Connect with us

Serba Serbi

Mencicipi durian Tompaso di Kotamobagu

Tebal, legit dan super manis. Jangan terkecoh, durian ya durian, kulitnya banyak duri.

Bagikan !

Published

on

Leri Ruus, penjual durian Tompaso di Kotamobagu. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

KOTAMOBAGU, ZONAUTARA.COM – Saat ini sedang musim durian. Di mana-mana ada durian. Tak ketinggalan di Kotamobagu. Penggemar “raja dari segala buah” ini menyerbu para penjual durian.

Dua lokasi ramai di datangi, di Pasar Serasi di jalan Kartini. Satunya lagi wilayah Matali. Di Pasar Serasi nyaris 24 jam bisa ditemui penjual durian.

Di Matali pun demikian, para penjual bisa berjualan sepanjang malam, walau tak semuanya.

Meski di dua lokasi itu sama-sama ada durian, namun harus jeli memilih yang berkualitas.

Zonautara.com mencoba mencicipi king of fruit ini. Kedua lokasi pusat penjual durian di Kotamobagu didatangi.

Soal harga, hampir sama. Yang berukuran kecil, imut, termurah bisa dapat Rp 12.500 per buah. Untuk ukuran besar bisa seharga Rp 60 ribu per buah. Beda jauh di Manado, yang berukuran kecil paling murah Rp 30 ribu.

Lokasi pertama yang didatangi para penjual di Pasar Serasi. Ramai di sini, ada puluhan penjual. Tumpukan jualannya menggunung. Bebas memilih.

Tapi beberapa kali memilih secara acak penjualnya, yang didapat kualitas kurang baik. Daging duriannya lembek dan berair. Penjual memberi garansi, ganti jika jelek.

Tapi sudah empat kali ganti, tetap saja dapat yang kualitas jelek. Menurut penjualnya, durian di Pasar Serasi kebanyakan didatangkan dari Sulawesi Tengah. Meski ada juga yang berasal dari Bolaang Mongondow sendiri dan dari daerah Minahasa.

Tompaso punya

Berpindah ke daerah Matali, ada puluhan penjual durian buka lapak di pinggir jalan. Durian dijajarkan di atas meja atau sekadar diletakkan di atas terpal.

Harganya hampir sama, dari paling murah Rp 12.500 per buah hingga Rp 100 ribu per empat buah. Tapi soal kualitas, di Matali bisa diadu.

Daging durian yang dijual Leri di Kotamobagu. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Leri Ruus, salah satu penjual yang ditemui Zonautara,.com, mengakui durian yang ditawarkannya diambil dari Tompaso, sebuah wilayah penghasil durian di Minahasa.

Jauh juga Leri ke Kotamobagu. Tapi menurutnya, saat sedang musim seperti ini, dia rutin bawa durian kesini. Sudah dua minggu dia bolak-balik kampungnya di Tamblang, Minahasa Selatan.

Setiap hari Leri bisa menjual sekitar 100 buah durian. Malam itu, Zonautara.com, menghabiskan 4 buah durian berkualitas super. Dagingnya tebal, legit, dan soal rasa, super manis. Padahal yang dibeli yang berukuran kecil.

Sama halnya dengan di Pasar Serasi, para penjual di sini memberi jaminan ganti jika jelek.

Memang soal kualitas dan rasa, banyak orang yang mengakui durian yang berasal dari Tompaso. Jadi jika sedang ingin mencicipi durian di wilayah Sulawesi Utara, cobalah cari yang berasal dari Tompaso.

Tak ada memang pembeda secara fisik. Durian ya durian, bagian luarnya berduri, isinya susah ditebak. Tinggal kejujuran penjualnya saja.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Beri Donasi
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Serba Serbi

Berkelit ditengah isu corona, penjahit di Manado produksi masker sendiri

Dalam sehari para penjahit bisa memproduksi 300 lembar.

Bagikan !

Published

on

Penjahit di Manado sedang mengerjakan masker alternatif. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

MANADO, ZONAUTARA.COM – Para penjahit di Kota Manado memanfaatkan peluang ditengah langkanya ketersediaan masker, dengan memproduksi secara rumahan masker berbahan kain.

Ditemui di Shopping Center Manado, Pasar 45, puluhan penjahit terlihat sedang mengerjakan pembuatan masker.

“Ini sejak dari Jumat minggu lalu saya bikin. Soalnya yang datang menjahit sepi. Jadi kami produksi maskernya,” ujar Salim (30), salah satu penjahit, Rabu (25/3).

Salim mengaku dalam sehari dia bisa memproduksi sebanyak 300 lembar masker. Itu pun dia masih kewalahan dengan pesanan yang datang.

“Begitu selesai langsung habis, malah saya kewalahan” aku Salim.

Satu lusin masker dijual Salim seharga Rp 60 ribu. Para pengecer kemudian menjual kembali selembar masker seharga Rp 10.000.

Lian, penjahit lainnya mengatakan bahwa dirinya sengaja memproduksi masker karena melihat warga yang kesulitan mencari masker di apotek dan toko-toko.

“Awalnya ada yang datang tanya kalau bisa jahit masker. Lalu saya coba buat dalam jumlah banyak, ternyata laku. Jadi bikin sampai sekarang,” aku Lian.

Warga di Manado dan sekitarnya memang kesulitan mencari masker sejak isu corona mencuat. Apalagi dua pekan lalu, satu orang warga Manado dinyatakan positif terjangkit Covid-19. Sejak itu masker menjadi barang langka.

Koordinator Lapangan Toko Alat Kesehatan Dunia Medika, Nixon Walukouw menjelaskan bahwa permintaan masker dari warga sangat tinggi.

“Kami harus membatasi pembelian per orang. Hanya bisa beli dua sachet per orang. Itupun stok per hari sangat terbatas,” jelas Nixon.

Warga yang mengantri di Dunia Medika membayar Rp 15 ribu untuk satu sachet masker yang berisi tiga lembar. Warga juga memburu alkohol, sarung tangan dan termometer.

Maida, warga Tomohon yang harus turun ke Manado mencari masker dan alkohol mengaku mencari kedua barang tersebut sebagai upaya pencegahan penularan corona.

2 pasien positif

Hingga saat ini, di Kota Manado sendiri sudah ada dua pasien positif terjangkit corona. Kedua pasien tersebut sudah diisolasi di Rumah Sakit Umum Pusat Prof Kandou Manado.

“Iya, yang pasien kedua sudah dibawa ke RSUP Kandou untuk diisolasi,” jelas Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut, dr. Steaven Dandel.

Menurut Dandel, pasien kedua yang hasil laboratoriumnya positif dan diumumkan Selasa kemarin itu, sebelumnya tidak menunjukkan gejala corona.

“Dia ada orang dengan kontak resiko tinggi dengan pasien pertama yang dinyatakan positif,” kata Dandel.

Adanya dua pasien yang sudah positif di Manado ini memicu kekhawatiran warga Manado bahkan Sulawesi Utara terhadap penyebaran wabah virus corona.

“Tentu kami sangat khawatir, karena Manado sudah menjadi salah satu wilayah penyebaran corona,” kata Jane, warga Manado.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com