Luka bakar sering terjadi di antaranya terkena api, tersiram air panas, minyak panas, sampai kuah masakan panas. Berat ringan luka bakar sangat tergantung pada luas dan dalam luka tersebut.

Luka bakar dibedakan atas luka bakar kering umumnya karena api, sengatan listrik, logam panas, cairan panas, air mendidih, uap panas, minyak panas, serta luka bakar karena zat kimia, asam pekat, dan alkali pekat.

Tanda-tanda luka bakar dilihat sesuai tingkat keparahan:

  1. Luka bakar ringan (rasa panas, nyeri, kemerah-merahan, dan kadang-kadang ada pembengkakan)
  2. Luka bakar sedang (bagian yang terkena lebih dalam dari permukaan kulit, rasa panas, nyeri lebih hebat, kemerahan, gelembung yang berisi cairan)
  3. Luka bakar berat (jaringan yang terkena lebih dalam sampai di bawah kulit, tampak ada jaringan yang mati, dan luas permukaan kulit yang terkena trauma panas)

A. Penatalaksanaan Luka Bakar di rumah (sebelum dibawa di rumah sakit)
Penatalaksanaan luka bakar tergantung pada tingkat keparahannya.

  1. Luka bakar ringan : derajat ringan jika luas kurang dari 50%, derajat sedang dengan luas kurang dari 15%, tau derajat berat kurang dari 2%. Bagian yang terkena panas dikompres dengan air dingin atau dialiri air dingin. Bila terlalu luas, segera rujuk ke rumah sakit terdekat. Bagian yang melepuh jangan dipecah, tetapi ditutupi. Tidak dianjurkan mengoles luka bakar dengan odol/kamfer karena hal tersebut justru akan memperberat kondisi luka bakar.
  2. Luka bakar sedang : derajat ringan dengan luas lebih dari 50%, derajat sedang dengan luas 15-30%, atau derajat berat dengan luas lebih dari 2% perlu segera dirujuk ke rumah sakit dengan menutupi bagian yang terkena panas.
  3. Luka bakar berat : lebih parah da lebih luas dari kondisi luka bakar sedang, segera rujuk ke rumah sakit yang lengkap. Obat-obatan yang diperlukan pada luka bakar, terutama bila permukaan kulit terbuka adalah antiinfeksi yang diberikan secara oles/topical. Hal lain yang perlu diperhatikan karena dapat mengancam korban luka bakar adalah kehilangan cairang tubuh (dehidrasi) karena permukaan kulit yang rusak, infeksi, dan cacat tubuh karena adanya jaringan parut akibat luka bakar (kontraktur).

Untuk luka bakar karena zat kimia, perlu penatalaksanaan khusus. Secara
umum, luka bakar dialiri air dingin lebih lama (20-30 menit), kemudian tutup dengan kain halus, dan rujuk ke rumah sakit.

B. Penatalaksanaan Luka Bakar di Rumah Sakit
1. Penanganan Luka Bakar Ringan
Perawatan di bagian emergency terdapat luka bakar minor meliputi : managemen nyeri, profilaksis tetanus dan perawatan luka tahap awal.

  • Managemen nyeri. Managemen nyeri sering kali dilakukan dengan pemberian dosis ringan, seperti morphine atau mepedifine, di bagian emergensi. Sedangkan analgetik oral diberikan untuk digunakan oleh pasien rawat jalan.
  • Profilaksis tetanus. Petunjuk untuk pemberian profilaksis tetanus adalah sama pada penderita LB baik yang ringan maupun yang injuri lainnya. Pada klien yang pernah mendapat imunisasi tetanus tetapi tidak dalam waktu lima tahun terakhir dapat diberikan boster tetanus toxoid. Untuk klien yang tidak diimunisasi dengan tetanus human immune globulin dan karenanya harus diberikan tetanus toxoid yang pertama dari pemberian aktif dengan tetanus toxoid.
  • Perawatan Luka. Perawatan luka untuk luka bakar ringan terdiri dari membersihkan luka, yaitu debridemen jaringan yang mati : membuang zat yang merusak (zat kimia, dll) dan pemberian atau penggunaan krim atau salep antimikroba topical dan balutan secara steril.

Selain itu perawat juga bertanggung jawab memberikan pendidikan tentang perawatan luka di rumah dan manifestasi klinis dari infeksi agar klien dapat segera mencari pertolongan. Pendidikan lain yang diperlukan adalah tentang pentingnya melakukan ROM (Range Of Mation) secara aktif untuk mempertahankan fungsi sendi agar tetap normal dan untuk menurunkan pembentukan edema.

2. Penanganan Luka Bakar Berat
Untuk klien dengan luka yang luas maka penanganan pada bagian emergensi akan meliputi reevaluasi ABC (jalan nafas, kondisi pernafasan, sirkulasi) dan trauma lain yang mungkin terjadi: resusitasi cairan (penggantian cairan yang hilang), pemasangan kateter urin, pemasangan NGT.

  • Reevaluasi jalan nafas, kondisi pernafasan, sirkulasi dan trauma lain yang mungkin terjadi. Menilai kembali keadaan jalan nafas, kondisi pernafasan dan sirkulasi untuk lebih memastikan ada tidaknya kegawatan dan untuk memastikan penanganan secara dini.
  • Resusitasi cairan (penggantian cairan yang hilang). Bagi klien dewasa dengan LB lebih dari 15% maka resusitasi cairan intravena umumnya diperlukan. Pemberian intravena perifer dapat diberikan melalui kulit yang tidak terbakar pada bagian proksimal dari ekstremitas yang terbakar.
    Sedangkan untuk klien yang mengalami LB yang cukup luas atau pada klien di mana tempat-tempat untuk pemberian IV yang terbatas, maka dengan pemasangan kanul pada vena sentral (seperti subklavia, jugularis internal/eksternal, atau femoral) oleh dokter mungkin diperlukan. Luas atau persentasi luka bakar harus ditentukan dan kemudian dilanjutkan dengan resusitasi cairan, adapun cara perhitungan resusitasi cairan adalah sebagai berikut: % BSA x BB x 4.
  • Pemasangan kateter urine. Pemasangan kateter urine harus dilakukan untuk mengukur produksi urine setiap jam. Output urine merupakan indicator yang reliable ntuk menentukan keadekuatan dari resusitasi cairan.
  • Pemasangan NGT. Pemasangan NGT bagi klien LB 20%-25% atau lebih perlu dilakukan untuk mencegah emesi dan mengurangi resiko untuk mencegah terjadinya aspirasi.

Disfungsi gastro intestinal akibat dari ileus dapat terjadi umumnya pada klien tahap dini setelah LB. Oleh karena itu semua pemberian cairan melalui oral harus dibatasi pada waktu itu.

REFERENSI

  1. Widyawati, Veni. 2019. Jadi Dokter Keluarga di Rumah Sendiri; editor, Liana Putri-cet. Yokyakarta: Laksana.
  2. Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD). Malang: 2019

Penulis: Sury Deasy Dayo


zonautara.com
Penulis adalah mahasiswa Semester 5 Fakultas Keperawatan Universitas Katolik De La Salle Manado
Bagikan !