Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

Iskandar dan Bento, 2 orangutan pulang ke Kalimantan

Keduanya ditranslokasi dari Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, Sulawesi Utara.

Bagikan !

Published

on

Dua Orangutan di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara bersama mitranya, Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki (Yayasan Masarang) dan BKSDA Kalimantan Timur bersama mitranya yaitu Pusat Suaka Orangutan ARSARI (Yayasan ARSARI Djojohadikusumo) melakukan translokasi Orangutan.

Kedua Orangutan yang telah diberi nama Iskandar dan Bento itu merupakan individu Orangutan Kalimantan jantan (Pongo pygmaeus) akan ditranslokasikan ke Pusat Suaka Orangutan Arsari (Yayasan Arsari Djojohadikusumo). Orangutan Kalimantan tersebut merupakan hasil sitaan aparat penegak hukum di tahun 2004 dan 2005 silam.

Awal mulanya Iskandar dan Bento bisa berada di Sulawesi Utara, dan jauh dari rumahnya di Kalimantan karena diselamatkan dari upaya perdagangan ilegal oleh aparat gabungan, yang mengetahui adanya penyelundupan jenis-jenis satwa dari Kalimantan.

Tujuan para penyelundup adalah Filipina. Upaya penyelundupan ini berhasil digagalkan pada tanggal 30 Oktober 2004, sebelum pelaku berhasil mencapai Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara.

Kandang translokasi Iskandar dan Bento. (Foto: Noldy Pinontoan)

Kala itu Iskandar diperkirakan berumur kurang lebih satu atau dua tahun. Bento sendiri diselamatkan pada tanggal 8 September 2005 dari peliharaan ilegal di sebuah rumah di Manado, dan Bento berumur lima tahun ketika diselamatkan.

Untuk setiap bayi Orangutan yang ditangkap untuk diperdagangkan sebagai peliharaan, paling tidak ada satu Orangutan dewasa yang harus mati. Bayi Orangutan akan hidup menggantung pada tubuh induknya sampai dengan umur lima tahun. Cara satu-satunya untuk mengambil bayi Orangutan tersebut dari induknya adalah dengan membunuh induknya.

Ancaman terbesar bagi populasi Orangutan adalah kehilangan habitat, akibat deforestasi, alih fungsi hutan, maupun kebakaran hutan. Untuk itu badan Konservasi dunia IUCN memasukkan Orangutan Kalimantan dalam kategori Kritis (Critically Endangered), yang artinya sudah sangat hampir punah.

Pemerintah Indonesia sendiri telah memasukan Orangutan sebagai satwa dilindungi, dan merupakan salah satu dari 25 jenis Satwa Prioritas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Secara genetik Orangutan memiliki kesamaan DNA sebesar 97% dengan manusia. Habitat Orangutan terdapat di wilayah hutan hujan tropis. Mereka biasa tinggal di pepohonan yang lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan kering, perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering, diatas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan.

Meskipun Orangutan termasuk hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuhan makanan mereka antara lain berupa buah-buahan, bunga, kulit pohon, dedaunan, nectar madu dan jamur.

Iskandar dan Bento merupakan Orangutan yang beruntung dapat pulang kembali lagi ke tanah kelahirannya di Kalimantan. Masih cukup banyak Orangutan lain yang saat ini masih berada di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) lainnya di Jawa menunggu untuk kembali ke Kalimantan.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lingkungan dan Konservasi

6 ekor Sampiri, kembali lagi ke tanah kelahirannya

Enam ekor Sampiri dilepasliarkan kembali ke Karakelang di Talaud.

Bagikan !

Published

on

Burung Sampiri yang dibawa ke Talaud (Foto: PIS Taluad)

MANADO, ZONAUTARA.com – Sebanyak enam ekor burung Nuri Talaud atau yang dalam bahasa lokal disebut Sampiri, akhirnya bisa kembali lagi ke tanah kelahirannya di pulau Karakelang, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Keenam ekor Sampiri ini sebagian merupakan burung sitaan pada tahun 2013. Saat itu lebih dari seratus ekor Sampiri berhasil disita dari upaya penyelundupan keluar dari Talaud.

