Connect with us

OPINI

Menelikung di momen tragedi kemanusiaan

Keputusan paripurna DPR hari ini dengan sadar mengajak kaum buruh meninggalkan rumah dan pabrik menuju pusat kekuasaan.

Bagikan !

Published

on

Catatan Timboel Siregar *

DPR RI hari ini (kemarin -red) sepakat membawa RUU omnibus law Cipta Kerja (Ciptaker) untuk diserahkan ke Badan Legislasi (Baleg). Hal ini diputuskan pada rapat paripurna DPR. Dengan adanya putusan paripurna ini maka RUU omnibus law Cipta Kerja akan segera dibahas.

Tentunya keputusan DPR tersebut sangat disesali dan sangat tidak tepat di tengah kondisi Ibu Pertiwi yang terus menerus menangis karena anak bangsa setiap hari menghadap Penciptanya lantaran terinfeksi Covid 19.

Seharusnya Pemerintah dan DPR fokus saja dulu dalam penanganan Covid 19. Omnibus law Ciptaker yang dipaksakan ini pastinya akan menuai banyak protes dari berbagai pihak seperti SP/SB dan kalangan buruh, akademisi, penggiat hukum, ekonom aktivis lingkungan, dsb dsb.

Tragedi Covid 19 ditunggangi oleh kepentingan sekelompok orang yang memakai kekuasaan untuk menggolkan keinginan jahatnya. Tidak elok dan tidak bijak bila DPR dan Pemerintah menelikung di momen tragedi kemanusiaan ini. Semua orang disuruh diam di rumah, bekerja dan beribadah dari rumah, tapi secara sadar DPR dan Pemerintah menaikkan tensi politik dengan memanas-manasi banyak pihak yang tidak setuju dengan omnibus law Ciptaker ini.

Keputusan paripurna DPR hari ini dengan sadar mengajak kaum buruh meninggalkan rumah dan pabrik menuju pusat kekuasaan, hanya untuk menolak omnibus law Ciptaker.

Rasionalisasi sosial atau physically distancing yang setiap saat dikumandangkan para pejabat mungkin akan menjadi seruan basa basi tanpa makna lagi.

Pandemik Covid 19 akan terus meluas dan bangsa ini akan semakin sulit keluar dari tragedi kemanusiaan ini, hanya karena Pemerintah dan DPR berhasil dikendalikan kepentingan sekelompok orang yang memang menginginkan bangsa ini menjadi budak kepentingan mereka.

Sebelum terjadi penyesalan di kemudian hari, saatnya DPR dan Pemerintah membatalkan pembahasan omnibus law Ciptaker. Jangan memaksakan kehendak. Fokus “perang” melawan covid 19, jangan malah nantangin buruh untuk turun ke jalan.

Penulis Timboel Siregar adalah Koordinator Advokasi BPJS Watch

Bagikan !

OPINI

Covid-19, ancaman kepunahan ras manusia yang nyata

Penyebaran Corona di Indonesia diatasi dengan sistem medis yang jauh dari profesional.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com
Kehancuran ras manusia.(Image: pexels.com/Nur Andi Ravsanjani Gusma)

ZONAUTARA.com – Corona disease 2019 (Covid-19) yang disebabkan SARS-CoV-2, kian menjadi ancaman serius bagi populasi umat manusia yang ada di muka bumi. Banyak negara yang tidak siap menghadapi kemungkinan serangan wabah yang kini dianggap sebagai pandemi ini.

F. William Engdahl dalam tulisannya yang berjudul Coronavirus, Vaccines and the Gates Foundation  menuding adanya sebuah rekayasa yang sudah lama direncanakan dari Bill Gates dan yayasannya.

“Sebenarnya pandemi global seperti flu adalah sesuatu yang telah disiapkan Gates dan yayasannya selama bertahun-tahun,” tulis William.

