Connect with us

Zona Bolmong Raya

Tunjangan anggota DPRD Bolmong dinilai pemborosan

Tunjangan transportasi dari sebelumnya Rp 13 juta turun menjadi Rp 10 juta.

Bagikan !

Published

on

BOLMONG, ZONAUTARA.com – Penghasilan anggota DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) periode 2019-2024 berkurang dari penghasilan periode sebelumnya.

Pasalnya, berdasarkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK-RI atas pengelolaan keuangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmong tahun anggaran 2018, bahwa tunjangan perumahan dan transportasi pimpinan dan anggota DPRD Bolmong dinilai suatu pemborosan keuangan daerah.

Berdasarkan LHP, BPK menilai, bahwa tunjangan perumahan dan transportasi pimpinan dan anggota DPRD Bolmong tidak berdasarkan pertimbangan teknis yang sesuai ketentuan serta tidak memperhatikan standar harga provinsi.

Atas pertimbangan tersebut, dalam LHP BPK disebutkan adanya kelebihan pembayaran atas tunjangan perumahan dan transportasi pimpinan dan anggota DPRD Bolmong tahun 2018 sebesar Rp 63.750.000. Sehingga itu, Pemkab Bolmong kembali melakukan revisi terhadap tunjangan perumahan dan transportasi pimpinan dan anggota DPRD Bolmong dengan mengacu pada pertimbangan teknis.

Kepala Bagian Hukum Pemkab Bolmong, Hardiman Pasambuna mengatakan, perubahan penetapan tunjangan perumahan dan transportasi pimpinan dan anggota DPRD Bolmong ditetapkan dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 23 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas Perbup nomor 30 tahun 2017.

“Iya, sudah direvisi dengan mengacu pada hasil kajian instansi teknis terkait. Untuk tunjangan transportasi ada kajian teknis dari Dinas Perhubungan. Sementara untuk tunjangan perumahan mengacu pada kajian teknis dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman,” kata Hardiman, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (18/9/2019).

Terpisah, Sekretaris DPRD Bolmong, Yahya Fasa turut membenarkan hal tersebut. Ia menyebutkan, tunjangan perumahan ketua DPRD sebelumnya Rp 15 juta turun menjadi RP 13,2 juta. Sementara untuk wakil ketua sebelumnya Rp 14,5 juta turun menjadi Rp 11 juta. Dan untuk anggota sebelumnya Rp 12 juta turun menjadi Rp 6,6 juta.

“Kalau untuk transportasi, sebelumnya Rp 13 juta dan turun menjadi Rp 10 juta. Tapi untuk tunjangan transportasi hanya bagi anggota DPRD saja. Karena untuk pimpinan sudah ada kendaraan dinas. Jadi tidak lagi menerima tunjangan transportasi,” sebut Yahya Fasa.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, berdasarkan perubahan tersebut, penghasilan anggota DPRD Bolmong rata-rata mengalami pengurangan. Dijelaskan, bahwa perubahan tersebut sudah berlaku sejak Juni 2019 lalu. Jadi, anggota DPRD periode sebelumnya juga sudah mengalami penurunan penghasilan untuk tiga bulan terakhir.

“Kalau untuk gaji pokok pimpinan dan anggota DPRD itu rata-rata sama yakni Rp 2.100.000,” jelas Yahya Fasa.

Sebelumnya, Ketua DPRD Bolmong, Welty Komaling juga mengaku proaktif atas teguran yang disampaikan BPK lewat LHP.

“Iya, kita akan tindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi BPK,” singkatnya.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !

Hukum dan Kriminal

Warga Sauk geger, tengkorak manusia ditemukan tertancap di batang mangrove

Sulit diidentikasi, diperkirakan berusia puluhan tahun.

Bagikan !

Published

on

BOLMONG, ZONAUTARA.com – Warga Desa Sauk, Kecamatan Lolak sempat dibuat geger dengan penemuan tengkorak manusia di kawasan hutan mangrove desa tersebut.

Tengkorak pertama kali ditemukan Mateos Lagungtihokang (57), warga Desa Baturapa Satu, Kecamatan Lolak yang tengah mencari bibit mangrove.

Kepada wartawan, Mateos mengaku diminta pihak kehutanan untuk mencari bibit mangrove untuk di bawa ke Likupang, Minahasa Utara.

Tepatnya, Kamis (9/1/2020), sekitar pukul 15.00 Wita, dirinya yang hanya seorang diri kaget luar biasa karena mendapati benda yang mirip tengkorak manusia tertancap di batang tanaman mangrove.

Dia langsung pulang ke rumahnya di Desa Baturapa Satu. Dan menceritakan apa yang dia lihat kepada orang-orang sekitar rumahnya. Sepertinya tidak ada yang percaya. Dikira hanya bergurau.

