MANADO, ZONAUTARA.com – Hingga Jumat (8/2/2019) jumlah pengungsi dampak erupsi Gunung Berapi Karangetang di pulau Siau mencapai 195 jiwa yang terdiri dari 45 kepala keluarga.
Rilis data dari Humas Basarnas Manado menyebutkan, pengungsi berada di shelter pengungsian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro dan di gedung SD GMIST Batubulan. Warga terdampak lainnya juga mengungsi ke rumah keluarga mereka.
Dari 195 jiwa yang terdata, sebanyak 122 jiwa atau 33 kepala keluarga ditampung di shelter pengungsian BPBD Sitaro yang ada di Paseng. Sementara 44 jiwa lainnya ada di SD GMIST Batubulan.
Erupsi Karangetang yang terjadi sejak 2 Februari lalu, telah memutus akses jalan ke kampung Batubulan yang terdampak. Material yang menimbun jalan setinggi sekitar 50 meter itu membuat warga terisolir.
Data dari Basarnas Manado menyebutkan ada sebanyak 494 warga yang masih terisolir di Batubulan. Akses satu-satunya kini hanya bisa dilakukan lewat laut.
Namun gelombang tinggi karena cuaca memburuk membuat rombongan Bupati Sitaro yang diangkut dengan rescue boat KN SAR Bima Sena tidak bisa merapat ke Batubulan, Kamis (7/2) kemarin.
Padahal kapal yang dioperasikan oleh Basarnas Manado itu juga mengangkut bahan bantuan. Namun Bupati Sitaro, Evangelian Sasingen memastikan warga yang terisolir telah mendapat bantuan bahan makanan sebelumnya.
Kini longsoran material vulkanik dari Kawah Dua atau Kawah Utara Karangetang telah mencapai laut, dan teramati melebar sehingga menambah dampak area yang beresiko.
Pemerintah Daerah Kabupaten Sitaro sendiri telah menetapkan status tanggap darurat dari kejadian erupsi Karangetang ini.
Editor: Ronny Adolof Buol