Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

8 wilayah berpotensi hujan lebat 2-4 Januari, termasuk Sulut

BMKG merilis peringatan dini cuaca ekstrem.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi hujan (Pixabay.com)

ZONAUTARA.com – Sulawesi Utara beserta beberapa wilayah lainnya di Indonesia berpotensi diguyur hujan lebat pada 2-4 Januari 2020. Prakiraan itu berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Drs. R. Mulyono Rahardi Prabowo M.Sc, BMKG merilis peringatan dini cuaca ekstrem berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada Kamis (2/1) pukul 13.22 WIB.

Adapun hasil pantauannya adalah sebagai berikut:

  • Sirkulasi siklonik terpantau di Kalimantan Tengah (925/700 mb), Samudera Hindia selatan Jawa Timur (925/850 mb), dan Laut Timor (925/700 mb).
  • Adanya konvergensi yang terbentuk memanjang dari Samudera Hindia Barat bengkulu melewati Lampung hingga Banten, Perairan Utara Nusa Tenggara hingga Papua.
  • Belokan angin terdapat di Sumatera bagian Tengah, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah, Maluku dan Papua Barat.
  • Low level jet dengan kecepatan angin diperkirakan mencapai lebih dari 25 knot terdapat di Teluk Thailand hingga Perairan utara Aceh, Laut Cina Selatan, dan Samudera Pasifik Timur Filipina hingga Laut Sulawesi.

Wilayah yang diprediksi diguyur hujan lebat

Berdasarkan pantauan tersebut, berikut daftar wilayah yang berpotensi hujan lebat pada 2-4 Januari 2020 adalah:

  1. Lampung
  2. Banten
  3. Bali
  4. Kalimantan (Tengah dan Timur)
  5. Jambi
  6. Sulawesi (Selatan, Utara,Tengah, Barat, dan Tenggara)
  7. Gorontalo
  8. Maluku

Wilayah yang akan mengalami hujan lebat disertai angin, kilat, dan petir

Wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang, kilat atau petir pada 2-4 Januari 2020 adalah:

  1. Aceh
  2. Riau
  3. Bengkulu
  4. Sumatera Selatan
  5. Kepulauan Bangka Belitung
  6. Jawa (Barat, Tengah dan Timur)
  7. Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi)
  8. Yogyakarta
  9. Nusa Tenggara (Barat dan Timur)
  10. Kalimantan (Utara, Barat, dan Selatan)
  11. Sulawesi Utara
  12. Gorontalo
  13. Papua

Editor: Ronny A. Buol

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lingkungan dan Konservasi

Strategi mitigasi perdagangan satwa liar dilindungi mulai digodok

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.comSalah satu kawasan sangat penting di Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati adalah Sulawesi (Myers et al. 2000, Wilson et al. 2006).

Posisi geografis berkontribusi terhadap tingginya jumlah spesies mamalia endemik (Whitten et al. 1987, Groves 2001, Cannon et al).

Sulawesi pun memiliki keunikan spesial yang tidak terdapat di belahan lain di dunia. Alhasil, pulau Sulawesi telah diakui sebagai daerah prioritas tinggi untuk konservasi mamalia (Carwardine et al. 2008, Catullo et al. 2008, Wilson et al. 2016).

Sayangnya, pusat keanekaragaman hayati ini mengalami penurunan populasi dari satwa liar dilindungi pada 40 tahun terkhir ini.

Ancaman yang terjadi dari penurunan ini adalah karena pembukaan lahan dan perburuan yang disertai dengan perdagangan untuk dikonsumsi.

Untuk mengatasi ini, upaya mitigasi pun mulai diseriusi dan digodok oleh pihak-pihak terkait.

Salah satunya melalui Lokakarya Mitigasi stategi perdagangan satwa liar dilindungi yang akan digelar di Hotel Sintesa Peninsula Manado, Kamis (30/1/2020).

“Tujuan dari acara ini adalah untuk menyusun strategi dalam rangka menurunkan angka perdagangan illegal  satwa liar dilindungi,” ujar perwakilan Wildlife Trade Mitigation Strategy (WTMS), sebagaimana rilis yang diterima Zona Utara, Rabu (29/).

Acara yang difasilitasi oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sulut bekerja sama dengan LSM Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulut, instansi pemerintah daerah se-Sulut, stakeholder terkait seperti LSM Lokal, Gereja dan Komunitas pemerhati Satwa Liar di Sulut, serta Duta Yaki Indonesia Khouni Lomban Rawung.

Kolaborasi bersama menyusun strategi ini disebut sangat penting dan untuk menjaga keanekaragaman hayati Sulut agar tidak menu kepunahan.

Strategi yang akan disusun ini diharapkan akan mencegah kepunahan satwa akibat dari perdagangan ilegal untuk dikonsumsi, sehingga keseimbangan alam Sulut terjaga, jauh dari bencana akibat kerusakan alam.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com