PALU – Banjir yang menerjang tiga RT di Kelurahan Baiya, Selasa 22 Januari 2019, akibat meluapnya Sungai Mangu, bukanlah yang pertama kali terjadi.

Sungai yang berhulu di jalur pegunungan Masomba ini, kerap kali meluap, saat musim penghujan tiba, atau turunnya hujan dengan intensitas tinggi, dengan waktu yang lama.

Dua tahun sebelumnya, pada 9 September 2016, banjir serupa juga menerjang kawasan yang sama. Banjir merendam pemukiman warga, terutama di sekitar Pasar Induk Vinase, dengan ketinggian air mencapai 1 meter.

Banjir ini juga merendam pemukiman warga di Jalan Trans Sulawesi, yang menghubungkan Tawaeli dan Pantoloan. Di lokasi tersebut, ketinggian air mencapai 30 – 50 cm.

Banjir ini, selain disebabkan oleh meluapnya Sungai Mangu, juga disebabkan oleh kecilnya saluran drainase pada plat deker (pembatas sungai dna jembatan) yang berada di jalur sungai tersebut.

Kecilnya saluran tersebut, menyebabkan material lumpur dan kayu yang terbawa banjir, memenuhi saluran drainase. Akibatnya saluran tersebut tersumbat dan banjir meluap ke badan jalan menuju kawasan pemukiman yang elevasi datarannya lebih rendah dari sungai.

Pasca banjir tersebut, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XIV Palu membongkar saluran tersebut dan membangun saluran yang lebih besar. Pemerintah Daerah juga membangun bronjong di sisi Sungai Mangu, namun tidak tuntas, karena hanya dibangun di satu sisi sungai saja.

Hal ini kemudian berimbas dua tahun kemudian. Saat banjir menerjang beberapa hari lalu, sisi sungai yang tidak dipasangi bronjong, terkikis dan menyebabkan banjir meluap ke pemukiman warga yang juga menjadi korban banjir 2016 lalu.

Saluran drainase yang baru dibangun tersebut, juga nyatanya tidak mampu menampung debit air, karena tersumbat material yang masuk ke dalam. Material yang terbawa banjir berupa kayu-kayu besar dari arah hulu sungai.

Tersumbatnya saluran yang membelah jalan Trans Sulawesi di kawasan bekas lokasi penggaraman di perbatasan Kelurahan Baiya dan Kelurahan Pantoloan tersebut, membuat luapan air mengalir ke pemukiman penduduk yang terletak di sebelah selatan. Tidak adanya saluran drainase di kedua sisi jalan, membuat banjir memenuhi badan jalan dan mengalir ke saluran pembuangan di sebelah lokasi SD Inpres 12 Baiya.

Tidak adanya saluran pembuangan menuju laut, membuat luapan air tersebut, menerjang pemukiman penduduk dari arah belakang. Nurdian (30), salah seorang warga di Jalan Trans Sulawesi Kelurahan Baiya, yang rumahnya terdampar banjir mengatakan, banjir awalnya menerjang dari arah belakang rumah.

“Hujan memang turun deras sejak sekitar pukul 19.00 WITA dan warga sebenarnya sudah bersiaga. Namun kata dia, tidak ada tanda-tanda banjir akan terjadi.

Biasanya, kan kalau mau banjir, air memenuhi badan jalan. Pada banjir kali ini, tidak ada tanda seperti itu, tiba-tiba dari arah belakang rumah, air masuk melalui sela-sela pintu,” katanya.

Nurdian menjelaskan, dirinya memutuskan untuk tidak membuka pintu rumah, karena derasnya air di luar rumah. Ketinggian air mencapai 1,5 meter dan merendam empat rumah di sekitar lokasi rumahnya.

Banjir yang terjadi tersebut, kata dia, hampir sama dengan yang terjadi pada tahun 2004. Pada banjir 2004 tersebut kenangnya, ketinggian air mencapai hampir 2 meter dan membuat jalur trans Tawaeli – Pantoloan sempat lumpuh.

Ningsih (53) warga setempat yang juga menjadi saksi banjir tahun 2004 mengisahkan, akibat banjir tersebut, warga yang terdampar, sampai mengungsikan barang-barang mereka ke rumah warga yang lokasinya lebih tinggi.

Berulangnya banjir yang terjadi ini, seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah, untuk segera menormalisasi Sungai Mangu. BPJN XIV Palu yang telah meninjau lokasi sungai beberapa hari lalu, berencana membuat tanggul di sepanjang kedua sisi sungai.

Kemudian, terkait plat deker yang ada di jalur trans tersebut, sebaiknya perlu dibuatkan jembatan dengan saluran yang lebih besar. Saluran menuju muara sungai juga perlu diperluas, karena ternyata, daerah aliran sungai (DAS) di daerah muara, yang masuk dalam lahan PT Toloan, hanya seluas saluran got.

Saluran drainase di kedua sisi jalan trans, juga perlu dinormalisasi. Di sisi timur, saluran tertutupi sedimen akibat banjir, hingga rata dengan badan jalan, sementara di sisi barat, saluran drainase ditumbuhi tumbuhan air yang menghambat aliran air.

Saluran pembuangan air ke arah laut yang terletak di sisi SD Inpres 12 Baiya, juga perlu dipikirkan, karena jika tidak dilakukan, saat air meluap dan tidak memiliki jalur pembuangan, air akan kembali mengancam pemukiman di depannya. Apalagi, posisi pempemukim tersebut, elevasinya lebih rendah dari badan jalan.

Sejarah tentang kebencanaan, selalu penting untuk menjadi pelajaran, agar tidak terjadi keberulangan. Pemerintah harus sigap menata kembali kawasan rawan banjir tersebut, karena jika tidak dilakukan, bencana yang sama pasti akan selalu berulang.[]

Penulis: Jefrianto
Editor: Ika Ningtyas




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id