Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

Manfaatkan Sampah Plastik Jadi Penghasil Ekonomi

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jendral (Ditjen) Konservasi dan Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE), serta Ditjen Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) menggelar kegiatan bersih-bersih Pantai Bahowo, di Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Kamis (11/8/2018).

Kegiatan bertajuk ‘Let’s Sing and Beat Plastic Pollution’ ini pun dihadiri Anggota DPR RI dari Komisi VII Bara K. Hasibuan Walawengko.

Direktur Jenderal (Dirjen) PSLB3 Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk sosialisasi untuk mengurangi sampah plastik.

Menurut Ratnawati, kegiatan tersebut pun merupakan upaya untuk mengedukasi masyarakat dalam hal pengelolaan sampah.

“Dengan adanya kegiatan ini, kami dapat mengedukasi masyarakat agar dapat hidup bersih dan mendayagunakan sampah menjadi salah satu penghasil ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, Hasibuan kembali menekankan, bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Sampah plastik yang berhasil diangkat oleh masyarakat di Pantai Bahowo. (Foto: zonautara.com)

Dia pun berharap, agar masyarakat semakin bijak dalam menggunakan plastik agar tidak berdampak pada lingkungan.

Kegiatan yang turut dihadiri Kepala Balai Taman Nasional Laut Bunaken Farianha Parbandari ini pun menghadirkan bintang tamu Bass Gilano, Stay Lin dan Lian Karabo.

Sejumlah pihak pun turut terlibat dalam kegiatan bersih-bersih di Pantai Bahowo yang merupakan wilayah dari Taman Nasional Bunaken, yakni personel TNI AL dari LANTAMAL VIII, Polsek Bunaken, Pemerintah Kecamatan Bunaken Barat, Kelurahan Tongkaina, Hukum Tua dan masyarakat Bahowo, serta Mahasiswa Universitas Katolik Dela Salle Manado.

Diketahui, berdasarkan data Indonesian Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memang merupakan negara penghasil plastik kedua terbesar di dunia.

Di mana, sampah plastik yang dihasilkan di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Bahkan, sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Tidak hanya itu, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan pun sekitar 10 miliar lembar per tahun atau 85.000 ton kantong plastik.

 

Penulis : Gita Waloni

Editor : Christo Senduk

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lingkungan dan Konservasi

Netizen ribut. Sampah dari acara pembukaan Manado Fiesta 2019 salah siapa?

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Acara pembukaan rangkaian event Manado Fiesta 2019 menyisahkan masalah sampah yang tak sedap dipandang mata. Pada Minggu (28/07/2019) sampah-sampah dari kegiatan itu masih menghiasi kawasan Megamas yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan, baik di tenda undangan maupun di titik lain.

Zona Utara yang menurunkan tiga wartawan di area pelaksanaan kegiatan di kawasan Megamas, Sabtu (27/07/2019), mendapati banyak sampah dibuang begitu saja oleh pengunjung. Ada juga di antaranya yang punya kesadaran lingkungan, seperti yang terpantau dua orang pengunjung perempuan separuh baya yang bingung mencari tempat sampah. Mereka berdua terpaksa melintas keluar pagar pembatas yang dijaga panitia kegiatan saling menggerutu akibat kesal sampah yang sedang di tangan mereka akan dibuang ke mana.

Jelang hari sudah gelap saat kegiatan tengah berlangsung terpantau juga ada petugas kebersihan yang sibuk membersihkan sampah-sampah yang bertebaran di mana-mana.

Hal tersebut sontak mendapat tanggapan beragam dari netizen, terutama pengguna Facebook. Akun ChrisTian Sojow 1, misalnya, memberikan tanggapan bahwa sekalipun memakai petugas kebersihan yang berasal dari beberapa kabupaten/kota tapi kalau kesadaran membuang sampah pada tempatnya tidak ditanam di dalam pikiran masing masing maka akan percuma.

“Jangan salahkan Manado kotor kalo torang (kita, red) masih belum sadar membuang sampah pada tempatnya,” tulis akun itu.

Kalau akun bernama Uchi menulis mengenai sampah dari kegiatan Manado Fiesta 2019 diakibatkan kurangnya kesadaran masyarakat dan kurangnya antipasi panitia dalam menyediakan banyak tempat sampah. Akun Akbar Doating malah membandingkan Kota Manado dengan Kota Bitung.

“Kenapa Bitung bisa terus Manado nda (tidak, red) bisa? Berarti kurangnya himbauan dan ketegasan masalah sampah,” tulisnya.

Baca juga: Tak ada sampah di area Festival Tangkoko, Petugas kebersihan pun ikut bawa tumbler

Sampah bertaburan usai acara pembukaan Manado Fiesta 2019 di kawasan Megamas.(Foto: Eko/Pacific Waste Conference)

Akun Ireine Buyung menulis, apabila pihak penyelenggara sudah antisipasi dengan menyediakan tempat sampah di banyak titik, paling tidak bisa mengurangi volume sampah.

“Ya, boleh dong ditambah sedikit anggarannya. Sedikit saja. Nda perlu kase sama deng harga 1 mobil hias Rp. 175jt noh. Malo doo, so lia keranjang sampah kong malas pi buang. (Tidak perlulah disamakan dengan harga 1 mobil hias Rp 175 juta. Malu dong, sudah lihat keranjang sampah tapi malas mau dibuang, red).

Kepala Dinas Pariwisata Manado Lenda mengatakan, petugas kebersihan sudah langsung bekerja malam itu.

“Tapi volume sampah banyak sehingga tak semua bisa langsung diangkut,” kata Lenda.

Editor: Rahadih Gedoan

Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com