Connect with us

ZONA TERKINI

Ada klaster Faskes baru di Sulut

Lebih dari 40 perawat di Sulut terpapar covid-19 dan ada sekitar 17 dokter.

Bagikan !

Published

on

Salah satu petugas kesehatan yang memeriksa rapid test di Dinkes Prov. Sulut. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

MANADO, ZONAUTARA.CO – Resiko tenaga kesehatan tertular covid-19 semakin tinggi. Di Sulawesi Utara, sebagaimana yang diupdate oleh Satgas Covid-19 Sulut, hari ini ada klaster penularan baru di fasilitas kesehatan (Faskes).

Sebelumnya di Sulut sudah ada dua klaster Faskes, yakni klaster Faskes A dan klaster Faskes B.

Saat merinci 23 kasus baru positif, Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut, Steaven Dandel menyebut dua kasus diantaranya merupakan tenaga kesehatan yang masuk pada klaster Faskes C.

“Kasus 362, seorang perempuan berusia 63 tahun, asal Manado. Yang bersangkutan merupakan tenaga kesehatan di Faskes C,” ujar Dandel.

Satunya lagi adalah Kasus 366, juga seorang perempuan berusia 28 tahun asal Manado, yang merupakan hasil skrining dari rapid test reaktif lalu dilanjutkan dengan swab test.

Menurut Dandel hingga saat ini lebih kurang 17 dokter di Sulut terpapar covid-19 dan lebih dari 40 perawat juga terpapar virus corona.

Selain dua tenaga kesehatan dari klaster Faskes C tersebut, ada tiga lagi tenaga kesehatan yang terpapar covid-19 yang diumumkan hari ini.

“Kasus 376, laki-laki, 28 tahun, asal Manado, bekerja di faskes di Tomohon,” ujar Dandel.

Kemudian Kasus 376, laki-laki, 53 tahun, asal Tomohon, bekerja sebagai tenaga kesehatan di Faskes di Tomohon, dan Kasus 377, 44 tahun, perempuan, asal Minahasa, juga sebagai tenaga kesehatan di faskes di Tomohon.

Bagikan !
Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Lagi, 7 tenaga kesehatan positif covid-19 di Sulut, semuanya perempuan

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lingkungan dan Konservasi

Juli masih hujan, BMKG prediksi 2020 tak ada kemarau panjang

El Nino pada 2020 pertumbuhannya netral.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi dari Pixabay.com

ZONAUTARA.COM – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengatakan, kemarau panjang yang terjadi di 2019 diprediksi tidak berlanjut pada 2020.

Hal ini berdasarkan analisis dari BMKG, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan National Aeronautics and Space Administration (NASA).

“Diprediksi tidak akan terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, yang panjang seperti tahun lalu,” ujar Dwikorita, saat memberikan paparan pada acara Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook bencana 2020 di Graha BNPB, Jakarta Timur.

Kondisi ini, kata dia, dipengaruhi oleh dua hal.

Pertama, tidak terdapat indikasi fenomena perbedaan signifikan suhu air laut antara Samudera Hindia di sebelah barat daya Pulau Sumatera dengan sebelah Timur Afrika.

“Sehingga bisa dikatakan suhu permukaan air laut di Indonesia juga normal. Artinya diprediksi seperti itu (diprediksi kemarau tidak panjang),” kata Dwikorita.

Kedua, berdasarkan analisis BMKG dan dua lembaga di atas, diprediksi bahwa El Nino pada 2020 pertumbuhannya netral. Kondisi seperti ini, ujar Dwikorita, terjadi hingga Juni 2020.

“Jadi prediksi ini berlaku sampai Juni. Kondisinya netral,” tambah dia.

Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan, musim kemarau pada 2020 diperkirakan akan dimulai pada April dan berakhir pada Oktober. Akan tetapi, dia mengingatkan tahapan musim kemarau akan terjadi tidak serempak di seluruh wilayah.

“Mulainya dan berakhirnya juga tidak serempak. Mulai April terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” tutur Dwikorita.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com