ZONAUTARA.COM — Kota Semarang menjadi wilayah paling baik dalam menjalankan pembukaan aktivitas tanpa menimbulkan lonjakan mobilitas masyarakat.

Hal tersebut berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Saat ini, kondisi penanganan Covid-19 di Indonesia mulai membaik, namun, masyarakat tetap diminta untuk menjaga protokol kesehatan, serta tetap waspada.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr. Reisa Broto Asmoro, menerangkan, mempertahankan hal yang sudah dicapai adalah langkah terbaik.

“Langkah yang terbaik memang mempertahankan apa yang sudah dicapai, bukan menurunkan kewaspadaan,” ujar dr. Reisa.

Sedangkan, Koordinator PPKM Jawa-Bali Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan, sebelumnya telah mengatakan bahwa tren kasus konfirmasi harian secara nasional telah mengalami penurunan.

Secara spesifik, di Jawa Bali turun hingga 96 persen dari titik puncaknya pada 15 Juli yang lalu.

Menurut dr. Reisa, catatan pemerintah pusat pada minggu kedua September 2021, juga menunjukkan bahwa jumlah kasus aktif sudah turun di bawah 100.000 kasus.

Bahkan, pada penerapan PPKM hingga minggu lalu, pemerintah menurunkan status Provinsi Bali dari level 4 menjadi level 3.

“Tentu ini progres yang sangat menggembirakan, tapi kehati-hatian juga harus dijaga,” ujar dr. Reisa.

Sementara itu, dr. Reisa mengatakan bahwa, wilayah aglomerasi seperti Jabodetabek, Bandung Raya, Semarang Raya, Solo Raya, serta Gerbang Kertasusila di Jawa Timur, tidak dapat sendirian bekerja mempertahankan status level 2 mereka.

Berdasarkan pengamatan Komite Penanganan Covid‑19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) serta mitra kerjanya, seperti UNICEF dan WHO Indonesia, perkembangan kasus Covid-19 di Kota Jakarta Pusat, Kota Semarang dan Kota Bandung sangat ditentukan oleh wilayah satelitnya.

Misalnya, Depok dan Bogor untuk Jakarta, Kendal dan Kabupaten Semarang untuk Semarang, dan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cimahi dan Cianjur untuk Bandung.

“Contohnya di Semarang, masih rendahnya mobilitas malam hari juga diperlihatkan di Kendal. Sedangkan, aktivitas malam di Bandung juga sangat terpengaruh pergerakan warga sekitarnya, termasuk warga Jakarta yang masuk ke Bandung,” terang dr. Reisa.

Untuk itu, Reisa menekankan sekali, perlunya menghindari sikap egois dalam melakukan mobilitas, terutama malam hari.

Masyarakat diajak untuk melakukan skrining pribadi sebelum bepergian dan terus disiplin protokol kesehatan.

Kelengahan melonggarkan disiplin akan mengarah ke naiknya level PPKM, yang berujung penutupan ruang publik, seperti mal dan bioskop, yang minggu ini baru dibuka kembali di wilayah level 2, serta Pembelajaran Tatap Muka yang sudah diujicobakan sejak 30 Agustus 2021.

Reisa mengimbau masyarakat untuk tidak lalai, serta jangan membuat seluruh masyarakat dan anak-anak yang mulai sekolah kembali sengsara lantaran kelalaian masyarakat.

“Yuk, bisa untuk Indonesia,” tandasnya.