ZONAUTARA.comMeski teknologi saat ini sudah digunakan oleh banyak orang, dan di banyak waktu dapat memerangi kesepian, namun hal ini tak berlaku bagi mereka yang lanjut usia. Banyak orang tua yang merasa dirinya kesepian.

Menurut Campaign To End Loneliness, lebih dari sembilan juta orang di Inggris menggambarkan diri mereka sebagai seseorang yang selalu atau sering kesepian.

Laporan Age UK menunjukkan bahwa jumlah orang berusia di atas 50 tahun yang mengalami kesepian akan mencapai dua juta pada tahun 2025, jumlah ini termasuk meningkat 49% dari tahun 2016.

Dan para peneliti menyarankan bahwa kesepian dapat dilihat sebagai penyakit yang mengubah struktur dan fungsi otak. Seseorang yang merasa kesepian memiliki kecenderungan tekanan darah tinggi, depresi, dan bahkan menghadapi kematian dini.

Penelitian yang diterbitkan di Aging & Mental Health dengan judul Toward a neurology of loneliness memiliki jawaban tentang bagaimana para orang tua menghadapi kesepian di usia tua.

Alejandra Morlett Paredes dan tim dari University of California, San Diego melakukan wawancara kepada 30 orang dewasa yang berusia antara 65 dan 92 tahun, semuanya tinggal di komunitas perumahan senior di San Diego.

Pertama, penghuni diminta untuk menyelesaikan penilaian kesepian kuantitatif. Kata “kesepian” tidak digunakan secara eksplisit dalam tes. Melainkan, peserta diminta untuk menilai seberapa sering mereka merasa selaras dengan orang lain di sekitar mereka atau seberapa sering mereka merasa ditinggalkan, pada skala satu sampai empat.

Mereka kemudian diwawancarai oleh tim tentang pengalaman kesepian mereka. Empat hal utama yang dieksplorasi di antaranya: 1) Apakah peserta merasa kesepian dan bagaimana mereka menggambarkan perasaan itu, 2) Mengapa mereka berpikir orang lain merasa kesepian, 3) Bagaimana mereka merasa penuaan berperan dalam kesepian, dan 3) Strategi apa yang mereka miliki untuk memerangi perasaan terisolasi.

Penuaan, seperti yang peneliti duga, berdampak besar pada perasaan kesepian peserta. Kematian pasangan dan orang yang dicintai sangat sulit, sementara peserta juga berkomentar tentang bagaimana hilangnya mobilitas membatasi aktivitas sosial mereka.

Meskipun penuaan merupakan faktor risiko, penerimaan terhadap penuaan memiliki hasil yang lebih positif.

Spiritualitas juga muncul sebagai sifat yang berpotensi protektif. Bagi sebagian orang tua, iman membantu mereka melewati kehilangan orang yang dicintai, dan menghadiri upacara keagamaan di dalam komunitas juga memberi mereka hubungan sosial yang kuat.

Yang paling berguna pada tingkat praktis adalah pemikiran peserta tentang lingkungan yang memfasilitasi interaksi sosial. Banyak penduduk menyebutkan kegiatan dan peluang untuk bersosialisasi yang ditawarkan oleh komunitas mereka dapat memerangi rasa kesepian.