Connect with us

100 Tahun Tangkoko

Tangkoko menyambut perayaan 100 tahun

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Kawasan Tangkoko kini bersiap menyambut perayaan 100 tahun ditetapkannya wilayah itu sebagai kawasan konservasi.

Tanggal itu akan jatuh pada 21 Februari 2019 nanti. Rentang waktu itu dihitung sejak keluarnya surat Gubenur Jenderal Hindia Belanda pada 21 Februari 1919 (GB 21/2/1919 stbl 90) yang menetapkan Natuurmonument Goenoeng Tangkoko Batoeangoes sebagai hutan lindung.

Pemerintah Kota Bitung sebagai pemilik area administrasi pemerintahan Tangkoko akan menggelar berbagai acara dalam rangka 100 Tahun Tangkoko. Puncaknya adalah peresmian monumen Alfred Russel Wallace.

Wallace, naturalis berkebangasaan Inggris mengunjungi Tangkoko pada 1861. Di sana Wallace mengumpulkan spesimen babirusa dan maleo yang kala itu mudah dijumpai.

Wallace dinggap sebagai sosok inspitaor dalam gerakan pemuliaan lingkungan di kawasan Tangkoko yang sudah beberapa kali mengalami perubahan status.

Pada tahun 1978, Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No 700/Kpts/Um/11/78 memperluas wilayah Tangkoko dengan ditetapkannya Cagar alam Duasudara (4.299 hektare).

Pada 24 Desember 1981, Kementerian Pertanian merubah status Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus seluas 1.250 hektare menjadi Taman Wisata Alam Batuputih (615 ha) dan Taman Wisata Alam Batuangus (635 ha).

Seiring perkembangannya, cagar alam Gunung Tangkoko-Batuangus mengalami perubahan lagi berdasarkan SK Menteri Kehutanan RI No SK/1826/Menhut-VIII/KUH/2014 tentang penetapan kawasan hutan pada kelompok hutan Dua Sudara.

Kawasan ini terdiri dari Cagar Alam Dua Sudara (7.247,46 Ha), TWA Batuputih (649 ha) dan TWA Batuangus (648,57 ha).

Terlepas dari berbagai perubahan tersebut, dunia tetap mengenal Tangkoko sebagai laboratorium hidup dengan keragaman ekologi yang memesona. Sejak kedatangan Wallace ke lokasi ini, sejak itu pula para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia tak henti mendatangi Tangkoko hingga sekarang.

Pemerintah Kota Bitung bersama para pelestari Tangkoko ingin merayakan perjalanan panjang selama 100 tahun kawasan ini. Berbagai kegiatan pun akan dikemas dengan puncak acara pada 20 dan 21 Februari nanti.

Beberapa acara yang akan digelar diantaranya workshop yang melibatkan masyarakat dan komunitas setempat, talkshow, pameran dan konser musik alam.

Kegiatan pameran akan melibatkan 24 komunitas lingkungan dan pariwisata yang bersama-sama akan melandasi pengembangan kampung wisata Batuputih sebagai kampung wisata berbasis konservasi.

Musisi Nugie dan Tanita bersama The Early Bird, Lamp of Bottle, Jarank Pulang dan 4play akan menyajikan konser alam yang mengajak seluruh pengunjung menghargai dan merawat alam melalui alunan musik.

“Kota Bitung merasa bangga karena sejak kunjungan Wallace hingga hari ini, Batuputih mampu menarik para ilmuwan dan pelajar dari seluruh belahan dunia untuk mempelajari keunikan dan kekayaan serta keanekaragaman hayati Sulawesi Utara di Tangkoko,” kata Walikota Bitung Max Lomban beberapa waktu lalu.

Max Lomban menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melanjutkan keteladanan para pendahulu dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, namun juga turut mendorong percepatan pembangunan pariwisata di kawasan Batuputih.

Akan diluncurkan pula paket wisata “Jelajah Tangkoko” sebagai paket unggulan bagi para wisatawan untuk dapat menjelajahi keunikan alam dan budaya di kawasan Tangkoko.

Editor: Ronny Adolof Buol

100 Tahun Tangkoko

Buku foto karya orang Batuputih segera direalisasikan

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Kejutan menggembirakan dirasakan pehobby fotografi yang tergabung dalam komunitas Tukang Foto Orang Batuputih (TFOB) saat menggelar pameran foto di Manado Town Square (Mantos) 3.

Istri Walikota Bitung Khouni Lomban Rawung merespon keinginan TFOB untuk mengabadikan karya-karya foto mereka dalam sebuah buku foto.

“Saya akan mengawal keinginan ini dan akan merealisasikannya segera. Kita akan berkoordinasi dengan pemerintah Kota Bitung agar hal yang sangat baik ini segera terwujud,” ujar Khouni, Jumat (22/3/2019).

Khouni yang ikut bersama dalam diskusi di sela-sela Pameran Foto #MariJoKaTangkoko itu menjelaskan bahwa program Pemkot Bitung di bidang pariwisata dengan 5 Pesonanya harus didukung semua pihak.

Dukungan dari masyarakat Batuputih adalah penting untuk menunjang point Pesona Flora dan Pesona Fauna dalam 5 Pesona Bitung itu. Sebab wilayah Batuputih adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Tangkoko.

Para pehobby fotografi TFOB telah memotret dengan sangat baik dan mengoleksi sekitar 85% kekayaan hayati yang ada di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, yang menjadi incaran para fotografer dari mancanegara.

“Maka sangatlah tepat jika karya anak-anak Batuputih harus diapresiasi dengan menerbitkannya dalam sebuah buku, ayo kita bekerja bersama-sama, jika perlu buku itu sudah bisa diterbitkan saat hari ulang tahun Bitung nanti,” harap Khouni.

Khouni yang juga merupakan duta yaki itu berharap buku soal Tangkoko yang dibuat oleh orang Batuputih sendiri bisa menjadi souvenir bagi para wisatawan yang mendatangi Bitung.

Ronny Buol dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) F/21 sangat berharap buku karya TFOB dan pehobby foto lainnya dari Batuputih bisa segera terbit.

“Kurang bagus apa foto-foto yang mereka hasilkan. Contohnya foto-foto yang dipamerkan ini, tak kalah bagusnya dengan karya fotografer-fotografer professional yang datang memotret di Tangkoko. Maka selayaknyalah karya-karya ini dibukukan,” kata Ronny.

Pameran yang dikoordinir oleh Selamatkan Yaki dan didukung oleh berbagai pihak termasuk Pemkot Bitung, BKSDA Sulut, EPASS, PPS Tasikoki, PKT, WCS, LPM f/21, Masyarakat Fotografi sangihe, Spot Photograhpy dan sebagainya itu akan berlangsung hingga Sabtu (23/3).

Reyni Palohoen dari Selamatkan Yaki menjelaskan bahwa tujuan utama dari pemeran foto ini adalah mengedukasi masyarakat Sulawesi Utara tentang kekayaan biodiversity yang dimilikinya.

“Seharusnya kita bangga dengan kekayaan ini. Lewat foto-foto yang indah ini, kami berharap masyarakat bisa paham bahwa flora dan fauna yang khas dan hanya ada di Sulut ini harus kita lestarikan bersama-sama,” jelas Reyni.

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com