Connect with us

ZONA TERKINI

Sudah 131 orang tewas, TNI ikut siaga virus corona

Pemerintah menyiapkan opsi evakuasi WNI dari China.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi pesawat TNI (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

ZONAUTARA.COM – Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut siaga mengantisipasi penyebaran dan kemungkinan masuknya virus corona dari China.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi mengatakan pihaknya menyiagakan seluruh rumah sakit TNI dari tiga matra.

“TNI telah menyiapkan seluruh rumah sakit TNI baik TNI AD, TNI AL, maupun TNI AU, seluruh satuan-satuan kesehatan lapangan dan seluruh personel kesehatan TNI yang ada di Indonesia,” kata Sisriadi dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (29/1).

Kesiagaan itu menurut Sisriadi sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2019 tentang Bio Security.

Persiapan tersebut dilakukan bukan atas permintaan pihak tertentu. Tapi, tegasnya, berdasarkan pada perintah presiden yang dikeluarkan melalui instruksi.

Sisriadi mengatakan seluruh jajaran kesehatan dari pihak TNI harus bekerjasama di setiap daerah dengan semua pemangku kepentingan terkait untuk penanganan wabah yang diduga telah menewaskan 131 orang itu di seluruh dunia itu. Di China sendiri tercatat lebih dari 4 ribu orang mengidap virus tersebut.

Untuk evakuasi warga negara Indonesia yang saat ini masih terjebak di Hubei, Wuhan, China, Sisriadi mengaku pihaknya masih melakukan rapat koordinasi yang dipimpin langsung Kementerian Luar Negeri.

Diketahui ada 244 WNI di Provinsi Hubei yang tercatat saat ini. Khusus di Wuhan, ibu kota Hubei, terdapat 93 WNI yang tinggal di sana.

Di tempat dan waktu terpisah, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin menyatakan pemerintah saat ini sudah menyiapkan opsi untuk mengevakuasi seluruh WNI dari China.

Walaupun begitu, Ma’ruf mengatakan pemerintah masih menemui kendala terkait akses masuk menyusul pemberlakuan kebijakan isolasi dari otoritas China. Ia menyatakan pemerintah Indonesia saat ini masih menunggu sikap pemerintah China terlebih dulu untuk mengevakuasi WNI di Wuhan.

“Jadi akibatnya semuanya masih menunggu sikap pemerintah Tiongkok, bahkan yang dari Jepang yang sudah kirim pesawat pun belum bisa dievakuasi,” kata Ma’ruf di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (29/1).

Tak hanya Indonesia yang mengalami kesulitan, Ma’ruf menyatakan negara lain turut mengalami hal serupa untuk evakuasi warganya masing-masing.

Ia mencontohkan para diplomat dan pekerja Konsulat Amerika Serikat di Hubei pun belum bisa pulang dan masih terjebak di wilayah tersebut.

Meski demikian, Ma’ruf menyatakan pemerintah Indonesia tak lepas tangan terkait nasib seratusan WNI yang masih berada di Wuhan. Ia menyatakan pemerintah akan mendistribusikan logistik bagi WNI melalui pusat-pusat kota di China.

“Tapi, pemerintah terus memperhatikan anak-anak kita terutama yang di Wuhan, kalau enggak salah ada 100 orang, 84-nya itu mahasiswa dan kita membangun logistiknya melalui pusat-pusat kota di Tiongkok,” kata dia.

Selain itu, Ma’ruf menyatakan pemerintah saat ini masih memberi ‘lampu kuning’ bagi turis asing asal China yang masuk ke Indonesia. Artinya, kata Ma’ruf, warga negara China masih diperbolehkan masuk namun harus menjalani berbagai persyaratan dan melalui proses yang ketat agar virus tersebut tak menyebar ke Indonesia.

“Belum lampu merah. Sikap dari WHO. Tetapi kita sudah menyiapkan kalau misalnya ada yang datang dengan berbagai peralatan di airport dan rumah sakit,” kata dia.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !

Lingkungan dan Konservasi

Ketambahan 21 spesies baru, Indonesia punya 1.794 spesies burung

Ada empat spesies yang keluar dari daftar sebelumnya.

Bagikan !

Published

on

Foto: Burung Indonesia

ZONAUTARA.COM – Indonesia kini memiliki 1.794 spesies burung setelah penambahan 21 spesies baru hingga awal 2020.

“Berdasarkan catatan kami ini mencakup keluarnya empat spesies dari daftar 1.777 spesies menjadi 1.773 spesies, namun ada penambahan 21 spesies baru sehingga totalnya kini 1.794 species burung,” kata Research & Communication Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid dalam keterangan resmi dikutip Senin (17/2/2020).

Ada tujuh spesies burung yang baru dideskripsikan (newly described species), termasuk Myzomela alor (Myzomela prawiradilagae) dan cabai kacamata (Dicaeum dayakorum).

Perkembangan ilmu ornitologi dan taksonomi, membantu identifikasi 14 spesies burung dari hasil pemisahan spesies terdahulu (split species).

Sementara Myzomela alor diumumkan sebagai spesies baru pada Oktober 2019. Burung endemis Pulau Alor ini menghuni habitat pegunungan pada rentang ketinggian 900-1.270 mdpl.

Menurut Achmad, empat spesies yang sebelumnya dianggap sebagai spesies tersendiri, melalui studi terbaru, diketahui masih merupakan subspesies dari spesies yang telah dikenal sebelumnya.

“Sebagai contoh sikatan tanajampea (Cyornis djampeanus), yang sebelumnya dikenal sebagai spesies endemis di Pulau Tanajampea, ternyata masih memiliki kemiripan dengan sikatan sulawesi (Cyornis omissus). Sehingga sikatan tanajampea dikelompokkan sebagai subspesies sikatan sulawesi,” ujarnya.

Sedang spesies baru lainnya yaitu cabai kacamata atau spectacled flowerpecker.

Semua itu memerlukan kajian mendalam dalam waktu lama hingga akhirnya para ilmuwan memperkenalkannya sebagai spesies baru yang kemudian diberi nama ilmiah Dicaeum dayakorum.

Nama tersebut terinspirasi sekaligus untuk menghormati Suku Dayak yang memiliki pengetahuan lokal luar biasa tentang flora dan fauna di tanah kelahiran mereka.

Selain itu, lanjut Ahmad, lima spesies burung lainnya yang baru bagi sains yaitu kipasan peleng, ceret taliabu, myzomela taliabu, cikrak peleng, dan cikrak taliabu. Tiga spesies berasal dari Pulau Peleng, Provinsi Sulawesi Tengah dan dua spesies lainnya berasal dari Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara).

Penambahan jumlah spesies secara signifikan ini terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan ornitologi dan taksonomi. Atas dasar perbedaan tersebut, beberapa subspesies kemudian diakui sebagai spesies yang berbeda dan menjadi spesies tersendiri.

Secara terperinci split species tersebut terdiri dari tiga spesies burung uncal/merpati, tiga spesies nuri, satu spesies merbah/cucak, tiga spesies sikatan, dan empat spesies burung kacamata.

Pada penghujung 2019, Badan Konservasi Dunia (IUCN) juga telah memperbarui Daftar Merah Spesies Terancam Punah (IUCN Red List of Threatened Species) di dunia dan diikuti oleh BirdLife International yang mengumumkan 11.147 spesies burung di dunia.

Infografis dari Burung Indonesia.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com