DONGGALA — Kelompok Tani Hutan (KTH) Gonenggati Jaya masih bersetia membudidayakan banggo. Setiap hari, mereka membuat bibit dari biji-biji banggo yang tumbuh lebat di hutan seluas 10 hektar di Teluk Palu.

Banggo adalah nama lokal dalam suku Kaili Ledo untuk menyebut mangrove atau bakau. Di Kabonga Besar, mangrove tumbuh rapat di sepanjang pesisir pantai. Menjadi benteng alami bagi kampung berpopulasi sekira dua ribu jiwa tersebut.

Setidaknya terdapat enam jenis mangrove yang tumbuh alami di hutan Gonenggati: Rhizopora Apiculata, Avicennia Lanata, Nypa Fruticana, Rhizopora Mucronata, Rhizopora Stylosa dan Sonneratia Alba.

Ketua KTH Gonenggati, Yuryanto, bercerita, saban hari, ia dan beberapa anggota komunitasnya bergiliran ronda di hutan mangrove, baik siang dan malam.

Sembari ronda itulah, mereka bertugas mengumpulkan biji-bijian mangrove yang tumbuh di atas permukaan laut. Biji-biji itulah yang kemudian mereka tanam dalam proses pembibitan.

“Tinggal taruh saja di polyback sampai tumbuh sendiri,” katanya saat ditemui, Selasa 15 Januari 2019.

KTH Gonenggati Jaya semula hanya beranggotakan 11 orang. Seluruh anggota saat itu bersepakat menunjuk Yuryanto sebagai pemimpin atau ketua. Saat ini, komunitas yang lahir pada Oktober 2016 itu, telah memiliki anggota sebanyak 40 orang.

Menurut Yuryanto, sampai saat ini lebih dari 10 ribu bibit yang berhasil mereka hasilkan. Selain untuk keperluan pengembangan hutan mangrove di Kabonga Besar, sebagian dari bibit tersebut juga dijual.

Satu buah bibit mereka jual Rp 5000. Pembeli umumnya datang dari beberapa kabupaten di Sulawesi Tengah.

Setelah tsunami 28 September 2018, anggota KTH Gonenggati Jaya makin bersemangat membudidayakan banggo. Sebab, berkat hutan banggo itu wilayah mereka selamat dari terjangan tsunami.

“Setelah tsunami itu orang-orang di sini sudah mulai sadar. Tidak ada lagi yang kasi mati Banggo,” kata Yuryanto bersemangat.

Yuryanto, tak tahu persisnya sejak kapan hutan banggo mulai ada di Kelurahan Kabonga Besar. Yang ia tahu, banggo telah melindungi kampung mereka sejak lama, termasuk tsunami tiga bulan lalu.

Tak ada korban jiwa di daerah itu, termasuk tak satupun rumah warga di Kabongan Besar yang mengalami kerusakan. Padahal jaraknya sangat dekat dengan bibir pantai.

“Di sini tsunami hanya seperti air pasang,” katanya.
Apa yang diucapkan Yuryanto bukanlah omong kosong belaka. Lela (40), pedagang buah di sekitar kawasan hutan mangrove Kabonga Besar mengaku menyaksikan gelombang tsunami pecah sebelum mencapai bibir pantai.

“Nda ada tsunami disini. Banggo sudah kasi hancur duluan,” katanya pasti.

Hutan mangrove seluas 10 hektar ini terbilang hutan mangrove terluas di kawasan teluk Palu. Sebenarnya, di sepanjang pesisir Kota Palu dahulunya juga pernah ditumbuhi mangrove. Namun, telah banyak beralih fungsi menjadi permukiman dan kawasan ekonomi.[]

Reporter dan foto: Zainal Ishaq
Editor: Ika Ningtyas




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com