Connect with us

CARI TAHU

Keseringan menggunakan hand sanitizer ternyata tak baik, ini resikonya

Alkohol bisa menghilangkan minyak dan air pada kulit kita, dan dapat menyebabkan kulit menjadi sangat kering.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi dari Pexels.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer adalah salah satu cara mengusir bakteri dan virus yang menempel di tangan kita.

Dengan cara itu kita dapat mengurangi penularan virus.

Namun dilansir dari Mirror.co.uk, para ahli memperingatkan, jika kita melakukannya secara berlebihan justru dapat meningkatkan resiko terinfeksi.

Juru bicara perusahaan kimia Kao Corporation menjelaskan kepada Kyodo News bahwa, menggunakan hand sanitizer berbahan alkohol secara berlebihan dapat menghilangkan ‘flora bakteri normal’ yang melapisi kulit dan menangkis patogen.

“Tentu saja, mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol itu perlu untuk mengurangi penularan virus, tetapi melakukan sesuatu secara berlebihan itu tidak baik,” ungkapnya.

Hand sanitizer atau pembersih tangan biasanya mengandung 60 hingga 95 persen alkohol, yang membantu menjaga tangan bebas dari bakteri dan virus.

Namun, alkohol ini juga bisa menghilangkan minyak dan air pada kulit kita, dan dapat menyebabkan kulit menjadi sangat kering.

Kulit kering dan rusak bisa menjadi sarang bakteri penyakit dan juga meningkatkan risiko masuknya virus ke dalam tubuh kita melalui luka di kulit.

“Untuk mencegah infeksi, jauh lebih penting untuk mencuci tangan dengan sabun dalam jumlah sewajarnya selama lebih dari 30 detik secara efektif daripada keseringan mencuci tangan di setiap waktu,” urainya.

Setelah mencuci tangan, penting juga untuk memastikan kita mengeringkan tangan dengan seksama.

Membiarkan tangan basah dapat juga menyebabkan gangguan kulit sehingga memudahkan virus menempel di tangan.

Selain menjaga tangan kita tetap bersih, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit juga menyarankan kita untuk secara teratur membersihkan semua permukaan yang sering disentuh.

Permukaan sentuhan tinggi termasuk mesin hitung, permukaan meja, gagang pintu, perlengkapan kamar mandi, toilet, telepon, keyboard, tablet, dan meja samping tempat tidur.

“Juga, bersihkan semua permukaan yang mungkin mengandung darah, tinja, atau cairan tubuh.”

Editor: Christo Senduk

Bagikan !

CARI TAHU

Sudah rindu nge-mal dan nongkrong di kafe? Ini aturannya saat New Normal

Semuanya harus dijalankan dengan mematuhi protokol kesehatan.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi dari Pexels.com

ZONAUTARA.com – Masa karantina berbulan-bulan membuat kita lupa bagaimana rasanya jalan-jalan di mal dan nongkrong di kafe bersama teman-teman.

Nah, kini pemerintah tengah menyiapkan New Normal agar warga bisa beraktifitas kembali tapi dengan mematuhi aturan atau protokol penanganan covid-19.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeluarkan aturan tentang pedoman tatanan normal baru (New Normal) produktif dan aman Coronavirus Disease 2019.

Di dalamnya mengatur protokol kegiatan untuk toko dan pusat komersial seperti pusat perbelanjaan, butik, supermarket, dan bank yang harus menetapkan jumlah maksimum orang yang bisa memasuki tempat tersebut.

Pusat perbelanjaan juga harus gencar-gencarnya mensosialisasikan transaksi online dan metode pembayaran tanpa uang tunai (cashless).

Pengelola mal harus membatasi jumlah orang yang masuk lift dan harus mulai memperbanyak mesin penjual makanan/minuman otomatis daripada mengoperasikan kafetaria. Hal tersebut bertujuan untuk untuk mengurangi kontak langsung.

Menerapkan aturan jarak fisik, dan semua fasilitas berjarak satu meter dan lebih disarankan dua meter. Dan juga tetap dilakukan pemeriksaan suhu tubuh.

Selain pusat perbelanjaan, salon dan spa juga sudah diijinkan beroperasi. Tetapi para pegawai harus menggunakan masker dan sarung tangan. Harus sering-sering mencuci tangan dan membersihkan alat-alat mereka dengan cairan disinfektan.

Penerapan aturan juga berlaku untuk restorant dan kafe, dimana sesuai surat yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, pengunjung maksimal 40% dari jumlah kunjungan saat kondisi normal, dan jumlah para pengunjung harus dibatasi.

Pemeriksaan kontrol ketat di setiap pintu masuk dan keluar untuk mencegah terjadinya kerumunan sesuai dengan protokol kesehatan.

Pengelola dan pegawai atau petugas juga harus negatif COVID-19 berdasarkan bukti hasil tes PCR/Rapid yang dilakukan pemilik atau dinas kesehatan setempat. Selain itu menggunakan masker, face shield dan sarung tangan selama beraktivitas.

Editor: Christo Senduk

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com