Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Investor Filipina, Hongkong hingga Cina siap tanam modal di Sulut

Perwakilan mereka sudah bertemu dengan Pemprov Sulut.

Bagikan !

Published

on

Wagub Sulut saat berbincang dengan para investor. (Foto: Humas Pemprov)

MANADO, ZONAUTARA.com Investor dari berbagai negara di dunia terus melirik potensi yang ada di Sulawesi Utara (Sulut). Mereka pun menyatakan siap menanamkan modal di Bumi Nyiur Melambai ini.

Teranyar, tiga investor yang berasal dari Filipina, Hongkong hingga Cina pun datang bertandang ke Sulut dan bertemu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut.

Kehadiran para investor tersebut diterima Wakil Gubernur (Wagub) Sulut Steven O. E Kandouw, Kamis (25/7/2019) lalu.

“Saya secara marathon menerima para investor dari Cina, Hongkong dan Filipina. Ada tiga investor yang menemui saya. Tentunya pihak pemerintah provinsi atas nama Pak Gubernur Olly menyambut baik jika ada investor atau pengusaha yang ingin menanamkan modal di daerah ini,” ujarnya.

Wagub mengatakan, dalam pertemuan dengan para investor tersebut ditegaskan, bahwa Gubernur Oly Dondokambey menyambut baik dan secara terbuka memberikan kesempatan bagi siapa saja yang berkeinginan berinvestasi di daerah karena akan berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi Sulut.

“Yang terpenting pegusaha atau investor tidak melanggar aturan dan sesuai regulasi yang ada,” tegasnya.

Diketahui, saat menerima Konjen Indonesia di Davao Filipina, selain membahas kerjasama internal, juga terkait tindak lanjut penerbangan Manado–Davao, serta jalur perdagangan laut kapal Roro. Pertemuan ini pun untuk menindaklanjuti Air Connection Sulut-Filipina dibuka kembali.

Selain itu pun, adanya permintaan untuk peningkatan kerjasama budaya, seperti tim kesenian di daerah ini yang bisa berkunjung ke Filipina. Pihak Filipina, lanjut Wagub, siap menerima kopra, jagung dan rempah lainnya.

Turut hadir dan mendampingi Wagub Sulut, Asisten II Setdaprov Sulut, Staf Khusus Gubernur, Staf Ahli Gubernur, Dinas PM-PTSP dan Biro Ekonomi Setdaprov Sulut.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !

Ekonomi dan Bisnis

Menimbang terbaik antara rokok tembakau atau rokok elektrik

Rokok elektronik 95 persen lebih tidak berbahaya bagi kesehatan.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Persoalan kebiasaan merokok bagi seseorang memang tak mudah diatasi. Apalagi kebiasaan di Indonesia. Wajar saja jika di Indonesia produksi per tahun dari sekitar 400 perusahaan rokok tembakau mencapai 252 miliar batang.

Di antara kecemasan penurunan produksi sekitar 20 persen akibat ancaman rencana pemberlakuan kenaikan tarif cukai rokok oleh pemerintah yang rata-rata sebesar 21,56 persen dan juga kenaikan harga jual eceran mencapai 23 persen, rokok tembakau kini punya penantang baru, yaitu rokok elektrik.

Sementara bila ditimbang mana yang terbaik, rokok elektrik dinilai lebih unggul. Ranti Fayokun, peneliti National Capacity-Tobacco Control Prevention of Noncommunicable Diseases dan juga perwakilan WHO, menyatakan bahwa produk rokok konvensional atau rokok tembakau lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok elektrik.

zonautara.com
Ilustrasi (Pixabay.com)

Pernyataan Fayokun tersebut disampaikan dalam sesi dengar pendapat yang diadakan oleh House of Representatives Philipina, Desember 2019, seperti yang dirilis Suara.com. Fayokun mengatakan, pernyataannya tersebut didukung berdasarkan hasil penelitian Public Health England, yang merupakan bagian dari Department of Health and Social Care United Kingdom.

Duncan Selbie selaku Chief Executive Public Health England menyatakan bila rokok elektronik 95 persen lebih tidak berbahaya bagi kesehatan dibandingkan rokok biasa, serta berpotensi membantu perokok untuk berhenti.

Memang vape tidak 100 persen aman, namun kebanyakan zat yang menyebabkan penyakit karena merokok tidak ditemukan pada vape, serta bahan kimia yang ada menimbulkan bahaya yang terbatas.

Pernyataan dari Fayokun diperkirakan akan berpengaruh bagi pengguna vape dan rokok elektrik di Indonesia. Di Indonesia sendiri, hingga Desember 2019 pengguna vape di Indonesia sudah mencapai satu juta orang. Data tersebut diperoleh dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia.

Berdasarkan berbagai penelitian, produk alternatif ini memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kanker, serangan jantung, diabetes dan lainnya. Di sisi lain, pengguna vape di Indonesia berasal dari berbagai kalangan profesi.

Sementara Ketua Umum Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) Syaiful Hayat mengatakan bahwa APPNINDO menyambut baik hasil penelitian mengenai rokok elektrik. Pada kenyataannya, rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional karena risiko terhadap kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih rendah.

“Hal tersebut menjadikan rokok elektrik sebagai alternatif bagi rokok konvensional. Kami terbuka untuk diskusi agar peraturan terkait rokok elektrik di Indonesia dapat menunjukkan dampak positif untuk produktivitas dan kesehatan masyarakat,” lanjutnya.

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com