ZONAUTARA.com -Anda pasti punya preferensi tentang musik kesukaan anda dan musik yang anda suka ketika mewakili perasaan subjektif yang sedang anda rasakan. Namun, bagaimana dengan orang lain? Pernahkah anda berpikir bahwa musik yang menurut anda membawa bahagia juga bisa membawa bahagia pada orang lain?

Sebuah penelitian dengan judul What music makes us feel: At least 13 dimensions organize subjective experiences associated with music across different cultures dari UC Berkeley mencoba menjawab tentang hal ini.

Para peneliti menggunakan platform Mechanical Turk Amazon untuk melakukan survey pada lebih dari 2.500 orang yang tinggal di AS dan di China sebagai contoh pendengar dari dua budaya yang sangat berbeda. Responden disajikan 2.168 klip musik yang berasal dari video YouTube.

Subyek ditugaskan untuk mengidentifikasi perasaan yang didorong oleh setiap sampel musik, bagaimana musik memberi kekuatan dampak emosionalnya, mengidentifikasi apakah perasaan itu positif atau negatif.

Meskipun contoh musik diambil dari berbagai daerah dan gaya musik yang berbeda-beda, dengan tujuan agar mengurangi dampak asosiatif dari konteks budaya atau geografis, sebuah pola muncul ketika tanggapan subjek menjadi sasaran analisis statistik.

Sebanyak 13 kategori emosi dari musik tersebut di antaranya: 1) A: Lucu, 2) B: Mengganggu, 3) C: Cemas, tegang, 4) D: Cantik, 5) E: Tenang, santai, tenteram, 6) F: Mimpi, 7) G: Memberi energi, 8) H: Erotis, berhasrat, 9) I: Marah, menantang, 10) J: Gembira, ceria, 11) K: Sedih, depresi, 12) L: Menakutkan, menakutkan, dan 13) M: Menang, heroik.

Sebagai bagian dari penelitian, penulis telah membuat peta interaktif dari emosi yang mereka tunjukkan, dengan setiap perasaan dilambangkan dengan huruf sesuai dengan daftar di atas.

Hasil penelitian tentang emosi yang dihasilkan dari mendengarkan musik (Sumber: Proceedings of the National Academy of Sciences)

 

Dapat dilihat dari peta bahwa survey pada pendengar musik di US dan di China memiliki emosi yang hampir sama pada setiap lagu yang dimainkan, meski dua negara tersebut memiliki budaya yang sangat berbeda.

Hasil penelitian ini tidak mengejutkan penulis, namun hasil ini dapat digunakan untuk acuan studi lanjutan tentang pemanfaat musik dalam terapi psikologis, psikiatri, dan fisik, serta eksplorasi dalam cara kerja otak.