Connect with us

HEADLINE

Tak ada lagi status pegawai selain PNS dan PPPK

Pemerintah juga menghapus tenaga honorer.

Bagikan !

Published

on

Foto: Zonautara.com

ZONAUTARA.COM – Pemerintah sepakat untuk menghapus segala jenis pegawai di instansi pemerintah. Nantinya, yang ada hanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Penghapusan jenis pegawai itu diambil dalam rapat kerja (raker) mengenai seleksi CPNS periode 2019-2020 di Gedung DPR, Jakarta antara Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) bersama Komisi II DPR RI, Senin (20/1/2020).

Dalam raker ini, ada 5 kesimpulan, salah satunya yakni Komisi II DPR RI bersama Kementerian PAN-RB dan BKN sepakat untuk menghapus tenaga honorer, pegawai tetap, pegawai tidak tetap, dan lainnya dari organisasi kepegawaian pemerintah.

“Kesimpulan itu mudah-mudahan bisa menjadi kesepakatan kita bersama,” ujar pimpinan raker sekaligus Wakil Ketua Komisi II Arif Wibowo di Kompleks Parlemen Jakarta, Jakarta, Senin (20/1/2020).

Arif menegaskan bahwa hal ini sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang hanya mengenal dua jenis status kepegawaian secara nasional yaitu PNS dan PPPK. Meskipun pelaksanaannya bertahap, namun harus dipastikan tidak ada lagi status pegawai diluar dari yang telah diatur oleh undang-undang.

Anggota Komisi II DPR RI Cornelis mengusulkan agar para guru honorer yang sudah bekerja selama bertahun-tahun dan berada di daerah-daerah terpencil diberikan keistimewaan untuk bisa langsung diangkat menjadi pegawai negeri sipil tanpa perlu melalui tes.

“Saya yakin negara tidak akan bangkrut. Karena guru-guru SD inpres yang ada di pelosok itu telah mengajar di sekolah-sekolah daerah terpencil sejak jaman pemerintahan Presiden Soeharto, dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bagaimana kita akan membangun SDM sesuai visi dan misi presiden, kalau makan mereka tidak tercukupi dan kesehatannya buruk,” tandas Cornelis.

Pada kesempatan itu, politisi Fraksi PDI Perjuangan ini sempat mempertanyakan masalah kesiapan pemerintah dalam rangka penerimaan CPNS yang menggunakan teknologi, khususnya menyangkut masalah server, Base Transceiver Station (BTS), dan juga slot-nya.

“Karena yang mengikuti tes ini banyak. Pusat data internet ada di Amerika. Jangan nanti lemot. Tenaga teknisnya harus benar-benar mengecek kesiapan akan hal tersebut. Jangan sampai ketika seseorang akan meng-upload data untuk mendaftar, sampai subuh baru bisa masuk datanya,” ungkapnya.

Editor: Ronny A. Buol

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HEADLINE

Bendungan Kosinggolan dan Toraut meluap, sejumlah desa di Dumoga terendam banjir

Sebelumnya BMKG sudah memberikan peringatan dini cuaca ekstrim di wilayah Bolaang Mongondow.

Bagikan !

Published

on

Bendungan Kosinggolan dan Toraut, Kecamatan Dumoga Barat juga dikabarkan meluap dan masuk ke pemukiman warga. (Foto: Doc BPBD Bolmong)

BOLMONG, ZONAUTARA.COM – Hujan yang terus mengguyur hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) beberapa hari terakhir mengakibatkan debit air sungai meningkat.

Bendungan Kosinggolan dan Toraut, Kecamatan Dumoga Barat juga dikabarkan meluap dan masuk ke pemukiman warga. Pusat Pengendalian dan Operasional (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolmong mencatat, dari hasil assessment, Jumat 3 Juli 2020, sejumlah desa di wilayah Dumoga terendam banjir luapan.

Kepala Seksi Penanggulangan Bencana BPBD Bolmong, Abdul Muin Paputungan mengatakan, sebelumnya BMKG sudah memberikan peringatan dini cuaca ekstrim di wilayah Bolaang Mongondow.

“Berdasarkan hasil pantauan di lapangan luapan Sungai Ongkag Dumoga menjadi pemicu utama. Puluhan rumah warga tergenang dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 100 cm,” kata Abdul Muin.

Sementara itu, luapan Bendungan Toraut dan Kosinggolan menggenangi pemukiman warga di Desa Toraut, Desa Doloduo II, Desa Doloduo III, Desa Wangga Baru, Desa Kosio, Desa Dondomon Selatan, dan Desa Dondomon. Jalan Penghubung Desa Doloduo II dan Desa Toraut amblas akibat tergerus luapan sungai. Meski begitu, kondisi jalan masih bisa dilewati.

“Saat ini hujan mulai reda. Dan air mulai surut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pendataan dampak cakupan wilayah masih terus dilakukan. Masyarakat Desa Doloduo III saat ini sementara mendirikan pos siaga antisipasi kemungkinan sungai kembali meluap. Warga diimbau untuk tetap waspada mengingat curah hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi masih berpotensi terjadi.

“Untuk wilayah Dumoga Bersatu hampir merata karena memang dataran rendah. Tapi rata-rata genangan terjadi akibat drainase yang buruk,” pungkasnya.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com