Bertaruh nyawa menuju kampung

Mahakam Ulu
Suasana di tepi Sungai Mahakam bagian hulu. (Foto: Ronny A. Buol)
Ini adalah catatan perjalanan menuju Mahakam Hulu, sebuah kabupaten di pedalaman Kalimantan Timur. Perjalanan itu dilakukan oleh Pimpinan Redaksi Zonautara.com Ronny A. Buol pada Oktober 2016. Hasil reportase dari perjalanan itu telah terpublikasi secara terpisah pada berbagai media. Zonautara.com akan menurunkan secara berseri tulisan perjalanan itu. Ini adalah tulisan pertama dari 11 tulisan.

Kami terkejut saat seseorang menyebut angka Rp 5 juta untuk jasanya memenuhi keinginan kami menuju Long Apari, sebuah kampung paling ujung di Kalimantan Timur. Saat itu, di pertengahan Oktober 2016, kami baru saja tiba di Tiong Bu’u, Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu.

Ces (sampan bermotor katinting khas Dayak pedalaman) yang mengantar kami dari Long Isun, Kecamatan Long Pahangai tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Long Apari. “Terlalu beresiko,”ujar Jiuq, motoris ces dari Datah Suling, Long Isun.

Seminggu telah lewat, saat saya bersama Penulis buku Kuping Panjang Ati Bachtiar, fotografer travel Ebbie Vebri Adrian dan traveller wanita Ria Bazoeki menyambangi kampung-kampung di sepanjang aliran sungai Mahakam bagian hulu. Kami ditemani pemandu asal Dayak, Claudia Sarita Naning.

Keinginan merekam generasi terakhir perempuan Dayak berkuping panjang membawa kami menempuh perjalanan beribu kilometer hingga ke ujung sungai Mahakam. Sungai yang sebagian besar kampung di tepinya dihuni suku Dayak itu telah menjadi urat nadi pergerakan masyarakat yang hidup bergantung dari aliran airnya.

Aliran airnya itu pula yang menentukan lancar tidaknya arus transportasi dari Samarinda, ibukota Kalimantan Timur hingga ke berbagai pelosok di pedalaman. Akses lewat darat yang mulus masih sebatas mimpi panjang warga Mahakam Ulu. Sementara semua suplai kebutuhan pokok bergantung dari Samarinda.

“Jika air sedang pasang, karena ada banjir, perjalanan akan sangat beresiko karena banyak kayu hanyut yang sewaktu-waktu menghantam speed boat. Sementara kalau sedang surut saat kemarau, speed boat tidak bisa jalan, karena bisa menabrak batu,” kata Alex Tekwan, pemilik speed boat Irari yang melayani rute Long Bagun hingga ke Tiong Ohang.

Resiko dari ketinggian permukaan air sungai yang bisa berubah setiap saat itu, membuat biaya transportasi sungai ke Mahakam Ulu menjadi sangat mahal. Setelah mencari informasi di sana-sini, kami akhirnya bersepakat menggunakan ces yang lebih besar dengan mesin katinting 31 PK.

Kami mendapat setengah harga, Rp 2,5 juta setelah bernego cukup lama, dan mengutarakan keinginan kami untuk sebuah pendokumentasian. Namun bagi warga Long Apari, tidak ada pilihan lain kecuali menerima kondisi ini apa adanya.

Ces yang dikemudikan oleh Mansyah (29) dan Belareq (23) secara bergantian itu bertolak dari Tiong Bu’u pukul 12.00 dan menempuh perjalanan selama tiga jam. Ces itu hanya bisa memuat lima penumpang yang duduk saling berdesakan tanpa bisa bergerak leluasa. Sementara perjalanan yang ditempuh harus melewati beberapa riam.

Baca Pula:  Catatan Perjalanan: Mesin PCR rusak, dan saya pun tertahan dua hari
Kelokan sungai-sungai di Kalimantan Timut. (Foto: Ronny A. Buol)

Arus yang berputar di beberapa riam serta gelombang yang ditimbulkannya memaksa Mansyah dan Belareq harus cekatan dan tepat mengemudikan ces. Hilang konsentrasi atau terlambat sedikit, ces bisa terbalik dan akan fatal bagi penumpangnya.

Di salah satu riam yang diberi nama Riam 611 kami diminta turun, karena selain arusnya yang cukup kuat, ombaknya juga besar serta tidak beraturan. Motoris harus yakin motor katinting kuat mendorong ces melewati riam upstream ini.

“Riam ini dinamakan sesuai dengan nama Batalyon Infantri 611 yang kala itu menjaga Pos Perbatasan di Long Apari. Waktu itu, anggota TNI yang melewati riam ini, perahu mereka terbalik dan satu anggotanya hilang diseret arus,” jelas Mansyah.

Setelah yakin dengan jalur yang dipilihnya, Mansyah lalu memacu ces dengan kecepatan penuh menghadang arus yang turun serta hantaman ombak. Ces yang mereka kemudikan sempat terbang di udara sebelum mendarat kembali dengan selamat.

Perjalanan lalu dilanjutkan ke Long Apari hingga kami tiba pukul 15.00. Walau perjalanan cukup ekstrem namun pemandangan di sepanjang rute yang dilewati sangat memesona. Beberapa dinding batu karst seakan menjadi benteng di tepi sungai. Hutan yang masih cukup terjaga juga menjadi bagian dari perjalanan.