Senin (13/1/2020), saat kerja bakti di gereja, dia kembali bercerita ke beberapa orang. Akhirnya ada yang percaya dan langsung mendatangi lokasi penemuan.

“Tapi saat itu sudah sore. Jadi kita laporkan besoknya ke Polsek Lolak,” kata Mateos.

Selasa (14/1/2020), saat menerima laporan, anggota kepolisian dipimpin langsung Kapolsek Lolak mendatangi lokasi penemuan dan membawa tengkorak itu ke Puskesmas Lolak untuk diperiksa apakah betul itu tengkorak manusia.

Kapolsek Lolak, AKP A.R Faudji SH.MH membenarkan adanya kejadian penemuan tengkorak tersebut.

“Benar warga Desa Sauk menemukan tengkorak manusia bersama pakaian kemeja kotak-kotak. Sejak menerima laporan dari warga setempat, saya bersama anggota langsung turun ke TKP, kemudian membawa tengkorak ke Puskesmas Lolak untuk dilakukan visum,” kata Faudji saat ditemui di ruang kerjanya.

Lanjutnya, saat ini tengkorak tersebut telah diserahkan pihak Polsek ke Pemerintah Desa Sauk untuk dimakamkan. Kata dia, tengkorak tersebut berdasarkan hasil visum diperkirakan telah meninggal sekitar 6-7 tahun yang lalu.

“Namun ketika ada masyarakat yang kehilangan segera melapor ke polsek, kita akan galih kembali agar keluarga bisa mengetahui sepenuhnya bahwa itu benar keluarga mereka. Jenis kelamin pun belum diketahui. Karena diduga tengkorak tersebut meninggal di laut dan terseret arus hingga ke hutan mangrove. Pasalnya hanya tengkorak saja, sedangkan anggota tubuh lainnya tidak ada,” ujarnya.

Dengan adanya penemuan tengkorak itu kata Faudji, pihaknya masih terus mencari dan membuka ruang bagi masyarakat yang kehilangan salah satu anggota keluarga mereka.

“Pastinya kasus ini akan terus didalami sampai diketahui asal tengkorak tersebut,” tutupnya.

Dokter Bagus, yang saat itu melakukan pemeriksaan turut membenarkan adanya pemeriksaan tengkorak manusia yang ditemukan warga. Menurut dia, diperkirakan tengkorak tersebut sudah berusia puluhan tahun.

Di sisi lain, secara medis kata Dokter Bagus, untuk identifikasi sudah sulit dilakukan karena yang ditemukan tinggal tulang tengkorak saja.

“Secara medis ini sulit. Dan kecil kemungkinan untuk bisa teridentifikasi. Karena tidak ada data pendukung lain. Misalnya gigi atau rambut. Tapi ini yang ditemukan hanya tinggal tulang tengkorak saja,” sahutnya.

Menariknya, disaat yang sama, Jumrin Batalipu (50), warga Desa Labuan Uki, Kecamatan Lolak mengaku pernah kehilangan anggota keluarganya pada 2012 silam.

Adalah Rijal Batalipu (24), warga desa Pasir Putih, Kecamatan Lolak yang merupakan keponakan dari Jumrin itu dinyatakan hilang saat memancing ikan di laut Pulau Tiga bersama satu orang rekannya menggunakan perahu.

“Sekitar Januari 2012. Dia berangkat dari rumah bersama rekannya pagi sekitar pukul 07.00 Wita. Pukul 14.00 Wita temannya pulang tapi tinggal dia sendiri. Kemudian memberi kabar kepada keluarga bahwa Rijal jatuh di laut saat memancing dan dia tidak berdaya untuk menolong karena laut bergelombang dan angin cukup kencang saat itu,” ungkap Jumrin kepada sejumlah wartawan di Mapolsek Lolak, Selasa (14/1/2020).

Tapi dari pihak keluarga saat itu merasa ada kejanggalan dari semua cerita yang disampaikan rekan korban. Berbelit-belit dan tidak masuk di akal. Keluarga langsung melaporkan ke aparat kepolisian dan langsung melakukan pencarian bersama beberapa warga. Sayang tidak membuahkan hasil.

“Rijal hilang sampai sekarang,” tuturnya.

Dari kepolisian juga saat itu hanya menyimpulkan bahwa itu kecelakaan karena tidak ada saksi mata ataupun barang bukti yang mengarah ke dugaan-dugaan lain.

“Atas hasil tersebut pihak keluarga hanya bisa pasrah. Dan sampai hari ini tidak diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Yang ditemukan ini juga hanya tengkorak kepala saja. Jadi tidak bisa diketahui itu tengkorak siapa. Kalau ada uang mungkin bisa dilakukan pemeriksaan lebih dalam lagi,” pungkasnya.

 

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com