Huntara Silae baru dihuni 30 keluarga

zonautara.com

PALU – Hunian sementara (huntara) yang dibangun di Kelurahan Silae telah rampung. Tak hanya bilik kamar, fasilitas lainnya seperti MCK dan bak penampungan air pun tersedia.

Hunian itu sedianya menampung para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa dan tsunami. Namun ternyata, hunian yang berdiri di atas lapangan sepakbola tersebut belum semuanya dihuni oleh pengungsi.

Hunian sementara yang dibangun di Kelurahan Silae berjumlah 10 unit yang berisi 120 bilik. Dari 120 bilik kamar yang tersedia, baru 30 unit kamar yang telah dihuni oleh pengungsi, atau baru sekitar 25 persen dari total bilik.

Nila, pegawai kantor Kelurahan Silae, mengatakan, saat huntara diresmikan pada pertengahan Desember lalu, baru tiga unit yang siap untuk dipakai dan diterima dari pihak PT Brantas Abipraya (Persero), sebagai pelaksana kepada Kementerian PUPR.

Tujuh unit huntara lainnya, belum diserahterimakan kepada pemerintah. Meskipun tujuh unit tersebut telah selesai dibangun dan siap untuk dihuni.

“Baru tiga unit atau 36 bilik yang diserahterimakan dari Abipraya ke PUPR,” kata Nila.

Menurut dia, akan ada tahap kedua untuk pengisian huntara, sembari menunggu serahterima ke pemerintah serta hasil pendataan warga yang terdampak bencana. Tahap kedua tersebut rencananya akan berlangsung pada Januari 2019 mendatang.

Mereka yang kini bermukim di huntara Silae merupakan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat hantaman gempa dan gelombang tsunami.

Pengungsi yang belum menempati huntara, sebagian masih menumpang di rumah kerabat. Masih ada pula yang berada di tenda pengungsian.

Agustin merupakan salah satu pengungsi yang hingga kini belum menempati huntara Silae. Hingga kini ia masih menumpang dengan sanak saudara yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Meski demikian ia tetap bersabar untuk menanti kapan waktunya tiba untuk tinggal di huntara.

“Masih ada sebagian yang tinggal dengan keluarga. Termasuk saya juga masih dengan keluarga,” ucap Agustin.

Saat kami bergerak menuju huntara Silae, kami menemui seorang penghuni huntara bernama Fatmawati. Wanita yang berprofesi sebagai dosen di IAIN Palu tersebut sudah beberapa hari menempati huntara.

Menurut dia, saat pendataan tahap pertama baru 30 keluarga yang dimasukkan ke dalam huntara. Namun di antara itu masih ada beberapa keluarga yang belum menempati huntara karena akses air yang kurang lancar.

“Ada beberapa yang belum masuk karena air belum lancar. Karena air ini kebutuhan pokok,” ucap Fatmawati.

Meski tersedia sepuluh tandon penampungan air berukuran besar di huntara tersebut, namun tidak setiap hari pasokan air disalurkan ke huntara. Penampungan air tersebut lebih sering kosong dalam waktu yang cukup lama.

Reporter: Zulrafli Aditya
Editor: Ika Ningtyas

Kabar Dari Palu



Konten dalam artikel ini direpublish dari Halaman Facebook Kabar Sulteng Bangkit

Kabar Sulteng Bagnkit adalah media tempat berbagi kabar tentang Palu dan sekitarnya pascabencana alam pada 28 September 2018. Halaman ini dikelola oleh AJI Indonesia dan Internews dengan melibatkan para jurnalis anggota AJI Palu.
Ingin menghubungi redaksi atau memberikan informasi terkait penanganan pascabencana silahkan kontak WA: 0813-4466-5586 atau Email: bangkitlahsulteng@gmail.com.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.