Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

6 ekor Sampiri, kembali lagi ke tanah kelahirannya

Enam ekor Sampiri dilepasliarkan kembali ke Karakelang di Talaud.

Bagikan !

Published

on

Burung Sampiri yang dibawa ke Talaud (Foto: PIS Taluad)

MANADO, ZONAUTARA.com – Sebanyak enam ekor burung Nuri Talaud atau yang dalam bahasa lokal disebut Sampiri, akhirnya bisa kembali lagi ke tanah kelahirannya di pulau Karakelang, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Keenam ekor Sampiri ini sebagian merupakan burung sitaan pada tahun 2013. Saat itu lebih dari seratus ekor Sampiri berhasil disita dari upaya penyelundupan keluar dari Talaud.

Burung-burung endemik Talaud itu kemudian direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki di Minahasa Utara. Selama proses rehabilitasi itu, burung yang dilindungi ini harus dipulihkan kondisinya sebelum kembali dilepasliarkan di habitatnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut Noel Layuk Allo mengatakan bahwa dikembalikannya Sampiri itu merupakan kerjasama pihaknya dengan PPS Tasikoki dan Yayasan Idep Selaras.

“Burung itu dulunya akan diselundupkan ke Filipina. Regulasi melarang perdagangan satwa liar dilindungi, jadi disita dan direhabilitasi,” jelas Noel, Jumat (15/11/2019).

Keenam ekor burung yang dikembalikan itu diangkut dengan kapal ke Talaud pada Kamis (14/11). Dua staff dari PPS Tasikoki membawanya dalam kotak khusus. Sebelumnya keenam ekor burung itu telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan termasuk flu burung, anatomi fisik serta habituasi (pengamatan perilaku).

Kepala Resort KSDA TSM Karakelang Utara beserta staff, PIS, KPAD, serta beberapa pemerhati lingkungan menyambut kedatangan Sampiri yang dikembalikan ke tanah kelahirannya itu.

Usai diperiksa kondisinya di Pusat Informasi Sampiri (PIS), sebuah organisasi lokal di Beo, Talaud, keenam ekor Sampiri itu menjalani masa aklimatisasi sebelum benar-benar dilepasliarkan.

Ade Jullinar Bawole dari PIS Talaud menjelaskan, keenam ekor Sampiri itu akan dilepasliarkan di desa Ensem yang berbatasan dengan TSM Karakelang Utara.

“Di wilayah itu masih banyak dijumpai pohon tidur dan banyak juga pohon pakan. Itu berdasarkan suveri PIS beserta KPAD Purunan serta kelompok pecinta alam desa,” jelas Bawole.

Desa Ensem juga merupakan satu dari tujuh desa konservasi di Kabupaten Kepulauan Talaud yang didorong pembentukannya oleh Ide Selaras.

Bawole berharap, kembalinya Sampiri bisa menjadi momen pengingat bagi semua pihak, agar tak ada lagi satwa endemik yang dilindungi yang ditangkap dan diperdagangkan.

“Jika bisa tak ada lagi istilah translokasi atau back home. Kita semua harus peduli dengan kekayaan Talaud bahkan dunia,” tambah Bawole.

Burung yang dilindugi

Sampiri atau red and blue lory (Eos histrio talautensis) merupakan burung jenis nuri endemik pulau Talaud yang masuk dalam daftar Apendix I CITES, yang melarang perdagangan jenis ini baik secara nasional maupun internasional.

Sampiri juga dilindungi dengan Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106/MENLHK/Setjen/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Permen LHK nomor P.20/MENLHK/Setejn/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Tak hanya itu, Sampiri bahkan telah dilindungi melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud nomor 1 tahun 2018 tentang Perlindungan Burung Sampiri.

Berdasarkan data dan jurnal ilmiah, Sampiri diketahui tersisa di Kabupaten Talaud dan hanya ada di pulau utama, Karakelang.

Populasi Sampiri semakin terancam oleh perubahan pada areal habitatnya akibat permbukaan lahan dan penebangan liar. Ancaman terhadap populasi Sampiri juga datang dari perburuan dan perdagangan.

Pusat Informasi Sampiri di Talaud melaporkan masih ada aktivitas penangkapan terhadap Sampiri, dan akhir-akhir ini mulai marak kembali warga yang memelihara Sampiri di rumah mereka, baik di pulau Karakelang maupun di pulau-pulau lainnya di Talaud.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

Lingkungan dan Konservasi

BP2LHK Manado beri pendidikan konservasi Anoa bagi pelajar di Bolmong

Published

on

BOLMONG, ZONAUTARA.comSetelah mendapatkan pembinaan Pusat Unggulan Iptek (PUI) pada 2018 lalu, salah satu upaya yang dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado dalam upaya peningkatan kapasitas lembaga adalah dengan melakukan penguatan kapasitas diseminasi (disseminating capacity).

Kali ini, melalui Anoa Breeding Centre (ABC), BP2LHK Manado bekerjasama dengan PT. J-Resources Bolaang Mongondow (JRBM) menggelar kegiatan penguatan kapasitas diseminasi kepada pengguna.

