Connect with us

CARI TAHU

Pos Indonesia, jejak sejarah di tengah serbuan digitalisasi

Pelayanan pos telah berumur 273 tahun.

Published

on

Kantor Pos di Kota Tua Jakaraty. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

ZONAUTARA.com – Sejak berdiri tahun 1746, Pos Indonesia punya perjalanan yang berliku dan panjang. Pelayanan pos dalam dan luar negeri yang hampir genap berumur 273 tahun ini tengah mengalami krisis persaingan bisnis e-commerce namun masih berdiri hingga kini.

Bila menengok sejarah panjang Pos Indonesia, kita akan mendapat runutan peristiwa yang menarik. Kantor Pos pertama didirikan Gubernur Jenderal G.W Baron van Imhoff pada tanggal 26 Agustus 1746 di Batavia (sekarang Jakarta). Kantor Pos ini didirikan dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi mereka yang berdagang dari kantor-kantor di luar Jawa dan bagi mereka yang datang dari dan pergi ke Negeri Belanda.

Sejak itulah pelayanan pos telah lahir mengemban peran dan fungsi pelayanan kepada publik. Setelah Kantorpos Batavia didirikan, empat tahun kemudian didirikan Kantor Pos Semarang untuk mengadakan perhubungan pos yang teratur antara kedua tempat itu dan untuk mempercepat pengirimannya. Rute perjalanan pos kala itu ialah melalui Karawang, Cirebon, dan Pekalongan.

Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status dimulai dari statusnya sebagai Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).

Berikut ini sejumlah runutan peristiwa penting yang berkaitan dengan eksistensi Pos Indonesia:

1875 – POSTEN TELEGRAFDIENST

Pada tahun ini dinas pos disatukan dengan dinas telegrap dengan status jawatan dengan nama POSTEN TELEGRAFDIENST.

1877 – Union Postale Universelle

Sejak pemerintahan kolonial dinas pos pemerintahan Belanda sudah berhubungan dalam pengiriman surat dan barang secara internasional, sehingga tercatat sebagai anggota Union Postale Universelle (UPU).

1945 – Hari Bakti POSTEL

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia, jawatan PTT dikuasai oleh militer Jepang, 27 September 1945 Angkatan Muda PTT mengambil alih kekuasaan PTT dan secara resmi berubah menjadi Jawatan PTT Republik Indonesia. Peristiwa tersebut diperingati menjadi hari bakti PTT atau hari bakti POSTEL.

1965 – PN Pos dan Giro

Mengamati perkembangan zaman dimana sektor pos dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahan Negara dan Giro (PN Pos dan Giro).

1978 – Perusahaan Umum Pos dan Giro

Dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perusahaan Umum Pos dan Giro yang sejak ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri.

1995 – PT. Pos Indonesia (Persero)

Selama 17 tahun berstatus Perusahaan Umum. Pada tanggal 20 Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Editor: Rahadih Gedoan

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Infografis: Riwayat panjang Pos Indonesia sejak berdiri tahun 1746 - Tak sekadar menyajikan berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ZONAPEDIA

Festival Budaya Lembah Baliem bersolek gagah

Published

on

zonautara.com

JAYAWIJAYA, ZONAUTARA.com – Didatangi wisatawan domestik dan mancanegara, Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2019 bersolek dengan gagah. Pada pembukaan FBLB yang dipusatkan di lapangan terbuka di Distrik Welesi, Rabu (07/08/2019), terlihat spektakuler dengan berbagai atraksi budaya serta produk-produk budaya dan kerajinan tangan yang dipamerkan warga lokal.

Acara pembukaan kegiatan yang mengangkat tema Warisan Budaya sebagai Jejak Peradaban dan subtema Peradaban Seni dan Budaya Suku Hula sebagai Aset dan Warisan Nusantara ini diwarnai dengan tarian kolosal pelajar tingkat SMA yang mengekspresikan tradisi dan budaya suku Ubula yang mendiami Lembah Baliem.

Pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia noken terpanjang yakni sepanjang 30 meter turut memberi kesan yang hampir tidak bisa dibahasakan dengan kata-kata. Noken merupakan tas tradisional khas orang Papua yang terbuat dari anyaman jerami yang rumit dan bernilai seni tinggi.

Baca: Festival tertua, jejak perang suku di tanah Papua

Peserta yang meramaikan kegiatan FBLB ini tercatat berasal dari 40 distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya. Mereka semua mengisi berbagai kegiatan, termasuk jenis-jenis lomba yang di antaranya Lomba Perang-perangan, Lomba Tarian, Lomba Tiup Musik Tradisional, Karapan Babi, Anyaman Noken, Membuat Baju Noken, serta Lomba Lempar Sege dan Panahan.

Ada 23 peserta yang terlibat dalam Lomba Perang-perangan, 17 peserta yang mengikuti Lomba Tarian, dan 26 peserta yang memeriahkan Lomba Tiup Musik Tradisional. Pada Karapan Babi diikuti sebanyak 20 peserta, Anyaman Noken diikuti 20 peserta, dan Membuat Baju Noken dimeriahkan 7 peserta.

Sementara pada Lomba Lempar Sege dan Panahan yang dihebohkan para peserta yang berasal dari perwakilan berbagai Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Jayawijaya.

zonautara.com
Perempuan-perempuan Papua dengan baju dan tas noken pada momentum pembukaan, Rabu (07/08/2019).(Foto: zonautara.com/Ronny Buol)

Bupati Jayawijaya John Richard Banua mengatakan, konsep FBLB di tahun 2019 ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya karena adanya penambahan tiga arena, kampung festival, kampus festival, dan pasar festival. Tujuannya agar pengunjung dapat melihat dan mempelajari miniatur jejak peradaban suku Hula.

“FBLB telah memberi dampak positif dan membentuk pola pikir masyarakat lokal di Jayawijaya. Masyarakat kota Wamena dan sekitarnya semakin mengerti bahwa perang suku sangat merugikan kehidupan sosial masyarakat lokal,” kata Bupati John.

Menurutnya, menjadi sarana melindungi nilai-nilai seni dan budaya masyakat Baliem yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya nusantara.

“Pemerintah Kabupaten Jayawijaya akan terus memberikan perhatian yang serius terhadap kemajuan wisata dan perlindungan terhadap kebudayaan lokal karena secara langsung akan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Bupati John.

Baca juga: Yohana jadi menteri pertama hadiri Festival Budaya Lembah Baliem

Laporan: Ronny Buol

Editor: Rahadih Gedoan

Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com