Long Apari adalah sebuah kampung paling ujung yang berbatasan dengan Malaysia. Di kampung ini dibangun Pos Pengamanan Perbatasan RI – Malaysia yang dijaga oleh 16 prajurit TNI. Long Apari dihuni oleh 158 kepala keluarga yang terdiri dari 602 jiwa. Mereka merupakan sub suku Dayak Penihing dan Ahoeng.

Ces (sampan) adalah transportasi utama warga di pedalaman Kalimantan Timur. (Foto: Ronny A. Buol)

“Kami sangat jarang kedatangan orang kabupaten. Nanti kalau masa kampanye baru mereka datang,” ujar Anyeq (42) seorang pedagang di Long Apari.

Jika air sungai lagi normal, bensin berharga Rp 25 ribu per liter, gula pasir Rp 20 ribu per kilogram, semen Rp 400 ribu per zak. Namun jika air sedang surut atau banjir, harganya bisa dua kali lipat.

“Tidak ada dokter di sini, yang ada hanya puskesmas pembantu yang dijaga perawat dan bidan. Jadi jika sakit berat kami harus ke Tiong Ohang atau ke Ujoh Bilang,” keluh Anyeq.

Dari Samarinda

Mahakam Ulu adalah sebuah daerah otonom baru di Kalimantan Timur. Kabupaten ini dimekarkan dari kabupaten induknya Kutai Barat pada Desember 2012. Memiliki luas 15.314 kilometer persegi, wilayah Mahakam Ulu berada di sepanjang pesisir sungai Mahakam bagian hulu.

Karena berada di sepanjang sungai Mahakam yang memiliki panjang 920 KM itu, transportasi utama warga di kabupaten dengan 5 kecamatan ini adalah transportasi air. Dari Samarinda, akses dapat dilakukan dengan dua cara, yakni menggunakan taxi air atau pesawat terbang.

Baca Pula:  Kini STRP tak jadi syarat perjalanan

Jika menggunakan taxi air, warga harus menghabiskan waktu selama sehari-semalam sampai di Melak, kabupaten Kutai Barat, lalu semalam lagi ke Ujoh Bilang, ibukota Mahakam Ulu. Dan dari Ujoh Bilang menuju ke kampung-kampung lainnya, dapat menggunakan speed boat atau long boat dengan tarif yang sangat mahal.

Penerbangan dari Samarinda ke Bandara Datah Dawai di Long Lunuk, Kecamatan Long Pahangai sangat terbatas. Saat ini hanya ada satu maskapai milik Susi Air dengan pesawat type propjet. Itu pun hanya dua hari sekali, dan sekali jalan hanya mampu mengangkut 12 penumpang.

Salah satu maskapai yang melayani rute di pedalaman Kalimantan. (Foto: Ronny A. Buol)

Rute sungai dari Ujoh Bilang atau Long Bagun ke kecamatan-kecamatan di bagian hulu adalah perjalanan yang cukup beresiko. Hanya motoris yang terlatih yang bisa melewatkan speed boat atau long boat di riam-riam ganas seperti Riam Udang dan Riam Panjang.

Resiko itu membuat tarif sekali angkut penumpang bisa mencapai Rp. 500 ribu per orang belum termasuk barang bawaan. Jika pada saat air pasang, tarif carter speed boat bisa mencapai Rp 22 juta untuk sekali jalan.

Lewati Riam

Dari Ujoh Bilang atau Long Bagun, perjalanan sesungguhnya dimulai. Keberanian dan perhitungan matang sangat dibutuhkan melewati rute ini.

Ada dua pilihan untuk menuju ke Tiong Ohang, menumpangi speed boat dengan kecepatan hingga 400 PK, atau memilih menggunakan long boat yang lebih lambat setengah waktu dari speed boat. Dengan speed boat waktu tempuh sekitar 4-5 jam, dan untuk long boat dua kali lipatnya.

Melawan arus aliran sungai dari hulu, adalah perjalanan yang penuh tantangan. Baik speed boat maupun long boat, akan melewati beberapa arus besar kala bertemu riam. Kelihaian motoris yang mengemudikan alat transportasi utama di sungai Mahakam ini adalah kuncinya.

Melawan arus upstream dan menyelinap di antara batu-batu raksasa adalah pengalaman yang tak akan terlupakan. Beberapa penumpang bersama kami, tak tahan untuk tidak berteriak.

Di kala permukaan air sedang naik, beberapa riam akan menjadi ganas. Pun, rintangan kayu-kayu raksasa yang hanyut adalah resiko berikutnya. Namun saat air surut karena kemarau, perjalanan juga akan terhalang dengan permukaan batu yang menonjol dan siap menghantam badan speed boat.

“Yang paling pas, jika airnya sedang-sedang saja,” ujar Alex Tekwan, motoris berpengalaman yang membawa kami.

Kepenatan tubuh karena terbanting-banting selama perjalanan, niscaya akan terbayarkan dengan pemandangan yang dilewati. Dinding batu raksasa dari batuan karst, hutan yang masih hijau, burung-burung yang melintas, serta beberapa air terjun, sulit untuk tidak membuat kita kagum.

Bersambung ke bagian 2: Bergantung pada ces

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com