Connect with us
Hosting Unlimited Indonesia

100 Tahun Tangkoko

Hendra Susanto bangga karyanya bisa menjadi monumen penting di Tangkoko

Published

on

zonautara.com

BITUNG, ZONAUTARA.com – Sebuah patung bertipe boss (setengah badan dari kepala ke dada tanpa lengan) kini berdiri megah di lokasi Pos 2 Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Tangkoko, Bitung.

Patung yang dicat dengan warna hitam pekat itu, menampakkan karaktrer kuat dari seorang tokoh terkenal di dunia konservasi. Dia adalah Alferd Russel Wallace.

Hendra Susanto (56) merupakan seniman yang dipercayakan mengerjakan patung yang berdiri di atas pondasi lebih dari satu meter yang dibungkus dengan keramik hitam itu.

Saat ditemui Zonautara.com, Rabu (20/2/2019), Hendra sedang menyelesaikan prasasti peresmian yang akan ditandatangani Walikota Bitung hari ini.

Seniman asal Jawa Barat ini mengungkapkan kebangaannya karena bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Walikota Bitung Maximilan Lomban.

Pemerintah Kota Bitung menginisiasi pembuatan monumen patung Wallace, untuk mengenang kontribusi yang diberikan Wallace pada kawasan Tangkoko.

“Tentu bangga, karya saya bisa menjadi bagian dari upaya pelestarian alam dan isinya di Tangkoko ini. Saya juga mencintai alam. Anak-anakpun demikian,” ujar Hendra.

Hendra yang telah bergelut dengan dunia seni luksi serta seni patung puluhan tahun ini, sudah lama berdomisili di Bitung. Dia bahkan menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Peternakan, Universitas Sam Ratulangi.

Patung Wallace itu dikerjakan Hendra sekitar satu bulan lamanya. Walau dirasa target waktu penyelesaiannya yang terlalu sempit, namun Hendra merasa puas dengan karyanya.

“Yang paling sulit dalam membuat patung orang, apalagi seorang tokoh, adalah bagaimana menjadikan patung itu ‘bernyawa’,” jelas Hendra.

Untuk mendapatkan karakter yang bisa dihidupkan lewat patung, Hendra mempelajari berbagai sumber tentang Wallace. Dia mencari foto saat Wallace masih muda dan foto tertua Wallace.

“Saya lalu mengkombinasikan foto-foto itu untuk menggambarkan wajah Wallace dalam patung ini,” kata Hendra.

zonautara.com
Patung Alfred Russel Wallace di Taman Wisata Alam Batuputih Tangkoko. (Foto: zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Wallace (1823-1913) sendiri merupakan seorang naturalis, ahli biologi, penjelajah, geografer dan antropolog dari Britania Raya. Dia menjelajahi Nusantara pada selang waktu 1856 – 1862. Dalam penjelajahannya itu, Wallace mengumpulkan berbagai spesimen flora dan fauna yang ditemuinya.

Wallace tiba di Batuputih pada 1859. Dia menjelajah di Minahasa dalam selang waktu 10 Juni hingga 23 September 1859. Selama seminggu pada bulan September dia berada di Batuputih, dan membawa beberapa spesimen satwa termasuk spesimen Maleo.

Patung Wallace merupakan karya teranyar Hendra di Bitung yang dibuat dari beton. Sebelumnya dia telah melahirkan karya berupa patung Cakalang yang terkenal itu, patung Yesus di pulau Lembeh, tugu Adipura serta patung Tarsius, Kuda Laut dan Yaki.

Editor: Ronny Adolof Buol

100 Tahun Tangkoko

Buku foto karya orang Batuputih segera direalisasikan

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Kejutan menggembirakan dirasakan pehobby fotografi yang tergabung dalam komunitas Tukang Foto Orang Batuputih (TFOB) saat menggelar pameran foto di Manado Town Square (Mantos) 3.

Istri Walikota Bitung Khouni Lomban Rawung merespon keinginan TFOB untuk mengabadikan karya-karya foto mereka dalam sebuah buku foto.

“Saya akan mengawal keinginan ini dan akan merealisasikannya segera. Kita akan berkoordinasi dengan pemerintah Kota Bitung agar hal yang sangat baik ini segera terwujud,” ujar Khouni, Jumat (22/3/2019).

Khouni yang ikut bersama dalam diskusi di sela-sela Pameran Foto #MariJoKaTangkoko itu menjelaskan bahwa program Pemkot Bitung di bidang pariwisata dengan 5 Pesonanya harus didukung semua pihak.

Dukungan dari masyarakat Batuputih adalah penting untuk menunjang point Pesona Flora dan Pesona Fauna dalam 5 Pesona Bitung itu. Sebab wilayah Batuputih adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Tangkoko.

Para pehobby fotografi TFOB telah memotret dengan sangat baik dan mengoleksi sekitar 85% kekayaan hayati yang ada di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, yang menjadi incaran para fotografer dari mancanegara.

“Maka sangatlah tepat jika karya anak-anak Batuputih harus diapresiasi dengan menerbitkannya dalam sebuah buku, ayo kita bekerja bersama-sama, jika perlu buku itu sudah bisa diterbitkan saat hari ulang tahun Bitung nanti,” harap Khouni.

Khouni yang juga merupakan duta yaki itu berharap buku soal Tangkoko yang dibuat oleh orang Batuputih sendiri bisa menjadi souvenir bagi para wisatawan yang mendatangi Bitung.

Ronny Buol dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) F/21 sangat berharap buku karya TFOB dan pehobby foto lainnya dari Batuputih bisa segera terbit.

“Kurang bagus apa foto-foto yang mereka hasilkan. Contohnya foto-foto yang dipamerkan ini, tak kalah bagusnya dengan karya fotografer-fotografer professional yang datang memotret di Tangkoko. Maka selayaknyalah karya-karya ini dibukukan,” kata Ronny.

Pameran yang dikoordinir oleh Selamatkan Yaki dan didukung oleh berbagai pihak termasuk Pemkot Bitung, BKSDA Sulut, EPASS, PPS Tasikoki, PKT, WCS, LPM f/21, Masyarakat Fotografi sangihe, Spot Photograhpy dan sebagainya itu akan berlangsung hingga Sabtu (23/3).

Reyni Palohoen dari Selamatkan Yaki menjelaskan bahwa tujuan utama dari pemeran foto ini adalah mengedukasi masyarakat Sulawesi Utara tentang kekayaan biodiversity yang dimilikinya.

“Seharusnya kita bangga dengan kekayaan ini. Lewat foto-foto yang indah ini, kami berharap masyarakat bisa paham bahwa flora dan fauna yang khas dan hanya ada di Sulut ini harus kita lestarikan bersama-sama,” jelas Reyni.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Hosting Unlimited Indonesia

Trending