Connect with us

KABAR DARI PALU

Kapan Lembah Palu mulai dihuni? (bagian 2)

Published

on

zonautara.com

PALU — Berbeda dengan Hissink yang mengklasiifkasikan suku-suku berdasarkan letak geografisnya, ahli linguistik N Adriani membagi klasifikasi suku-suku di lembah Palu berdasarkan aspek linguistik.

Menurut Adriani, hanya ada tiga bahasa asli di lembah Palu, yakni bahasa Palu atau Ledo dengan dialeknya Dori, bahasa Sigi atau Idja, dan bahasa Pakuli atau Ado dengan dialek bernama Edo.

Dari keterangan ini, Kaurdern menyimpulkan, Ledo digunakan oleh To Palu dan To Biromaru, Idja oleh To Sigi dan To Dolo, dan bahasa Ado oleh To Pakuli, To Bangga dan To Sibalaya.

Adapun To Sidondo berbicara dengan dialek Ado yang disebut Edo, sedangkan dialek Dori dituturkan oleh sekitar 1800 penduduk asli yang tinggal di timur Teluk Palu.

Kemudian, terkait proses migrasi, pola migrasi penduduk le lembah Palu dilakukan secara bertahap, turun dari gunung ke lembah.

Di lembah Palu, Hissink yang di masa itu menjabat sebagai Kontroliur Palu, mendengar sejumlah cerita menarik tentang kisah perang antar entitas di lembah Palu di masa lalu dan pergeseran pemukiman mereka pascaperang tersebut.

Penduduk wilayah Palu, sebagaimana ditulis oleh Hissink, tinggal di pegunungan sebelah timur lembah Palu. Di sini mereka memiliki pemukiman besar yang disebut Volo Vatu Palu. Volo Vatu Palu adalah sejenis bambu kecil, yang tumbuhnya merunduk.

Hissink memperkirakan, leluhur To Palu dan To Biromaru berasal dari wilayah yang sama dan berpisah saat migrasi. Penyebab berpisahnya kelompok migrasi ini tidak diketahui, tetapi pada akhir abad ke-17, Francois Valentijn dalam karyanya Oud en Nieuw Oost-Indien pada 1724, telah menyebutkan Palu dan Biromaru.

Kemudian, terkait migrasi To Sigi dan To Dolo, Kaurdern mengutip catatan perjalanan Kruijt dan Adriani di Sigi tahun 1897. Kaurdern menduga To Sigi dan To Dolo berasal dari entitas yang sama.

Mengutip Hissink, pemukiman awal To Sigi terletak di pegunungan sebelah utara Danau Lindu. Permukiman yang teridentifikasi adalah kampung Lewoe (Lewu), Silonga, Wololaoe (Wululau), Oee Malei (Uwe Malei) dan Sigi Poeloe (Sigi Pulu).

Lebih ke utara, To Dolo tinggal di Dolo, Maro, dan Pompewajo. Dari catatan ini, kaurdern memperkirakan, wilayah Sigi yang disebutkan di atas, seharusnya terletak di wilayah Palolo atau di sekitarnya, sedangkan kawasan Dolo di wilayah Sigi saat ini.

Menurut Hissink, To Sigi dan To Dolo tampaknya di masa lalu telah bertarung dengan sengit. Suatu ketika To Dolo dihina oleh To Sigi yang menyulut perang melawan To Sigi.

Dalam perang ini To Dolo muncul sebagai pemenang. Tetapi To Sigi memutuskan untuk membalas dendam dengan mengerahkan serangan penuh dengan bantuan aliansinya yakni To Kulawi, To Benahu, To Bada, To Napu, To Behoa, dan To Tawaelia. To Dolo kemudian berhasil dikalahkan dan terusir dari wilayahnya.

Hissink menulis, To Dolo tidak dapat mengatasi bencana ini, di mana desa-desa mereka dibakar dan mereka melarikan diri ke arah barat, di mana mereka mendirikan pemukiman baru di bukit Pandjopolaki.

Mereka diusir oleh To Sigi dengan cara ini hingga tujuh kali. Dalam pelariannya, To Dolo kemudian tiba di mulut Sungai Wuno, tempat mereka mendirikan kampung yang sekarang, yakni Kota Rindau.

Dari sini mereka menyebar ke Kota ri Pulu, Sibonu, Pewunu, Kaleke dan Pesakoe. Di saat bersamaan, To Sigi juga telah bermigrasi di tempat tinggal mereka saat ini.
Proses migrasi ke lembah itu tidak diketahui, tetapi Valentijn, ketika berbicara tentang Palu dan Biromaru juga menyebutkan Sigi serta Dolo, sebagai wilayah yang independen.

Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan, To Sigi dan To Dolo bermigrasi ke lembah pada abad ke-16 atau pada awal abad ke-17.[Habis]

Penulis: Jefrianto
Editor: Ika Ningtyas

Bagikan !
Kabar Dari Palu



Konten dalam artikel ini direpublish dari Halaman Facebook Kabar Sulteng Bangkit

Kabar Sulteng Bagnkit adalah media tempat berbagi kabar tentang Palu dan sekitarnya pascabencana alam pada 28 September 2018. Halaman ini dikelola oleh AJI Indonesia dan Internews dengan melibatkan para jurnalis anggota AJI Palu.
Ingin menghubungi redaksi atau memberikan informasi terkait penanganan pascabencana silahkan kontak WA: 0813-4466-5586 atau Email: [email protected]


Hosting Unlimited Indonesia

KABAR DARI PALU

Jalan panjang, mendapatkan santunan duka

Published

on

PALU – Santunan duka untuk korban bencana secepatnya akan dicairkan. Namun sebelum mengarah kesana, pemerintah ingin memastikan, calon penerima adalah ahli waris yang sebenarnya. Karena itu, pemerintah kota akan melakukan verifikasi kembali untuk mendapatkan data ahli waris yang akurat.

