Connect with us

KABAR DARI PALU

Mengingat jejak bencana dengan foto dan arsip

Published

on

zonautara.com

PALU – Sebanyak 40 foto berjejer melingkari sudut pameran. Lembaran kliping dan dokumen-dokumen berusia tua tersusun rapi di atas meja.

Puluhan foto itu hasil bidikan para jurnalis dan fotografer asal Sulawesi Tengah, Basri Marzuki (LKBN Antara), Ruslan Sangadji (The Jakarta Post) dan Zainal Ishaq (Pasific Press).

Foto-foto itu diambil dalam rentang tiga bulan, saat Kota Palu berada dalam masa darurat setelah bencana hingga kemudian memasuki masa pemulihan. Jejeran foto ini ibarat menggambarkan garis waktu bencana kelam yang terjadi 28 September lalu.

Pameran foto itu berada di antara diskusi yang dihelat Kabar Sulteng Bangkit di sekretariat AJI Kota Palu, Jum’at (28/12).

Selain foto, ada pula arsip-arsip berusia satu abad mengenai kebencanaan di Kota Palu. Meski lembaran arsip ini telah usang dimakan usia, namun isi dari arsip tersebut masih dapat dibaca dan isinya relevan hingga sekarang.

Kebanyakan arsip-arsip ini berbentuk surat kabar. Surat kabar yang diterbitkan di zaman penjajahan kolonial Belanda maupun saat Indonesia telah merdeka. Surat kabar tersebut memberitakan kejadian bencana alam yang saat itu terjadi di Sulawesi Tengah.

Seluruh arsip ini merupakan koleksi dari Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST) yang dikumpulkan dari hasil penelusuran para pecinta sejarah di Bumi Tadulako.

Jefrianto, salah seorang penggagas Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST), mengungkapkan bahwa koleksi arsip dan dokumentasi kebencanaan yang dimiliki oleh KHST sebenarnya cukup banyak.

Koleksi arsip itu merekam kebencanaan gempa dan tsunami pada tahun 1907 hingga 1968. Arsip-arsip surat kabar zaman penjajahan kolonial Belanda dan foto-foto Kota Palu pada zaman dahulu pun dikoleksi oleh KHST.

“Koleksi-koleksi milik KHST ini kemudian diserahkan ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu,” ucap Jefri.

Komunitas Historia Sulawesi Tengah berdiri sejak tahun 2014 atas inisiatif beberapa orang yang memiliki ketertarikan dengan sejarah di Sulawesi Tengah dan ingin dibahas secara serius.

Sebagai masyarakat yang cinta akan sejarah, mereka yang tergabung dalam komunitas itu tergerak hatinya untuk melindungi aset-aset sejarah dan ingin memberi edukasi sejarah kepada masyarakat.

Sebelum terjadinya bencana pada 28 September lalu, KHST aktif membahas hal-hal yang berkaitan dengan sejarah kebencanaan di Sulawesi Tengah, termasuk membahas tentang penamaan daerah-daerah tertentu.

Contohnya daerah Kaombona yang berada di belakang area Polsek Palu Timur dan foto tua tentang Dermaga Limbuo Talise yang kembali muncul pasca bencana sebagai bekas dampak bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 1938.

Jefri berharap adanya pameran foto dan arsip yang diselenggarakan dapat membangkitkan kesadaran masyarakat akan adanya potensi bencana di Kota Palu yang suatu saat masih bisa datang kembali.

Menurut Jefri, ingatan masyarakat tentang bencana terputus pasca gempa 2005. Saat itu muncul wacana bahwa Kota Palu tidak akan kena tsunami karena wilayahnya berupa teluk.

“Ini yang membuat kita lupa dengan sejarah bahwa sebelum tahun 2005, Palu dan sekitarnya pernah mendapat bencana besar yang serupa. Kesadaran masyarakat harus dibangun kembali bahwa Kota Palu pernah pernah mendapat bencana sehingga harus merencanakan mitigasi yang lebih baik,” kata Jefri.

Sejumlah pengunjung pun antusias melihat pajangan foto dan arsip-arsip kebencanaan di lokasi pameran tersebut. Salah satunya Riski. Mahasiswa di Universitas Tadulako itu mengaku sangat tertarik dengan foto-foto yang diambil oleh para jurnalis.

“Harapnya bisa dibuat lagi pameran-pameran seperti ini supaya menjadi sejarah penting tentang bencana alam di Palu, biar tidak putus di kita saja,” harapnya.

Reporter: Zulrafli Aditya
Editor: Ika Ningtya
s

Kabar Dari Palu



Konten dalam artikel ini direpublish dari Halaman Facebook Kabar Sulteng Bangkit

Kabar Sulteng Bagnkit adalah media tempat berbagi kabar tentang Palu dan sekitarnya pascabencana alam pada 28 September 2018. Halaman ini dikelola oleh AJI Indonesia dan Internews dengan melibatkan para jurnalis anggota AJI Palu.
Ingin menghubungi redaksi atau memberikan informasi terkait penanganan pascabencana silahkan kontak WA: 0813-4466-5586 atau Email: bangkitlahsulteng@gmail.com.


Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

KABAR DARI PALU

Jalan panjang, mendapatkan santunan duka

Published

on

PALU – Santunan duka untuk korban bencana secepatnya akan dicairkan. Namun sebelum mengarah kesana, pemerintah ingin memastikan, calon penerima adalah ahli waris yang sebenarnya. Karena itu, pemerintah kota akan melakukan verifikasi kembali untuk mendapatkan data ahli waris yang akurat.

Banyak tahapan yang harus dipenuhi calon penerima sebelum dana santunan duka itu diserahkan. Kepala Bappeda Kota Palu, Arfan dalam rapat percepatan penyaluran, Rabu 6 Februari 2019 di Kantor Wali Kota Palu, menjelaskan, selain syarat administrasi calon penerima, pemerintah harus terlebih dahulu menyusun struktur kelembagaannya.

Antara lain:
Pembentukan tim verifikasi dan validasi sebanyak 45 orang. Tim terdiri dari dinas sosial, dinas catatan sipil, Tagana, tenaga pelopor Babinsa (TNI) serta Bhabinkamtibmas (Polri).


Kemudian penyiapan formulir pendataan verifikasi dan validasi korban bencana. Selanjutnya, melakukan koordinasi dengan lurah setempat untuk memastikan korban meninggal dan yang hilang.

Arfan menyebutkn, untuk memastikan korban telah meninggal dunia harus mengantongi bukti berupa surat pernyataan dari keluarga atau pemerintah setempat.

Setelah itu, harus dipastikan pula bahwa korban telah dimakamkan dalam pemakaman massal melalui koordinasi kepolisian setempat. Berikutnya, menetapkan SK Tim verifikasi dan validasi korban.

Kemudian pemerinyah (masih dibahas apakah, Pemprov, Pemkot atau Pemkab) akan membuat surat kepada Kepala BNPB untuk pelibatan Danrem dan Kapolda dalam proses verifikasi dan validasi.

Setelah itu baru melaksanakan verifikasi. Jangka waktunya selama lima hari.

Usai verifikasi, lalu membuat berita acara serah terima hasil verifikasi dan validasi korban, antara dinas sosial tingkat provinsi dan Kabupaten/kota dan Kemensos sebagai dasar penetapan SK bupati/wali kota.

Selesai di tingkat ini, berikutnya adalah mengusulkan dana santunan ahli waris kepada Kepala BNPB dan Menteri Keuangan.

Arfan menjelaskan, Surat keterangan (SK) ahli waris menjadi salah satu syarat penting bagi keluarga korban meninggal dunia akibat bencana untuk memperoleh dana santunan duka dari pemerintah.

Untuk mendapat SK ahli waris, keluarga korban bisa segera melakukan konfirmasi ke kantor kelurahan sesuai alamat masing-masing. Kesempatan ini akan kembali dibuka sebagai upaya validasi dan verifikasi kebenaran data keluarga korban yang dinyatakan meninggal dunia akibat bencana.

Menurut Arfan, data korban jiwa, meninggal dan hilang yang telah ditetapkan sebelumnya, akan dikembalikan kepada pemerintah kelurahan masing-masing untuk kepentingan verifikasi ulang. ”Kalau perlu ditempel di kantor masing masing-masing. Lalu verifikasi lagi siapa yang meninggal dan siapa yang hilang,” jelas Arfan.

Bila perlu katanya, pejabat lurah bisa mengundang kembali warga yang telah melaporkan keluarganya yang meninggal. Ini dimaksudkan, untuk memastikan kelengkapan persyaratan dalam memperoleh dana santunan tersebut.

“Pastikan ada keterangan kematian. Keterangan ahli waris dan status hubungan darah dengan korban yang dilaporkan meninggal,” sebutnya.

Jika warga belum memiliki keterangan ahli waris. Maka warga bersangkutan bisa memohon kepada pemerintah kelurahan. Proses penerbitan keterangan ahli waris akan dikeluarkan oleh lurah dan disaksikan camat.

Syarat Ahli Waris antara lain:

-Surat keterangan ahli waris 
-kartu tanda penduduk 
-kartu keluarga 
-surat keterangan kematian 
-KTP dan KK korban yang meninggal
-Surat keterangan dari pemerintah setempat tentang korban 
-Nomor rekening Bank Mandiri

Di forum ini juga masih dibahas apakah, rekening bank mandiri dibuat secara kolekktif atau diserahkan pada masing-masing ahli waris.


Bagi ahli waris yang anggota keluarganya hilang dan belum ditemukan tetap akan mendapat santunan duka sesuai ketentuan.

Berkaitan dengan proses verifikasi dan validasi, Pemkot menekankan pejabat lurah harus benar benar cermat dalam mengeluarkan keterangan ahli waris tersebut.

“Jangan sampai nanti ini menimbulkan masalah,” pungkasnya.

Penulis: Hamdi
Foto: Dok SAR
Editor: Yardin Hasan

Kabar Dari Palu



Konten dalam artikel ini direpublish dari Halaman Facebook Kabar Sulteng Bangkit

Kabar Sulteng Bagnkit adalah media tempat berbagi kabar tentang Palu dan sekitarnya pascabencana alam pada 28 September 2018. Halaman ini dikelola oleh AJI Indonesia dan Internews dengan melibatkan para jurnalis anggota AJI Palu.
Ingin menghubungi redaksi atau memberikan informasi terkait penanganan pascabencana silahkan kontak WA: 0813-4466-5586 atau Email: bangkitlahsulteng@gmail.com.


Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com