Cara penyebaran virus Corona yang sangat cepat dan mengakibatkan kematian, jelas turut mengancam keberlangsungan hidup ras manusia. Lepas dari persoalan konspirasi Gates, hingga kini Corona belum memiliki antivirusnya.

zonautara.com
Antisipasi Corona.(Image: pexels.com/Heorhii Heorhiichuk)

Vaksin yang dikembangkan di sejumlah perusahaan ternama masih dalam tahap uji coba sementara kematian setiap harinya makin memprohatinkan. China sebagai satu-satunya negara yang berhasil melawan wabah tersebut, lebih mengutamakan sistem imun dari setiap orang yang terpapar.

Penyebaran Corona di Indonesia diatasi dengan sistem medis yang jauh dari profesional. Padahal para tenaga medis yang bertugas di daerah tanggap darurat telah diberikan tambahan insentif oleh pemerintah.

Berdasarkan pengakuan seorang artis Indonesia, Melanie Subono, yang ingin memeriksakan diri karena dicurigai terpapar Corona, harus merogoh kocek sendiri membiayai serangkaian pemeriksaan, yang itupun bukan untuk mengetahui terpapar Corona atau tidak.

Sebuah tim yang dibentuk pemerintah dan diberi nama Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pun terkesan tidak sigap bertindak. Pintu masuk bandara selalu saja dibiarkan tanpa adanya pemeriksaan ketat dari petugas medis.

Dengan kondisi yang makin hari makin bertambah korban yang terpapar Corona, masyarakat Indonesia terancam. Hampir semua daerah mengisolasikan orang-orang yang diberi status Orang Dalam Pemantauan sementara tidak ada pemeriksaan SWAB yang diharuskan oleh prosedur.

Sepertinya tidak ada jalan lain dalam mengatasi penyebaran Corona ini selain inisiatif untuk menggunakan hand sanitizer, masker, mengisolasi diri, dan membangun sistem imun tubuh. Soal masker, dalam situasi yang darurat ini sejumlah politisi memborong masker yang kemudian dibagikan untuk kepentingan pencitraan.

Alhasil, masker menjadi barang yang sangat langka di apotik ataupun supermarket. Seharusnya politisi berpikir dan mengambil langkah penting sebagai usaha penyelamatan ras manusia. Mengembalikan masker ke pasar dan membiarkan mekanisme pasar berlaku atas masker-masker itu sehingga masyarakat bisa membelinya.

Kemungkinan munculnya ras manusia baru

Situasi ini mengingatkan pada seorang profesor Fisika, yaitu Stephen Hawking. Ilmuwan ini pernah meramalkan adanya ras baru manusia super. Seperti yang dilansir The Times, ilmuwan paling terkenal di dunia abad ke-20 ini menunjukkan bahwa rekayasa genetika kemungkinan akan menciptakan spesies manusia super baru yang dapat menghancurkan umat manusia.

Ia menyarankan bahwa orang kaya akan segera dapat memilih untuk mengedit DNA mereka sendiri dan anak-anak mereka untuk menciptakan manusia super dengan daya ingat yang meningkat, ketahanan terhadap penyakit, kecerdasan dan umur panjang.

“Mungkin akan ada hukum yang dibuat melawan rekayasa genetika pada manusia. Namun beberapa orang tidak akan bisa melawan godaan untuk meningkatkan kemampuan manusia, seperti memori, ketahanan penyakit, dan juga usia hidup,” kata penulis buku Brief Answers To The Big Questions ini.

zonautara.com
Save our planet.(Image: pexels.com/Markus Spiske)

Terkait pandemi Corona, siapa yang bertahan dan tidak mati, selain yang berhasil membangun imun tubuh, besar kemungkinannya adalah orang yang telah berhasil melakukan rekayasa genetika melalui vaksin yang membuat tubuhnya tahan penyakit.

Para ilmuwan harus mengambil peranan terbesarnya dalam penemuan vaksin. Intinya adalah kelangsungan hidup ras manusia di planet ini harus diselamatkan. Biarlah kiamat sebagai akhir hidup manusia di bumi adalah urusan Tuhan, bukan urusan konspirasi depopulasi.

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com