ZONAUTARA.com – Kepanikan terjadi dimana-mana, tidak hanya di Indonesia. Hal ini karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Kepanikan ini juga terjadi dalam perilaku membeli sesuatu, seperti memborong hand sanitizer, masker, tisu, obat-obatan, vitamin, sembako hingga yang terbaru adalah susu beruang. Perilaku ini secara umum disebut ‘panic buying’.

Terdapat beberapa alasan seseorang menjadi panic buying saat berada dalam kondisi ancaman global, menurut psikolog klinis dari University of British Columbia, Steven Taylor.

  • Penanganan dan ancaman tidak sebanding

Menurut Steven Taylor, Covid-19 merupakan penyakit jenis baru dan masih banyak yang belum diketahui tentang virus Coorna ini. Hal ini membuat banyak orang ketakutan.

“Di satu sisi dapat dimengerti, tetapi di sisi lain itu berlebihan,” kata Taylor.

Ia menjelaskan ketika seseorang diberitahu adanya suatu virus yang mematikan namun tindakan yang harus dilakukan hanya mencuci tangan, tentu terlihat tidak sebanding. Karena bahaya khusus memerlukan tindakan khusus pula.

  • Panic buying menular

Saat kita melihat seseorang sedang melakukan panic buying di supermarket, maka hal tersebut akan menularkan kekhawatiran dan memicu tindakan serupa.

Sebab manusia makhluk sosial yang saling memberi isyarat mengenai satu dan lain hal.

  • Ingin mempersiapkan diri

Setiap orang di masa pandemi ini merasa dirinya akan aman dengan berdiam diri di rumah dengan banyak persediaan, hal ini termasuk kecemasan berlebih dan juga semacam psicology survivalist.

Pernyataan tersebut disampaikan Mantan Presiden American Psychological Association Frank Farley.




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id