ZONAUTARA.com – Potensi bisnis di sektor ekonomi digital Indonesia semakin bertumbuh. Berdasarkan studi Google dan Temasek, nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi bisa tembus Rp 1.400 triliun pada 2025 nanti.

Pertumbuhan yang sangat besar ini, perlu ditopang dengan sistem perbankan yang juga bertumpu pada teknologi digital.

Mengantisipasi hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong terbentuknya bank digital atau bank virtual di Indonesia. Walaupun bentuk bank digital masih kurang familiar, namun di Singapura dan Hongkong telah ada.

Bank virtual merupakan institusi keuangan tanpa kantor cabang fisik, dimana semua transaksi keuangan dilakukan secara online.

“Indonesia juga akan menuju ke sana (Hongkong dan Singapura),” ujar Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital OJK Sukarela Batunanggar, Senin (7/10).

Ia mengungkapkan transformasi digital pada perbankan tidak hanya pada proses bisnis tetapi juga mencakup bisnis model. Untuk itu, bank diharapkan bisa lebih responsif dan inklusif ke depan.

Menurutnya, konsep bank digital adalah customer-sentris sehingga perbankan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan nasabah dengan tepat.

Kelahiran bank digital sendiri, kata dia, memiliki dua pola. Pertama, bank yang bertransformasi dari model bisnis, strategi bisnis hingga produknya. Kedua, bank digital yang lahir dari nol sebagai bank digital.

Kehadiran bank digital, lanjutnya, merupakan konsekuensi dari perubahan tatanan sektor keuangan akibat perkembangan teknologi. Mau tidak mau, perbankan harus mengikuti pola tersebut agar tetap kompetitif di pasar.

“Pola konsumsi sudah berubah jadi kami tidak bisa bertahan dengan pola model bisnis yang sekarang. Artinya konsumen mengharapkan dan menuntut perubahan baik pelayanan maupun bisnis modelnya saja,” katanya.

Dalam hal ini, sebagai regulator OJK akan mulai mengkaji regulasi terkait bank digital. Namun, ia belum dapat memastikan kapan aturan tersebut akan diluncurkan. “Tentunya harus ada regulasi, tunggu saja,” katanya.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !