Pasti banyak yang bertanya-tanya apa itu TBC dan mengapa TBC dapat dikatakan sebagai penyakit menular berbahaya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti sudah menjadi familiar baik di negara kita maupun di dunia saat ini.

Penyakit ini biasanya menyerang organ paru-paru namun dapat memungkinkan untuk menyerang organ lainnya sperti kulit, tulang dan kelenjar getah bening. TBC dapat sangat berbahaya namun dalam beberapa kasus TBC dapat dicegah dan diobati.

TBC merupakan infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang dapat menyerang paru-paru kita dengan cara sederhana, kebanyakan penyebaran bakteri ini yaitu melalui udara. Tetapi bakteri ini juga belum tentu dapat langsung menyerang organ ketika saat berpapasan dengan penderita penyakit TBC, orang tersebut akan mudah tertular ketika memiliki imun tubuh yang sedang lemah. Seseorang awalnya tidak akan mengetahui ketika dirinya telah terjangkit bakteri ini.

Tanda dan Gejala TBC

TBC Pasif. TBC Pasif merupakan kondisi di mana seseorang terinfeksi dengan bakteri ini namun tidak aktif sehingga tidak memungkinkan untuk terjadi penularan, namun TBC ini juga dapat menjadi aktif sehingga diperlukan pengobatan secara rutin agar supaya dapat mencegah terjadinya penularan.

TBC Aktif. TBC Aktif merupakan kebalikan dari TBC Pasif. Jika TBC Pasif tidak memungkinkan terjadinya penularan maka TBC Aktif merupakan kondisi di mana seseorang yang terinfeksi bakteri ini dapat mengakibatkan terjadinya penularan.

Beberapa gejala dan tanda umum yang mungkin terjadi ketika seseorang terinfeksi bakteri ini, seperti batuk yang berlangsung selama 3 minggu ataupun lebih, batuk dengan mengeluarkan darah, terasa nyeri pada dada ketika bernafas atau batuk, berat badan menurun tanpa sebab, cepat menjadi lelah, demam, meriang, dan kehilangan selera makan.

Seseorang yang mengidap penyakit TBC harus mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter secara rutin kurang lebih selama 2 bulan pada pengobatan awal, mengikuti saran dari dokter dan tidak kalah penting juga untuk selalu menjaga kebersihan seperti, rajin membersihkan diri, rajin mencuci tangan, dsb. Perlu diketahui juga bahwa tidak dianjurkan untuk mengonsumsi jamu atau obat-obatan tradisional lainnya, mengonsumsi alkohol dan juga mengonsumsi makanan yang dapat berpotensi menimbulkan alergi karena itu dapat sangat berpengaruh.

Seseorang dapat dikatakan sembuh 90% jika rutin mengonsumsi obat yang telah diberikan. Pengidap penyakit yang memiliki usia lebih muda akan lebih cepat dalam penanganan kurang lebih 6 bulan, namun jika memiliki usia yang lebih tua maka akan memungkinkan memiliki masa penanganan lebih lama yaitu sekitar 9 bulan sampai 1 tahun.

Pencegahan umum yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini adalah dengan menerima vaksin, menggunakan masker saat berada di keramaian dan jika berinteraksi dengan penderita TBC, serta rajin mencuci tangan.

Pencegahan Primer

  • Melakukan imunisasi aktif, melalui vaksinasi BCG (Basil Calmette Guerin) secara nasional dan internasional kepada daerah yang berpotensi penularan yang tinggi.
  • Mengonsumsi Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang dinilai terbukti kontak dijalankan dan tetap harus dikombinasikan dengan pasteurisasi produk ternak.

Pencegahan Sekunder

  • Kontrol pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern kemoterapi spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga. Metode tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC sebagai pusat, sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu, pengetahuan tentang resistensi obat dan gejala infeksi juga penting untuk seleksi dari petunjuk yang paling efektif.
  • Langkah kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC, dengan imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC positif. Kontrol lingkungan dengan membatasi penyebaran penyakit, disinfeksi dan cermat mengungkapkan investigasi epidemiologi, sehingga ditemukan bahwa kontaminasi lingkungan memegang peranan terhadap epidemic TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan untuk membatasi kasus baru harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan psikis.

Pencegahan Tersier

  • Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis, rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial dari TBC, serta penegasan perlunya rehabilitasi.

Sumber

Penulis: Jenori Debora Mangelep


Jenori Debora Mangelep
  • Penulis adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Katolik De La Salle Manado.
Bagikan !