Connect with us

Hukum dan Kriminal

Pria ini akui bunuh 90 perempuan, dan tidak menyesal

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Pengakuan mengejutkan datang dari seorang psikopat Samuel Little, warga Amerika Serikat yang kini berusia 78 tahun.

Pengakuan itu disampaikan Little kepada petugas Texas Ranger, James Holland yang menemui Little dipenjara Los angeles County.

Sebelumnya pada 2014, hakim memvonis Litlle hukuman penjara selama tiga kali hukuman seumur hidup untuk kasus pembunuhan tiga perempuan yang terjadi pada 1985 dan 1987.

Awalnya petugas mengalami kesulitan mencari pelaku para korban. Hingga pada 2012, Little ditangkap di Kentucky dan diekstradisi ke California karena kasus obat-obat terlarang.

DNA Little diambil dan coba dicocokan dengan korban yaang ditemukan kepolisian Los Angeles pada tiga korban perempuan itu.

Little awalnya menyangkal, namun hakim yakin dialah pembunuhnya dan mengirimkan Little untuk mengakhiri hidupnya di penjara.

Holland yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan seorang perempuan di Odessa, Texas bernama Denise Chistie Brothers, menemukan DNA Little cocok dengan jejak yang ditemukan di korban.

Holland ternyata bisa mengambil hati Little, hingga pengakuan mengejutkan keluar dari mulutnya. Terpidana yang sudah duduk di kursi roda ini kemudian bersedia menceritakan semua pembunuhan yang sudah dilakukannya.

Little waktu itu memberi syarat, FBI bisa memindahkannya ke penjara di Texas.

Pria berasal dari Ohio, negara bagian kawasan barat tengah AS ini mengakui telah membunuh sebanyak 90 perempuan. Itu dilakukannya sepanjang periode 1970 hingga 2015 di 14 negara bagian. Semua korbannya adalah perempuan dan sebagian besar berkulit hitam.

Jika terbukti benar, maka Little akan memegang rekor pembunuh berantai dengan korban terbanyak di AS. Sebelumnya Gary Ridgeway mendapat julukan “Green River Killer” karena terbukti membunuh 48 korban selama periode 1982-2001.

Little yang pernah menadi petinju sudah sering berurusan dengan polisi sejak 1956 karena kasus pencurian, penipuan, obat-obatan terlarang, penghasutan dan menerobos properti orang.

Selama 50 tahun, Little setidaknya sudah 100 kali ditangkap dan dipenjara. Korbannya kebanyakan adalah perempuan yang termarginalkan. Mereka yang lari dari rumah, hidup di jalanan, pemabuk, pecandu obat-obatan terlarang atau pekerja seksual.

Selama periode Little melakukan pembunuhan, memang banyak kasus yang tidak bisa diungkap oleh kepolisian. waktu itu metode pembuktian dengan teknologi DNA belum menjadi alat identifikasi polisi.

Meski Little tidak bisa lagi mengingat semua tanggal kejadiannya, namun pengakuannya kepada Holland merinci soal detail tempat, mobil yang dikendarainya dan tindakan yang dilakukannya. Ia bahkan bisa menggambar wajah para korbannya.

Kini para petugas yang menyelidiki kasus pembunuhan yang kekurangan bukti bergantian mendatangi Little. Mereka berharap mendapat kecocokan dengan pengakuan Little.

Hingga kini sudah ada 34 kasus pembunuhan yang bisa terhubung dengan Little. Sisanya masih diselidiki secara intensif.

Para polisi yang menginterogasi Little mengakui, bahwa pria ini adalah psikopat yang memikat bagi para korbannya. Little juga tidak sedikitpun menyesali perbuatannya.

“(Little) berkata Tuhan membuatnya begini, jadi mengapa ia harus meminta pengampunan? Ia menyatakan Tuhan mengetahui segala perbuatannya,” Sersan Crystal LeBlanc dari Kepolisian Opelousas, Lousiana, mengulang jawaban Little saat ditanya apakah ia tak takut dosa dan Tuhan.

LeBlanc menginterogasi Little terkait pembunuhan warga Opelousas, Melissa Thomas pada Januari 1996. Thomas saat itu berusia 24 tahun.

Pembunuhan puluhan orang yang tak terdeteksi selama puluhan tahun ini, menurut FBI, harus menjadi pengingat kepada semua yurisdiksi tentang pentingnya melaporkan data kejahatan dengan kekerasan.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Advertisement
3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: link 88

  2. Pingback: Thaimassage København

  3. Pingback: Dream Market Deutsch

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Hukum dan Kriminal

Imbas kerusuhan di Lapas Manado, ada narapidana meninggal

Kerusuhan terjadi pada Sabtu, 11 April 2020.

Bagikan !

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.COM – Satu warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Manado meninggal dunia imbas kerusuhan yang terjadi pada Sabtu (11/4/2020).

Belum diketahui apakah narapidana tersebut meninggal saat sedang terjadi kerusuhan atau ketika dilarikan ke rumah sakit.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sulut, Lumaksono saat ditanyakan tentang kejadian tersebut tidak mengelak.

“Tapi kita belum bisa memastikan penyebab kematiannya, apakah karena sedang sakit atau akibat kekerasan,” ujar Lumaksono, Minggu (12/4) saat dikonfirmasi wartawan.

Narapidana yang dimaksud bernama Edgar Atnas, berusia 39 tahun, warga negara Filipina dengan kasus pidana perlindungan anak.

“Kita juga akan memastikan apakah dia warga negara asing atau sudah menjadi warga negara Indonesia,” jelas Lumaksono.

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com