ZONAUTARA.com – Pandemi Covid-19 memang menurunkan dan mengganggu bisnis dari perusahaan besar hingga perusahaan kecil. Banyak sektor yang mendapat tantangan besar karena adanya pandemi, namun ada satu skctor yang tetap eksis dan cenderung menguat, yaitu industri pembayaran digital dan pembelanjaan online.

Mengutip dari laman resmi Accenture, Sulabh Agarwal, Managing Director Global Payments di Accenture mengungkapkan bahwa industri pembayaran global terbukti tangguh dalam kondisi pandemi. Masyarakat masih terus mempercayai sistem penyedia pembayaran.

Selama pandemi, survey telah membuktikan bahwa orang-orang lebih banyak berbelanja lewat daring, baik melalui platform e-commerce maupun sosial media. Adanya pembatasan jarak mempengaruhi pengalihan dari luring ke daring pada banyak aspek.

Meningkatnya pembelanjaan secara daring juga turut menguatkan bisnis pembayaran secara daring pula. Sebelum pandemi, pembayaran digital memang sudah tidak asing untuk dilakukan, namun saat pandemi, penggunaan pembayaran digital naik.

Saat ini, pertumbuhan e-commerce juga naik. Kantar menyebutkan bahwa e-commerce internasional naik sebesar 41% dalam tiga bulan dibandingkan dengan pertumbuhan 22% pada keseluruhan tahun 2020.

Manajemen pembayaran pun semakin canggih, dalam beberapa e-commerce, dapat dilakukan satu e-wallet. Dan adanya intergrasi yang baik antara penyedia jasa e-wallet, merchant, dan platform belanja online membuat bisnis online berjalan cepat.

Capgemini sendiri memprediksi bahwa nilai transaksi non-tunai di Asia diproyeksikan tumbuh dari US$96,2 miliar pada 2017 menjadi US$352,8 miliar pada 2022. Peningkatan pesat ini terjadi lebih dari 266 persen.

Pembayaran tanpa kontak dan uang tunai secara langsung ini juga memiliki banyak metode. Ada yang langsung transfer dengan nomor telepon, penggunaan barcodem dan lain-lain.

Penggunaan barcode membuat transaksi dapat dilakukan lebih cepat. Beberapa metode pembayaran juga memungkinkan penggunanya tak perlu menyentuh kartu atau memasukkan PIN.

Tren pembayaran digital ini juga makin diperkuat oleh WHO. WHO mengatakan bahwa uang tunai merupakan salah satu media dalam penyebaran virus Covid-19. Guna mengurangi risiko dalam melakukan transaksi di masa pandemi, pembayaran digital lah yang datang sebagai solusi efektif dari masalah tersebut.

“Legacy suatu bank dan pelaku pembayaran dapat berkolaborasi untuk menghadirkan solusi pembayaran digital dengan lebih baik ke pasar,” ungkap Sulabh Agarwal.

Adanya perubahan kebiasaan masyarakat dalam bidang pembayaran ketika pandemi juga dapat mendorong adanya inovasi teknologi yang semakin maju di masa depan.