejak SD hingga kuliah menetap di Kota Batam, mengikuti orang tuanya. Setelah pulang, Stev bertekad memajukan dunia tari di kampung halamannya.

“Di Batam saya bisa membangun tari di sana, masa daerah sendiri tidak bisa,” kata sosok yang tahun 2019 ini sempat meramaikan ajang Del Oriente, Italia.

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading
Advertisement

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com