ZONAUTARA.COM — Bertujuan agar dapat mengikuti program evakuasi dan kabur dari kekuasaan Taliban, dilaporkan jumlah perempuan di Afghanistan dipaksa untuk menikah.

Pengalaman tersebut terjadi pada beberapa perempuan yang kini telah ditampung di pusat evakuasi di Uni Emirat Arab.

Berdasarkan pengakuan, perempuan-perempuan malang tersebut dipaksa untuk menikah agar dapat pergi mengikuti program evakuasi.

Sebagian bahkan mengaku bahwa dirinya dipaksa menikah di depan Bandara Internasional Hamid Karzai.

Bahkan, dilansir dari CNN, dalam beberapa kasus, keluarga rela membayar pria yang memenuhi syarat evakuasi agar mau menikah atau berpura-pura menjadi suami putrinya.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS juga mengakui bahwa mereka mendapatkan laporan senada dari pejabat-pejabat yang mengurus proses evakuasi.

Hingga saat ini, belum jelas seberapa jauh isu itu menyebar. Namun, isu itu sudah menimbulkan kekhawatiran hingga ke titik diplomat AS di Uni Emirat Arab mengirimkan surat kabel.

Para diplomat di UEA pun sudah menyusun panduan bagi pengurus pusat penampungan pengungsi untuk mendeteksi orang-orang yang kemungkinan menjadi korban penyelundupan manusia.

Seorang diplomat lainnya mengatakan bahwa, Kemlu AS mengindikasikan bakal bekerja sama dengan Kementerian Keamanan dan Kementerian Pertahanan, untuk menyelidiki lebih lanjut laporan tersebut.

Saat ini, AS menampung para pengungsi Afghanistan di negara ketiga. Para pengungsi itu akan menjalani pemeriksaan terlebih dulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke negara tujuan.

Sejumlah pengungsi melanjutkan perjalanan ke AS. Di sana, pemerintah menyediakan sejumlah pangkalan militer untuk menampung pengungsi.

Kebanyakan pengungsi perempuan ingin kabur dari Afghanistan, karena takut Taliban akan kembali memerintah dengan tangan besi, seperti pada 1996-2001 silam.

Saat pertama kali memerintah, Taliban menerapkan hukum syariat Islam konservatif yang sangat mengekang kebebasan perempuan.

Setelah merebut kembali kekuasaan pada 15 Agustus lalu, Taliban berjanji akan bersikap lebih terbuka. Namun, banyak pihak meragukan janji tersebut.

Tak terkecuali Pasthana Durrani, perempuan yang aktif memperjuangkan hak-hak perempuan tersebut bahkan sudah merasa putus asa.

“Sekarang, saya merasa sangat putus asa,” tandasnya.