bar-merah

Tak perlu jadi Presiden, kini Prabowo bisa wujudkan visinya sewaktu Pilpres

Menhan Prabowo Subianto
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat menghadiri pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Minggu (20/10). [Suara.com/Arya Manggala]

ZONUTARA.com – Prabowo Subianto yang menjadi rival Jokowi dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019 lalu, kini menjadi pembantu presiden dalam jabatan Menteri Pertahanan (Menhan) Kabinet Indonesia Maju.

Presiden Jokowi telah melantik seluruh menteri Kabinet Indonesia Maju termasuk Prabowo di Istana Negara pada Rabu (23/10/2019) kemarin.

Posisi Prabowo saat ini sebagai Menhan bisa jadi jalan baginya untuk mewujudkan salah satu visinya ketika berkampanye bersama Sandiaga Uno pada Januari 2019.

Waktu itu dalam Debat Pilpres, Prabowo mengeritik pemerintah yang tidak memberi porsi anggaran besar bagi pertahanan, sehingga TNI menurutnya tidak akan mampu berperang dalam jangka waktu yang lama.

Menhan Prabowo Subianto
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat menghadiri pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Minggu (20/10). [Suara.com/Arya Manggala]

Kritikan Prabowo kala itu didasarkan pada pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

“Menteri Pertahanan mengatakan kalau Indonesia terpaksa menghadapi perang hari ini, kita hanya bisa bertahan selama tiga hari,” ujar Prabowo waktu itu (14/1).

Meski kemudian Ryamizard membantah dan bilang Indonesia mampu berperang dalam waktu yang lama karena memiliki pabrik sendiri untuk memenuhi kebutuhan perang.

Prabowo kemudian menyoal pertahanan Indonesia yang cenderung masih lemah dibanding negara lain.

Baca juga: Prabowo jadi Menhan, akan ada “matahari kembar”?

Menurut Prabowo, alutsista milik Indonesia masih di bawah standar, jika melihat wilayah Indonesia yang begitu luas.

“Kapal selam berapa yang kita miliki? Jenisnya berapa? Kemampuannya berapa? pesawat berapa? Kita negara seluas Eropa, berapa sky drone fighter? Kita punya peluru kendalinya berapa Pak (Jokowi)? ” tuturnya pada Maret lalu (31/3) saat Debat Pilpres yang keempat.

“Begitu saja Pak (Jokowi), kalau ada armada asing masuk ke laut kita, apa yang kita bisa buat? Jadi bukan saya tidak percaya. Saya ini TNI, Pak (Jokowi). Saya pertaruhkan nyawa di TNI. Saya lebih TNI dari banyak TNI.

Prabowo juga menyentil soal anggaran pertahanan yang sangat minim, hanya 5 persen dari APBN, sementara negara seperti Singapura saja punya anggaran pertahanan mencapai 30 persen dari total APBN mereka.

Adapun visi Prabowo sewaktu Pilpres lalu di bidang pertahanan dan keamanan antara lain, meningkatkan kemampuan industri strategis nasional dalam memenuhi alutsista.

Kemudian, Prabowo ingin memperkuat dan mengembangkan kapabilitas badan pertahanan siber. Terkait kedaulatan, Prabowo bertekad memperkuat kehadiran TNI di daerah perbatasan dan pulau terluar yang rawan konflik.

Dia pun ingin memperkuat sinergi TNI dan Polri dalam pencegahan serta penanggulangan aksi terorisme.

Kini Prabowo sudah menjadi bagian dari Pemerintahan Jokowi. Apakah kemudian visinya di bidang pertahahan dan keamanan tersebut bisa diwujudkan sebagaimana yang dia inginkan?.

Visi Presiden

Dalam pengumuman calon menteri Kabinet Indonesia Maju, Presiden Jokowi menegaskan kepada para pembantunya bahwa para menteri harus ingat, tidak ada visi menteri, yang ada visi presiden.

Penegasan itu kembali diulang Jokowi saat memimpin Sidang Kabinet pertama, Kamis (24/10) siang tadi. Jokowi bahkan menyinggung beberapa menteri dalam Kabinet Kerja lalu, tak mengindahkan hasil rapat kabinet seusuai visi presiden.

Pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, juga menilai Prabowo tidak bisa langsung menerapkan visi misi bidang pertahanan saat masih menjadi capres lalu. Prabowo, selaku bawahan, harus menyesuaikan diri dengan misi Jokowi tentang pertahanan.

Terlebih, kata Khairul, Prabowo dan Jokowi sebenarnya memiliki pandangan berbeda mengenai penguatan pertahanan. Itu terlihat pada debat capres semasa Pilpres 2019 lalu.

Kala itu, Jokowi menekankan pentingnya pertahanan siber. Sementara Prabowo lebih ingin menguatkan alutsista konvensional.

Menurut Khairul, perbedaan itu sudah tidak patut diperdebatkan mengingat keduanya sudah bersatu dalam kabinet. Kini tinggal menunggu gambaran rencana penguatan pertahanan Jokowi dan bagaimana Prabowo mengimplementasikannya.

“Ini sebenarnya peluang sekaligus tantangan bagi Prabowo sebagai pembantu presiden nantinya, untuk mengimplementasikan gagasan dan menyelaraskannya dengan agenda Presiden Jokowi dalam membangun pertahanan Indonesia,” ucap Khairul kepada CNNIndonesia.com.

Editor: Ronny Adolof Buol




Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com