Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

Satu lagi buaya peliharaan di Tombariri dievakuasi

Published

on

MINAHASA, ZONAUTARA.com Setelah Merry, buaya yang menghebohkan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) karena diduga memangsa manusia, yang dievakuasi ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki.

Kini, satu lagi buaya yang diamankan oleh pihak-pihak terkait yang terdiri dari aparat kepolisian, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara (Sulut), serta pihak PPS Tasikoki, di Desa Teling, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Rabu (16/1/2019).

Hal itu pun dilakukan setelah warga setempat melaporkannya kepada pihak Polsek Tombariri.

Kapolres Tomohon AKBP Raswin Sirait melalui Kapolsek Tombariri Iptu Adri Jantje Untu membenarkan hal tersebut.

Dia mengatakan, usai menerima informasi dari masyarakat, pihaknya langsung mendatangi rumah warga yang diduga memelihara satwa liar tersebut.

Pihaknya pun kemudian mendapati adanya buaya yang dipelihara oleh Keluarga Makisurat-Ruasey sejak tahun 2002 dan kini telah berumur 17 tahun.

Menurut dia, dari hasil pemeriksaan Tim dari BKSDA, buaya yang dipelihara di kolam kecil yang terletak di belakang rumah tersebut memiliki panjang 198 cm.

“Menurut keterangan keluarga bahwa buaya tersebut dibeli dari seorang warga Tateli, Kecamatan Mandolang dengan harga Rp100 ribu. Katanya buaya itu ditemukan saat sedang mencari udang di sungai Buntong Tateli,” ungkapnya.

Dia menegaskan, buaya tersebut kini telah dibawa ke lokasi penangkaran buaya atau di lokasi yang sama tempat dibawanya buaya bernama merry, PPS di Tasikoki, Desa Kema, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !

Lingkungan dan Konservasi

Ketambahan 21 spesies baru, Indonesia punya 1.794 spesies burung

Ada empat spesies yang keluar dari daftar sebelumnya.

Bagikan !

Published

on

Foto: Burung Indonesia

ZONAUTARA.COM – Indonesia kini memiliki 1.794 spesies burung setelah penambahan 21 spesies baru hingga awal 2020.

“Berdasarkan catatan kami ini mencakup keluarnya empat spesies dari daftar 1.777 spesies menjadi 1.773 spesies, namun ada penambahan 21 spesies baru sehingga totalnya kini 1.794 species burung,” kata Research & Communication Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid dalam keterangan resmi dikutip Senin (17/2/2020).

Ada tujuh spesies burung yang baru dideskripsikan (newly described species), termasuk Myzomela alor (Myzomela prawiradilagae) dan cabai kacamata (Dicaeum dayakorum).

Perkembangan ilmu ornitologi dan taksonomi, membantu identifikasi 14 spesies burung dari hasil pemisahan spesies terdahulu (split species).

Sementara Myzomela alor diumumkan sebagai spesies baru pada Oktober 2019. Burung endemis Pulau Alor ini menghuni habitat pegunungan pada rentang ketinggian 900-1.270 mdpl.

Menurut Achmad, empat spesies yang sebelumnya dianggap sebagai spesies tersendiri, melalui studi terbaru, diketahui masih merupakan subspesies dari spesies yang telah dikenal sebelumnya.

“Sebagai contoh sikatan tanajampea (Cyornis djampeanus), yang sebelumnya dikenal sebagai spesies endemis di Pulau Tanajampea, ternyata masih memiliki kemiripan dengan sikatan sulawesi (Cyornis omissus). Sehingga sikatan tanajampea dikelompokkan sebagai subspesies sikatan sulawesi,” ujarnya.

Sedang spesies baru lainnya yaitu cabai kacamata atau spectacled flowerpecker.

Semua itu memerlukan kajian mendalam dalam waktu lama hingga akhirnya para ilmuwan memperkenalkannya sebagai spesies baru yang kemudian diberi nama ilmiah Dicaeum dayakorum.

Nama tersebut terinspirasi sekaligus untuk menghormati Suku Dayak yang memiliki pengetahuan lokal luar biasa tentang flora dan fauna di tanah kelahiran mereka.

Selain itu, lanjut Ahmad, lima spesies burung lainnya yang baru bagi sains yaitu kipasan peleng, ceret taliabu, myzomela taliabu, cikrak peleng, dan cikrak taliabu. Tiga spesies berasal dari Pulau Peleng, Provinsi Sulawesi Tengah dan dua spesies lainnya berasal dari Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara).

Penambahan jumlah spesies secara signifikan ini terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan ornitologi dan taksonomi. Atas dasar perbedaan tersebut, beberapa subspesies kemudian diakui sebagai spesies yang berbeda dan menjadi spesies tersendiri.

Secara terperinci split species tersebut terdiri dari tiga spesies burung uncal/merpati, tiga spesies nuri, satu spesies merbah/cucak, tiga spesies sikatan, dan empat spesies burung kacamata.

Pada penghujung 2019, Badan Konservasi Dunia (IUCN) juga telah memperbarui Daftar Merah Spesies Terancam Punah (IUCN Red List of Threatened Species) di dunia dan diikuti oleh BirdLife International yang mengumumkan 11.147 spesies burung di dunia.

Infografis dari Burung Indonesia.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com