Banyak tahapan yang harus dipenuhi calon penerima sebelum dana santunan duka itu diserahkan. Kepala Bappeda Kota Palu, Arfan dalam rapat percepatan penyaluran, Rabu 6 Februari 2019 di Kantor Wali Kota Palu, menjelaskan, selain syarat administrasi calon penerima, pemerintah harus terlebih dahulu menyusun struktur kelembagaannya.

Antara lain:
Pembentukan tim verifikasi dan validasi sebanyak 45 orang. Tim terdiri dari dinas sosial, dinas catatan sipil, Tagana, tenaga pelopor Babinsa (TNI) serta Bhabinkamtibmas (Polri).


Kemudian penyiapan formulir pendataan verifikasi dan validasi korban bencana. Selanjutnya, melakukan koordinasi dengan lurah setempat untuk memastikan korban meninggal dan yang hilang.

Arfan menyebutkn, untuk memastikan korban telah meninggal dunia harus mengantongi bukti berupa surat pernyataan dari keluarga atau pemerintah setempat.

Setelah itu, harus dipastikan pula bahwa korban telah dimakamkan dalam pemakaman massal melalui koordinasi kepolisian setempat. Berikutnya, menetapkan SK Tim verifikasi dan validasi korban.

Kemudian pemerinyah (masih dibahas apakah, Pemprov, Pemkot atau Pemkab) akan membuat surat kepada Kepala BNPB untuk pelibatan Danrem dan Kapolda dalam proses verifikasi dan validasi.

Setelah itu baru melaksanakan verifikasi. Jangka waktunya selama lima hari.

Usai verifikasi, lalu membuat berita acara serah terima hasil verifikasi dan validasi korban, antara dinas sosial tingkat provinsi dan Kabupaten/kota dan Kemensos sebagai dasar penetapan SK bupati/wali kota.

Selesai di tingkat ini, berikutnya adalah mengusulkan dana santunan ahli waris kepada Kepala BNPB dan Menteri Keuangan.

Arfan menjelaskan, Surat keterangan (SK) ahli waris menjadi salah satu syarat penting bagi keluarga korban meninggal dunia akibat bencana untuk memperoleh dana santunan duka dari pemerintah.

Untuk mendapat SK ahli waris, keluarga korban bisa segera melakukan konfirmasi ke kantor kelurahan sesuai alamat masing-masing. Kesempatan ini akan kembali dibuka sebagai upaya validasi dan verifikasi kebenaran data keluarga korban yang dinyatakan meninggal dunia akibat bencana.

Menurut Arfan, data korban jiwa, meninggal dan hilang yang telah ditetapkan sebelumnya, akan dikembalikan kepada pemerintah kelurahan masing-masing untuk kepentingan verifikasi ulang. ”Kalau perlu ditempel di kantor masing masing-masing. Lalu verifikasi lagi siapa yang meninggal dan siapa yang hilang,” jelas Arfan.

Bila perlu katanya, pejabat lurah bisa mengundang kembali warga yang telah melaporkan keluarganya yang meninggal. Ini dimaksudkan, untuk memastikan kelengkapan persyaratan dalam memperoleh dana santunan tersebut.

“Pastikan ada keterangan kematian. Keterangan ahli waris dan status hubungan darah dengan korban yang dilaporkan meninggal,” sebutnya.

Jika warga belum memiliki keterangan ahli waris. Maka warga bersangkutan bisa memohon kepada pemerintah kelurahan. Proses penerbitan keterangan ahli waris akan dikeluarkan oleh lurah dan disaksikan camat.

Syarat Ahli Waris antara lain:

-Surat keterangan ahli waris 
-kartu tanda penduduk 
-kartu keluarga 
-surat keterangan kematian 
-KTP dan KK korban yang meninggal
-Surat keterangan dari pemerintah setempat tentang korban 
-Nomor rekening Bank Mandiri

Di forum ini juga masih dibahas apakah, rekening bank mandiri dibuat secara kolekktif atau diserahkan pada masing-masing ahli waris.


Bagi ahli waris yang anggota keluarganya hilang dan belum ditemukan tetap akan mendapat santunan duka sesuai ketentuan.

Berkaitan dengan proses verifikasi dan validasi, Pemkot menekankan pejabat lurah harus benar benar cermat dalam mengeluarkan keterangan ahli waris tersebut.

“Jangan sampai nanti ini menimbulkan masalah,” pungkasnya.

Penulis: Hamdi
Foto: Dok SAR
Editor: Yardin Hasan

Bagikan !
Kabar Dari Palu



Konten dalam artikel ini direpublish dari Halaman Facebook Kabar Sulteng Bangkit

Kabar Sulteng Bagnkit adalah media tempat berbagi kabar tentang Palu dan sekitarnya pascabencana alam pada 28 September 2018. Halaman ini dikelola oleh AJI Indonesia dan Internews dengan melibatkan para jurnalis anggota AJI Palu.
Ingin menghubungi redaksi atau memberikan informasi terkait penanganan pascabencana silahkan kontak WA: 0813-4466-5586 atau Email: [email protected]


Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com