Tidak sulit mencari tempat untuk nongkrong di Kota Bitung. Apalagi untuk sekadar ngopi. Setahun lebih sudah, saya tidak plesiran di kota tercinta ini, Kota Cakalang. Pandemi memaksa orang untuk tinggal bersarang di kediaman masing-masing.

Tapi kini kelonggaran beraktivitas telah diberikan oleh pemerintah. Syukur tiada tara. Cukup sudah penat selama ini. Otak lalu memberi signal. Jari mulai mengusap-usap gawai, mencari referensi tempat ngopi yang pas untuk orang seperti saya yang tidak terlalu suka keramaian.

Pikiran langsung ke salah satu postingan di media sosial, sebuah tempat baru. Cukup menarik. Sebuah kedai, yang menyajikan kopi dengan proses yang unik; diseduh dan di-blend menggunakan ibrik (Turkish pot) di atas pasir. Sesuai namanya, Kopi Gurun Pasir. Menarik! Cukup membaca review, Saya putuskan mengajak beberapa teman. Dan mereka setuju.

Tepat di depan SMP Muhammadiyah Bitung, kedai yang dituju itu terletak.

Kedai kopi gurun pasir, Manembo-nembo, Kota Bitung (Lokasi kedai sebelum pindah). (Foto: Novita Wenzen/zonautara.com)

Handri Tulenan (32), yang akrab disapa Andri, warga Pintu Kota, Pulau Lembeh, pemilik sekaligus barista di kedai Kopi Gurun Pasir itu, nampak sibuk melayani pengunjung tetap yang sering begadang hingga subuh, termasuk beberapa driver taxi online.

Menu andalannya, yakni: Kopi Hitam, Kopi Susu, dan Kopi Jahe. Cara pembuatannya sama-sama digiling fresh dari biji, diseduh menggunakan ibrik, tinggal ditambah pemanis atau potongan jahe, sesuai selera pelanggan.

Usahanya dijalankan bersama ibu dan kedua adik perempuannya. Tidak hanya kopi, berbagai menu makanan juga tersedia. Untuk penyajian Kopi, Andri sendiri yang meraciknya. Butuh kurang lebih 20 menit untuk mendapat hasil seduhan kopi yang nikmat.

“Harus benar-benar dapat taste terbaik,” ucapnya.

Handri Tulenan, pemilik sekaligus barista di Kopi Gurun Pasir, sedang meracik kopi menggunakan ibrik. (Foto: Novita Wenzen/Zonautara.com)

Penikmat kopi, yang dulunya bekerja sebagai pemandu pariwisata kapal pesiar ini mengaku tertarik dengan penyajian kopi ala Turki tersebut sejak 2017 silam. Dia kemudian mempelajarinya secara otodidak dari buku dan sumber lain. Untuk seleranya sendiri, dia lebih menyukai menyeruput kopi tanpa gula.

“Minum kopi tanpa gula, kalo hari ini sudah manis, tidak perlu ditambah gula,” ucap Andri dengan senyum sumringah, sembari menikmati secangir di genggaman.

Andri sendiri tidak neko-neko menyajikan rasa terbaik untuk pelanggan. Kopinya didatangkan langsung dari ujung timur Jawa, Kawah Ijen yang terkenal dengan varietas Arabika-nya, serta Robusta yang berasal dari Flores. Benar-benar kualitas kopi terpilih, dengan metode sangrai terbaik, yang dijadikan jawara di kedainya.

Tidak keliru, baru sebulan, sudah sekitar 6 kg kopi, ludes disajikan untuk pelanggan. Andri bahkan hafal rasio kopi beberapa pelanggannya.

Di atas pemanggang yang dia rancang sendiri, dan diisi pasir hitam pantai yang mengandung unsur vulkanik, Andri menuangkan inspirasinya. Pasir mengandung unsur vulkanik dipilihnya, karena dapat mengantar panas lebih bagus.

Soal harga menu, dirinya tak mematok terlalu tinggi. Harganya mulai Rp.5.000, pelanggan sudah bisa menikmati kopi hitam dengan rasa yang tidak main-main.

Tak terasa saya sudah terlibat perbincangan yang menyenangkan. Sederhana tapi elegan. Beberapa teman juga setuju untuk kembali menikmati kopi di kedai kopi gurun pasir. Semoga PPKM tak naik level lagi.