ZONAUTARA.com – Menurut layanan cuaca Copernicus, suhu di sepanjang bulan September 2020 adalah yang terhangat dalam catatan di seluruh dunia. Temperatur pada bulan tersebut 0,05 derajat celsius lebih panas dari September tahun lalu, yang sebelumnya mencetak rekor suhu tertinggi.

Para ilmuwan mengatakan ini adalah indikasi jelas dari kenaikan suhu yang didorong oleh emisi dari peradaban manusia. Copernicus, program pemantauan Bumi yang dijalankan oleh Uni Eropa, mengatakan kehangatan di Arktik Siberia terus mencapai jauh di atas rata-rata.

Dan mereka mengonfirmasi bahwa luas es di laut Arktik berada pada tingkat kedua terendah sejak catatan satelit dimulai.

  • ‘Suhu terpanas di Bumi’ 54,4 derajat celsius di AS
  • Pemanasan global picu tren kebakaran hutan California, menurut studi
  • Kebakaran hutan dan lahan tahun ini diprediksi sebagai yang terburuk sepanjang 18 tahun terakhir, bagaimana di Indonesia?
  • Suhu bumi ‘kemungkinan naik’ lebih dari 1,5 derajat Celcius, apa dampaknya bagi kita?

Suhu tahun ini diproyeksikan sebagai yang terhangat di Eropa, meski suhu di wilayah itu mendingin sejak sekarang. Peningkatan panas global berkontribusi pada kebakaran hutan di California dan Australia.

Fenomena ini juga menyebabkan hari terpanas dalam catatan sejarah – sampai 54,4 Celcius di Death Valley. Dan ia juga punya andil dalam hujan deras yang membanjiri Prancis selatan, dengan curah hujan lebih dari setengah meter dalam sehari.

Kantor pemantau cuaca di Prancis mengatakan hujan lebat seperti ini diprediksi terjadi sekali dalam 100 tahun — tapi sudah terjadi dua kali dalam seminggu.

Samantha Burgess, dari Copernicus, berkata, beberapa peristiwa ini luar biasa — meskipun kita tidak boleh membuat harapan palsu bahwa suhu akan naik dari tahun ke tahun.

“Iklim dan cuaca sangat bervariasi. Tetapi kami memprediksi bahwa peristiwa semacam ini akan terjadi, mengingat efek [aktivitas] kita pada iklim,” katanya.

Rekor cuaca selalu dipecahkan secara alami, namun para ahli meteorologi berkata mereka merasa terganggu oleh beberapa peristiwa ekstrem baru.

Inggris baru saja menikmati Musim Semi paling cerah dalam catatan pada bulan Agustus, terdapat paling banyak hari yang suhunya melebihi 34C; dan kota Reading baru saja mengalami periode terbasah mereka selama 48 jam.

Ed Hawkins, dari Reading University, berkata, “Kami sudah mengatakan ini selama puluhan tahun – semakin banyak gas rumah kaca akan menyebabkan pemanasan semakin besar.”

Dia memperingatkan peristiwa-peristiwa ini dialami hanya dengan satu derajat pemanasan global di atas rata-rata, sementara dengan laju dekarbonisasi saat ini dunia sedang menuju peningkatan sebesar tiga derajat.

“Satu derajat pemanasan berbahaya bagi sebagian orang, seperti yang kita lihat. Dua derajat lebih berbahaya, dan tiga derajat jauh lebih berbahaya. Kami benar-benar tidak ingin mencari tahu akan seperti apa jadinya,” ujarnya.

Laporan-laporan itu dirilis saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan Inggris akan memerangi perubahan iklim dengan menjadi penghasil energi angin.

Pidatonya disambut baik oleh para pecinta lingkungan, tetapi para pengritik berkata dia perlu mendukung janji-janjinya dengan kebijakan dan anggaran.




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id