Connect with us

KABAR DARI PALU

Lidya yang membangun huntara sendiri

Published

on

zonautara.com

PALU – Suatu sore pada hari Selasa, Lidya ditemani anak semata wayangnya sedang sibuk membereskan rumah. Mereka baru saja pindah dari rumah lamanya yang telah rusak akibat bencana likuefaksi di awasan Kelurahan Petobo, 28 September 2018.

“Kami belum lama pindah ke sini. Makanya sampai sekarang masih terus beres-beres,” ujarnya sambil mengayunkan sapu lidi menggiring sampah rumput ke pinggiran rumah lalu membuangnya ke tempat sampah.

Usai menyapu halaman rumah, ia menyandarkan tubuhnya di tonggak pintu rumah. Kakinya ditekuk dan kedua tangannya memegang bahu anaknya Audrey yang masih balita sambil menceritakan bagaimana pengalamannya meloloskan diri dari ‘amukan’ lumpur kala itu. 

Sore menjelang magrib saat itu ia sedang berjalan dari rumah menuju rumah tetangga yang berjarak sekitar 50 meter. Ia hendak menjemput anaknya yang sedang bermain. Saat tiba di depan pintu pagar tetangga, tiba-tiba gempa datang. 

Bumi berguncang begitu kencang ia pun tak kuasa berdiri kokoh, lalu perlahan ia merangkak berusaha menggapai pintu pagar dan masuk ke halaman rumah tetangga meraih lengan anaknya yang sedari tadi berdiri di seberang pagar.

Tidak berselang lama setelah guncangan gempa agak reda, tiba-tiba ada yang berteriak “Ayo lari ada tsunami!” suara gemuruh yang keras dan menakutkan terdengar dari dalam bumi. 

Tanah mulai terbelah-belah, rumah-rumah amblas ke dalam tanah, lalu naik ke permukaan hingga dua meter, pohon-pohon berjalan cepat ke arahnya bak monster yang sedang mengejarnya. 

Aspal seperti dipelintir, ia terus berlari sambil menggendong putrinya. Saat berada di lorong menuju arah jalan raya tanah sudah menggunung tinggi melebihi atap rumah. 

“Saya lari sambil melompati tanah yang sudah terbelah-belah. Melihat jalan raya sudah menggunung dengan lumpur dan reruntuhan rumah saya langsung balik arah ke lorong belakang rumah dan alhamdulillah saya dan anak saya selamat sehat walafiat sampai sekarang,” ujarnya sambil sesekali membelai rambut anaknya yang sedang duduk di pangkuannya. 

Matanya nanar berusaha mengingat kembali peristiwa itu. “Jujur sampai sekarang saya masih sangat trauma jika mengingat peristiwa itu. Sangat menakutkan”

Kini rumah Lidya di kompleks BTN Graha Petobo Asri tak bisa diselamatkan lagi karena sudah bercampur tanah yang mengeras. Beruntung mobil dan sepeda motornya masih bisa diselamatkan. Karena, saat peristiwa mengenaskan itu, mobil dan sepeda motornya sedang dibawa suami dan adiknya. 

Meskipun Lidya yang akrab disapa Pingky telah kehilangan rumah dan harta benda lainnya tak membuatnya berputus asa. Ia terus berusaha bangkit mengumpulkan rezeki dan membuat hunian sendiri tanpa bantuan sepeserpun dari pemerintah.

“Bukan berarti saya membuat ini tidak membutuhkan bantuan dari pemerintah. Tapi sampai sekarang saya memang belum mendapatkan huntara dari pemerintah padahal data sudah kami masukkan,” ucapnya.

Bangunan yang ia namakan home stay itu berdiri tegak dengan ukuran 4×8 meter beratapkan seng bekas dindingnya dari kalsibor dan tripleks dibuat seminimalis mungkin. Perabotan rumah ditata rapi dipermanis dengan hiasan dinding.

Hunian itu ia bangun di Kecamatan Biromaru Tanggul. Meskipun tak semewah rumah sebelumnya, ibu satu anak ini sangat bersyukur masih bisa tinggal di tempat yang layak. 

“Saya harus bangkit, saya tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, saya lakukan apa yang bisa saya lakukan. Saya berusaha sekuat mungkin hingga berdirilah home stay saya ini,” ujar Lidya menggerakkan wajahnya ke arah hunian yang telah ia buat. 

Namun satu hal yang ia keluhkan yaitu harga bahan-bahan bangunan yang serba mahal. Sementara kebutuhan domestik juga harus dipenuhi. 

Terkait harga barang-barang bangunan, ia berharap pemerintah mampu mengawasi kestabilan harga di pasaran.

Tidak hanya itu, ia juga meminta kepada pemerintah kota agar mempermudah pengurusan dokumen-dokumennya yang hilang ditelan lumpur seperti ijazah, kartu keluarga dan akte kelahiran. 

“Saya sudah pernah mencoba mengurusnya namun bagi saya persyaratannya terlalu ribet saya harus disuruh ke sana ke mari untuk melapor. Dipermudahlah kasian pengurusannya,” pintanya.

Ia pun menaruh harapan besar kepada pemerintah agar hunian tetap yang sudah dijanjikan pemerintah untuk korban likuefaksi maupun korban gempa segera terealisasi.[]

Penulis: Sarifah Latowa
Editor: Ika Ningtyas

Kabar Dari Palu



Konten dalam artikel ini direpublish dari Halaman Facebook Kabar Sulteng Bangkit

Kabar Sulteng Bagnkit adalah media tempat berbagi kabar tentang Palu dan sekitarnya pascabencana alam pada 28 September 2018. Halaman ini dikelola oleh AJI Indonesia dan Internews dengan melibatkan para jurnalis anggota AJI Palu.
Ingin menghubungi redaksi atau memberikan informasi terkait penanganan pascabencana silahkan kontak WA: 0813-4466-5586 atau Email: bangkitlahsulteng@gmail.com.


Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

KABAR DARI PALU

Jalan panjang, mendapatkan santunan duka

Published

on

PALU – Santunan duka untuk korban bencana secepatnya akan dicairkan. Namun sebelum mengarah kesana, pemerintah ingin memastikan, calon penerima adalah ahli waris yang sebenarnya. Karena itu, pemerintah kota akan melakukan verifikasi kembali untuk mendapatkan data ahli waris yang akurat.

Banyak tahapan yang harus dipenuhi calon penerima sebelum dana santunan duka itu diserahkan. Kepala Bappeda Kota Palu, Arfan dalam rapat percepatan penyaluran, Rabu 6 Februari 2019 di Kantor Wali Kota Palu, menjelaskan, selain syarat administrasi calon penerima, pemerintah harus terlebih dahulu menyusun struktur kelembagaannya.

Antara lain:
Pembentukan tim verifikasi dan validasi sebanyak 45 orang. Tim terdiri dari dinas sosial, dinas catatan sipil, Tagana, tenaga pelopor Babinsa (TNI) serta Bhabinkamtibmas (Polri).


Kemudian penyiapan formulir pendataan verifikasi dan validasi korban bencana. Selanjutnya, melakukan koordinasi dengan lurah setempat untuk memastikan korban meninggal dan yang hilang.

Arfan menyebutkn, untuk memastikan korban telah meninggal dunia harus mengantongi bukti berupa surat pernyataan dari keluarga atau pemerintah setempat.

Setelah itu, harus dipastikan pula bahwa korban telah dimakamkan dalam pemakaman massal melalui koordinasi kepolisian setempat. Berikutnya, menetapkan SK Tim verifikasi dan validasi korban.

Kemudian pemerinyah (masih dibahas apakah, Pemprov, Pemkot atau Pemkab) akan membuat surat kepada Kepala BNPB untuk pelibatan Danrem dan Kapolda dalam proses verifikasi dan validasi.

Setelah itu baru melaksanakan verifikasi. Jangka waktunya selama lima hari.

Usai verifikasi, lalu membuat berita acara serah terima hasil verifikasi dan validasi korban, antara dinas sosial tingkat provinsi dan Kabupaten/kota dan Kemensos sebagai dasar penetapan SK bupati/wali kota.

Selesai di tingkat ini, berikutnya adalah mengusulkan dana santunan ahli waris kepada Kepala BNPB dan Menteri Keuangan.

Arfan menjelaskan, Surat keterangan (SK) ahli waris menjadi salah satu syarat penting bagi keluarga korban meninggal dunia akibat bencana untuk memperoleh dana santunan duka dari pemerintah.

Untuk mendapat SK ahli waris, keluarga korban bisa segera melakukan konfirmasi ke kantor kelurahan sesuai alamat masing-masing. Kesempatan ini akan kembali dibuka sebagai upaya validasi dan verifikasi kebenaran data keluarga korban yang dinyatakan meninggal dunia akibat bencana.

Menurut Arfan, data korban jiwa, meninggal dan hilang yang telah ditetapkan sebelumnya, akan dikembalikan kepada pemerintah kelurahan masing-masing untuk kepentingan verifikasi ulang. ”Kalau perlu ditempel di kantor masing masing-masing. Lalu verifikasi lagi siapa yang meninggal dan siapa yang hilang,” jelas Arfan.

Bila perlu katanya, pejabat lurah bisa mengundang kembali warga yang telah melaporkan keluarganya yang meninggal. Ini dimaksudkan, untuk memastikan kelengkapan persyaratan dalam memperoleh dana santunan tersebut.

“Pastikan ada keterangan kematian. Keterangan ahli waris dan status hubungan darah dengan korban yang dilaporkan meninggal,” sebutnya.

Jika warga belum memiliki keterangan ahli waris. Maka warga bersangkutan bisa memohon kepada pemerintah kelurahan. Proses penerbitan keterangan ahli waris akan dikeluarkan oleh lurah dan disaksikan camat.

Syarat Ahli Waris antara lain:

-Surat keterangan ahli waris 
-kartu tanda penduduk 
-kartu keluarga 
-surat keterangan kematian 
-KTP dan KK korban yang meninggal
-Surat keterangan dari pemerintah setempat tentang korban 
-Nomor rekening Bank Mandiri

Di forum ini juga masih dibahas apakah, rekening bank mandiri dibuat secara kolekktif atau diserahkan pada masing-masing ahli waris.


Bagi ahli waris yang anggota keluarganya hilang dan belum ditemukan tetap akan mendapat santunan duka sesuai ketentuan.

Berkaitan dengan proses verifikasi dan validasi, Pemkot menekankan pejabat lurah harus benar benar cermat dalam mengeluarkan keterangan ahli waris tersebut.

“Jangan sampai nanti ini menimbulkan masalah,” pungkasnya.

Penulis: Hamdi
Foto: Dok SAR
Editor: Yardin Hasan

Kabar Dari Palu



Konten dalam artikel ini direpublish dari Halaman Facebook Kabar Sulteng Bangkit

Kabar Sulteng Bagnkit adalah media tempat berbagi kabar tentang Palu dan sekitarnya pascabencana alam pada 28 September 2018. Halaman ini dikelola oleh AJI Indonesia dan Internews dengan melibatkan para jurnalis anggota AJI Palu.
Ingin menghubungi redaksi atau memberikan informasi terkait penanganan pascabencana silahkan kontak WA: 0813-4466-5586 atau Email: bangkitlahsulteng@gmail.com.


Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com