Connect with us

SUARA.com

Jiwasraya tak mampu bayar polis Rp 12,4 triliun, Dirut minta maaf

Klaim polis amat besar itu, jatuh tempo pada Desember ini.

Bagikan !

Published

on

Foto: istimewa

ZONAUTARA.com – PT Asuransi Jiwasraya mengaku tak mampu membayarkan klaim polis nasabahnya yang jatuh tempo pada Desember ini. Nilai keseluruhan polis yang jatuh tempo itu mencapai Rp 12,4 triliun.

Atas ketidakmampuan membayar, Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko meminta maaf kepada nasabahnya.

“Kami meminta maaf kepada para nasabah,” kata Hexana saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI dan Menteri Keuangan, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (16/12/2019)., kemarin.

Dalam penjelasannya, Hexana bilang gagal bayar polis asuransi yang telah jatuh tempo itu, dikarenakan kesalahan manajemen lama dalam melakukan investasi.

“Seharusnya manajemen lama mengambil instrumen investasi yang aman, tapi ini tidak dilakukan,” kata Hexana.

Hexana menjelaskan manajemen lama memilih instrumen investasi reksa dana saham mencapai 50 persen, dan menjadi awal mula kasus gagal bayar Jiwasraya.

Apalagi kata Hexana, pemilihan reksa dana saham tersebut dilakukan di saham-saham tidur alias saham gocap dan dilakukan pula pada saham-saham gorengan sehingga banyak sekali uang perusahaan yang mengendap.

“Saham-saham yang nilainya Rp 50 banyak sekali, bahkan ada saham yang harus disuspend,” kata Hexana.

Dia bercerita, kalau seandainya manajemen lama melakukan investasi yang benar tentu masalah ini tidak akan pernah terjadi. Semisal melakukan investasi di goverment bond.

“Penempatan premi di luar tak ada prinsip kehati-hatian. Investasi digeser ke reksa dana saham. Karena, kalau pakai goverment bond, itu nggak akan pernah ngejar janji return ke nasabah. Makanya, ke saham dan pencadangan saham. Pola penetrasinya tidak akan mencapai segitu,” katanya.

Persoalan Jiwasraya mulai mengemuka pada Oktober 2018 saat ada laporan dari nasabah yang membuat perusahaan BUMN itu terpaksa menunda pembayaran kewajiban polis jatuh tempo.

Keterlambatan pembayaran polis jatuh tempo itu terdapat di produk bancassurance yang nilainya mencapai Rp 802 miliar.

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lingkungan dan Konservasi

Diduga kesetrum listrik, 5 gajah Sumatera ditemukan mati

BKSDA Aceh dan kepolisian masih menyelidiki temuan ini.

Bagikan !

Published

on

Sumber: istimewa

ZONAUTARA.com – Kepolisian dari Polres Aceh Jaya masih menelusuri dan mencari tahu soal kematian lima ekor gajah Sumatera yang ditemukan sudah dalam kondisi tinggal tulang belulang.

Pada Rabu (1/1/2020), petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menemukan tulang belulang dua ekor gajah di Desa Tuwi Pria, Aceh, setelah mendapat laporan dari warga.

Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto menjelaskan bahwa ada lima ekor gajah yang ditemukan tinggal tulang belulang. Dua ekor gajah yang ditemukan pertama saling berdekatan hanya terpaut jarak sekitar 50 meter.

Pada Kamis (2/1), petugas BKSDA Aceh kembali melakukan pencarian di desa yang sama dan mendatangi enam titik lokasi lain. Ada tiga ekor gajah lagi yang ditemukan sudah dalam kondisi tinggal tulang belulang.

Kematian gajah-gajah tersebut diduga terkena arus listrik. Di sekitar lokasi penemuan tulang belulang gajah ada pagar listrik yang dipasang untuk melindungi perkebunan sawit masyarakat.

“Ada lima ekor gajah dari fisik tengkorak dan rahang. Empat tengkorak dan rahang ditemukan di lapangan serta tulang belulang lainnya. Tapi yang meyakini kami lima ekor itu tadi tengkorak kepala ada empat dan satu rahang. Dugaan sementara karena listrik dari pagar-pagar listrik yang ada di lokasi dimaba gajah tersebut ditemukan mati,” kata Agus sebagaimana dilansir¬†VOA, Kamis (2/1) malam.

Lanjut Agus, saat ini kepolisian masih menelusuri dan mencari tahu pasti serta mengumpulkan barang bukti.

“Itu (indikasi dibunuh) masih diproses oleh pihak Polres Aceh Jaya. Itu perkebunan masyarakat tapi lebih jauh pihak kepolisian yang akan menelusurinya,” ucapnya.

BKSDA Aceh mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian alam khususnya gajah Sumatra dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa liar.

BKSDA Aceh juga berharap agar masyarakat tidak lagi menggunakan pagar listrik yang bertegangan tinggi untuk melindungi kebunnya. Bukan efek kejut yang ditimbulkan namun bisa membahayakan satwa liar dan juga manusia.

Tak ada gading

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Indonesia (WALHI) Aceh, Muhammad Nur mengatakan saat ini masyarakat di wilayah yang kerap dilintasi gajah Sumatera telah menganggap satwa tersebut sebagai hama. Terbukti banyaknya ditemukan pagar listrik untuk melindungi kebun milik masyarakat.

“Pagar listrik itu dipasang pada jalur perlintasan gajah. Itu tempat hidupnya gajah yang memang jalurnya satwa liar tersebut. Artinya warga sudah melihat gajah itu sebagai hama, tidak lagi satwa dilindungi. Ini kondisi yang cukup berbahaya,” katanya kepada¬†VOA.

WALHI Aceh menilai kematian lima ekor gajah Sumatera di Kabupaten Aceh Jaya merupakan kejadian luar biasa, karena daerah tersebut tidak termasuk wilayah dimana kerap terjadi konflik antara gajah dengan manusia.

WALHI Aceh menduga ada yang dengan sengaja membunuh gajah-gajah tersebut. Kata Nur, bukti lain menurut kepolisian tidak ditemukan gading pada saat penemuan tulang belulang lima gajah tersebut.

“Artinya gading itu bisa saja bukan target utama tapi karena satwa itu mengganggu perkebunan sehingga dibunuh dengan listrik. Kami duga ada bisnis gading gajah yang tersembunyi dan terselubung. Pada akhirnya tahu juga publik bahwa di sana ada banyak gajah. Sehari-hari gajah ke Kabupaten Bener Meriah mencari makan tapi hidup populasinya itu di Aceh Jaya,” jelas Nur.

Berdasarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List of Threatened Species, gajah yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

Editor: Ronny A. Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com