Burung-burung endemik Talaud itu kemudian direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki di Minahasa Utara. Selama proses rehabilitasi itu, burung yang dilindungi ini harus dipulihkan kondisinya sebelum kembali dilepasliarkan di habitatnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut Noel Layuk Allo mengatakan bahwa dikembalikannya Sampiri itu merupakan kerjasama pihaknya dengan PPS Tasikoki dan Yayasan Idep Selaras.

“Burung itu dulunya akan diselundupkan ke Filipina. Regulasi melarang perdagangan satwa liar dilindungi, jadi disita dan direhabilitasi,” jelas Noel, Jumat (15/11/2019).

Keenam ekor burung yang dikembalikan itu diangkut dengan kapal ke Talaud pada Kamis (14/11). Dua staff dari PPS Tasikoki membawanya dalam kotak khusus. Sebelumnya keenam ekor burung itu telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan termasuk flu burung, anatomi fisik serta habituasi (pengamatan perilaku).

Kepala Resort KSDA TSM Karakelang Utara beserta staff, PIS, KPAD, serta beberapa pemerhati lingkungan menyambut kedatangan Sampiri yang dikembalikan ke tanah kelahirannya itu.

Usai diperiksa kondisinya di Pusat Informasi Sampiri (PIS), sebuah organisasi lokal di Beo, Talaud, keenam ekor Sampiri itu menjalani masa aklimatisasi sebelum benar-benar dilepasliarkan.

Ade Jullinar Bawole dari PIS Talaud menjelaskan, keenam ekor Sampiri itu akan dilepasliarkan di desa Ensem yang berbatasan dengan TSM Karakelang Utara.

“Di wilayah itu masih banyak dijumpai pohon tidur dan banyak juga pohon pakan. Itu berdasarkan suveri PIS beserta KPAD Purunan serta kelompok pecinta alam desa,” jelas Bawole.

Desa Ensem juga merupakan satu dari tujuh desa konservasi di Kabupaten Kepulauan Talaud yang didorong pembentukannya oleh Ide Selaras.

Bawole berharap, kembalinya Sampiri bisa menjadi momen pengingat bagi semua pihak, agar tak ada lagi satwa endemik yang dilindungi yang ditangkap dan diperdagangkan.

“Jika bisa tak ada lagi istilah translokasi atau back home. Kita semua harus peduli dengan kekayaan Talaud bahkan dunia,” tambah Bawole.

Burung yang dilindugi

Sampiri atau red and blue lory (Eos histrio talautensis) merupakan burung jenis nuri endemik pulau Talaud yang masuk dalam daftar Apendix I CITES, yang melarang perdagangan jenis ini baik secara nasional maupun internasional.

Sampiri juga dilindungi dengan Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106/MENLHK/Setjen/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Permen LHK nomor P.20/MENLHK/Setejn/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Tak hanya itu, Sampiri bahkan telah dilindungi melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud nomor 1 tahun 2018 tentang Perlindungan Burung Sampiri.

Berdasarkan data dan jurnal ilmiah, Sampiri diketahui tersisa di Kabupaten Talaud dan hanya ada di pulau utama, Karakelang.

Populasi Sampiri semakin terancam oleh perubahan pada areal habitatnya akibat permbukaan lahan dan penebangan liar. Ancaman terhadap populasi Sampiri juga datang dari perburuan dan perdagangan.

Pusat Informasi Sampiri di Talaud melaporkan masih ada aktivitas penangkapan terhadap Sampiri, dan akhir-akhir ini mulai marak kembali warga yang memelihara Sampiri di rumah mereka, baik di pulau Karakelang maupun di pulau-pulau lainnya di Talaud.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading
Advertisement

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com