Pendidikan konservasi bertajuk “Anoa School Outreach” tersebut digelar di SMP Satap Lolayan dan SMP Negeri 2 Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Senin (11/11/2019).

Kemudian dilanjutkan di SMP Tobayagan, Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Selasa (12/11/2019).

ABC merupakan kerjasama antara BP2LHK Manado dengan BKSDA Sulawesi Utara. Salah satu program andalan ABC dan secara turin dilakukan adalah pendidikan konservasi anoa.

Kepala BP2LHK Manado Mochlis saat memberi sambutan menjelaskan, tujuan kegiatan, yakni memperkenalkan lebih detail dan mendalam lagi tentang satwa endemik Sulawesi yang saat ini terancam punah yakni Anoa.

Sehingga, diharapkan para generasi muda tahu lebih banyak lagi, bahkan bangga karena memiliki satwa endemik yang tidak ditemui di daerah lain.

“Anoa hanya ada di Sulawesi. Sehingga kita khususnya generasi mudah patut berbangga,” kata Mochlis.

Lebih lanjut, data dari lembaga konservasi internasional menyebutkan saat ini populasi anoa yang hidup di alam tidak lebih dari 2500. Angka yang sangat memperihatinkan.

Sehingga itu, dengan kegiatan ini diharapkan lebih menumbuhkan kecintaan terhadap Anoa.

Serta, turut melestarikan dan menjaga habitatnya. Diharapkan juga, pelajar yang mengikuti kegiatan ini dapat perperan dalam mensosialisasikan terkait keberadaan anoa.

“Saat ini, BP2LHK Manado memiliki 10 ekor anoa. Tujuh ekor Anoa didapat dari hasil sitaan oleh BKSDA Sulut. Dan sudah ada tiga bayi anoa yang dihasilkan lewat proses perkawinan secara alami. Jadi yang ingin melihat langsung silakan datang ke Manado,” tambah Mochlis.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan PT. JRBM, Rudy Rumengan yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, bahwa perusahaan sangat mendukung upaya konservasi anoa.

Sehingga itu, selain beroperasi dan menjankan program Cooperative Social Responsibly (CSR) dibidang kemasyarakatan, insfrastruktur, serta pendidikan khususnya di desa-desa lingkar tambang, sejak 2018 PT JRBM juga mensupport upaya-upaya konservasi yang dilakukan BP2LHK.

“Dalam beroperasi, kita ada larangan untuk tidak menganggu flora dan fauna terutama yang dilindungi. Contohnya, yang sering ditemui di area perusahaan adalah satwa Yaki. Itu tidak boleh diganggu. Kalau anoa pernah ditemui oleh tim kami di kawasan Tobayagan yang juga masih masuk wilayah konsesi PT JRBM,” ungkap Rudy.

Sementara itu, Peneliti di ABC BP2LHK Manado Rahma Suryaningsih mengatakan, tujuan kegiatan konservasi ini untuk meyebarluaskan informasi konservasi sejak usia dini kepada masyarakat khususnya anak usia sekolah.

“Selain program penelitian dan pengembangan salah satu program ABC adalah menyebarluaskan informasi konservasi kepada masyarakat. Karena semakin masyarakat mengenal anoa diharapkan masyarakat dapat turut serta melestarikan dengan menjaga kawasan hutan dimana anoa tinggal,” ungkap Rahma.

Senada dikatakan drh. Adven T.A.J Simamora salah satu tim ABC BP2LHK Manado yang memberikan materi mengungkapkan, bahwa BP2LHK Manado melalui ABC sangat gembira dapat berbagi informasi kepada siswa sekolah yang nantinya bisa menjadi kader konservasi ini.

“Kami sangat senang bisa berbagi ilmu tentang konservasi kepada adik-adik ini, karena merekalah yang akan menjadi pelaku konservasi di masa mendatang,” kata Adven yang juga aktif sebagai dokter hewan di ABC BP2LHK Manado.

Adven juga menambahkan, sesuai dengan slogan ABC, yaitu Kampus Kreatif Sahabat Rakyat, BP2LHK Manado menyambut baik kegiatan edukasi lapangan ini karena sekarang ini salah satu kegiatan di ABC adalah pendidikan konservasi.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Lolayan, Ameriatin Bakung melalui wakil Kepsek bidang akademik Suryadi Mokolintad mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik kegiatan tersebut.

Menurut Suryadi, pengenalan satwa endemik Sulawesi yang terancam punah itu penting dilakukan secara dini dan berkelanjutan. Sehingga itu, dirinya mengaku bangga karena telah memilih sekolah di Lolayan untuk sosialisasi.

“Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pelaksanaan sosialisasi ini,” sahut Suryadi.

Diketahui, seperti pada tahun sebelumnya, kegiatan pendidikan konservasi kali ini mendapatkan sambutan yang sangat baik dari peserta.

Hal itu terlihat dari cukup tingginya antusiasme siswa untuk bertanya seputar anoa yang merupakan hewan khas Sulawesi yang dilindungi.

Kegiatan di dua sekolah ini diakhiri dengan foto bersama, pembagian stiker konservasi sebagai souvenir dan penyerahan papan edukasi anoa oleh ABC BP2LHK Manado kepada perwakilan sekolah.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading
Advertisement

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com