ZONAUTARA.com – Para psikolog telah mengembangkan kerangka berpikir kritis agar membantu kita dalam mengolah keterampilan mental dan menghadapi tantangan yang diperlukan untuk kehidupan.

Saat ini, informasi dan berita telah menyebar sangat luas bak udara. Beberapa informasi memancing reaksi yang biasa saja, informasi lainnya dapat memicu ketegangan. Dari situ, kita menyadari bahwa berpikir kritis diperlukan dalam kondisi saat ini.

Teori tahapan dalam berpikir kritis ini dirancang oleh psikolog Linda Elder dan Richard Paul. Peneliti mengidentifikasi enam tingkat pemikir kritis dari tingkat yang paling rendah dan umum, hingga tingkatan yang lebih mendalam dan maju.

Enam tingkatan tersebut terdiri dari unreflective thinkers (pemikir tidak reflektif), challenged thinkers (pemikir tertantang), beginning thinkers (pemikir pemula), practicing thinkers (pemikir praktik), advanced thinkers (pemikir tingkat lanjut), dan master thinkers (pemikir master).

Pergerakan makin naik dari piramida pemikiran tersebut tergantung pada tingkat komitmen yang diperlukan oleh individu untuk berkembang sebagai pemikir yang kritis. Dengan kata lain, berpikir kritis perlu dilakukan secara terus menerus untuk meningkatkan kemampuannya. Jika tidak, maka kemampuan tersebut bisa saja hilang.

Unreflective thinkers

Pemikir tidak reflektif, tidak memiliki dan menerapkan standar dalam berpikir, seperti akurasi, presisi, relevansi, dan logika secara konsisten. Ada banyak orang di luar sana yang berada dalam tahapan ini. Untuk mengira-ngira, cukup lihat beberapa komentar di media sosial.

Challenged thinkers

Pemikir tertantang, menganggap bahwa pemikiran yang solid melibatkan menavigasi asumsi, kesimpulan, dan sudut pandang, tetapi hanya pada tingkat awal.

Beginning thinkers

Pemikir pemula, memberikan poin lebih pada akal dan logika. Mereka juga dapat mulai melihat konsep dan bias yang mendasari ide-ide tertentu. Selain itu, pemikir pemula juga mengembangkan standar internal yang lebih tinggi untuk kejelasan, akurasi, dan logika, menyadari bahwa ego mereka memainkan peran kunci dalam keputusannya.

Pada tahapan ini, mereka memiliki kemampuan untuk menerima kritik terhadap pendekatan yang mereka buat. Mereka tidak hanya menghargai kekurangan mereka sendiri, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengatasinya.

Practicing thinkers

Pemikir praktik mungkin masih belum memiliki cara yang sistematis untuk mendapat wawasan sebagai dasar pemikiran mereka. Namun mereka akan terus mengevaluasi pemikiran mereka.

Ilmuwan memperkirakan bahwa seseorang biasanya belum sampai ke tahap ini hingga perguruan tinggi dan seterusnya. Mereka dapat menganalisis pemikiran mereka dengan wawasan tentang berbagai bidang kehidupan.

Advanced thinkers

Pemikir tingkat lanjut, merasa nyaman dengan kritik dan berusaha untuk meningkatkan pemikirannya lewat masukan yang diterima.

Kunci yang diperlukan untuk tingkat ini adalah “wawasan intelektual” untuk mengembangkan kebiasaan berpikir baru, “integritas intelektual” untuk mengenali bidang inkonsistensi dan kontradiksi dalam kehidupan seseorang.

Selain itu, mereka juga memiliki “empati intelektual” untuk menempatkan diri di tempat orang lain untuk benar-benar memahami mereka, dan “keberanian intelektual” untuk menghadapi ide dan keyakinan yang belum tentu mereka yakini dan memiliki emosi negatif terhadapnya.

Master thinkers

Pemikir master, merupakan pemikir super, orang yang sepenuhnya mengendalikan bagaimana mereka memproses informasi dan membuat keputusan. Orang-orang seperti itu terus-menerus berusaha untuk meningkatkan keterampilan berpikir mereka.