SAYA penyuka kopi. Tapi bukan penikmat yang perfeksionis. Menakar seluruh bahan dengan saksama layaknya pecinta kopi sejati. Saya sebetulnya tak terlalu peduli, soal cita rasanya, kombinasi, tingkat keasaman dan cara menyeduhnya.

Tapi tubuh saya akan menolak bersemangat jika pagi hari belum memulainya dengan secangkir kopi. Seberapapun kadar kafeinnya. Jadi, jangan juga heran, jika pergi saya selalu membawa pulang kopi khas sebuah daerah.

Setahun ini saya bermukim di Kotamobagu, sebuah lembah di ketinggian yang diberkahi dengan kabut dan hawa sejuk saban malam. Di kota ini mudah ditemui petani yang sedang menggarap lahan di antara bangunan rumah dan kantor. Jika anda ke Sulawesi Utara, dan menyebut Kotamobagu, anda juga akan dikenalkan dengan “kopi kotamobagu“.

Ya, Kotamobagu juga mendapat berkah lain. Dilabeli sebagai kota kopi meski lebih banyak kopi yang berlabel kopi kotamobagu itu datangnya dari daerah lain di Bolaang Mongondow Raya, semisal dari perkebunan orang Bilalang di Bolmong, perkebunan orang Modayag di Boltim.

Tapi setahun kehadiran saya di Kotamobagu tak semata karena kopi. Oleh karena itu, meski tinggal di kota yang punya industri rumahan kopi, saya tetap membeli kopi Excelso kesukaan saya saban kali pergi ke Manado. Menyeduhnya dengan moka pot, coffee maker ala rumahan dan terakhir saya membeli mesin pembuat espreso yang sederhana.

Saya sudah mencoba beberapa merek kemasan kopi yang diproduksi di Kotamobagu atau yang di label kemasannya ditulis sebagai kopi kotamobagu. Termasuk membeli kopi bubuk curah di pasar. Tapi lidah saya belum jatuh hati pada kopi-kopi itu. Saya tidak menyalahkan kualitas produk yang saya beli, tetapi menyadari bahwa lidah saya bukanlah milik penikmat kopi sejati. Jadi, selalu saja saya kembali ke kopi Excelso itu.

Hingga di penghujung pekan pertama November 2021. Saya bertemu dengan Rio Lombone. Bukan di cafe-cafe yang menyediakan menu kopi yang sekarang menjamur di Kotamobagu. Saya ditemani crew Zonautara.com dan tim Satu Bumi Jaya menemui Rio Lombone di pondok yang dia dirikan di kebun kopi Mobalang.

Rio adalah petani, tapi sekaligus seorang abdi negara yang menjalankan tugas kesehariannya di pemerintahan daerah kabupaten Bolaang Mongondow. Pondoknya dari kayu, berdiri di tengah-tengah tanaman kopi yang diolah Rio. Sekelilingnya ada kebun kopi petani lainnya. “Total ada 35 ribu pohon kopi di kelompok kami,” sebut Rio.

Kopi Mobalang
Rio Lombone memperlihatkan kopi yang baru dipetiknya. (Foto: Zonautara.com/Marshal Datundungon)

Sebelum ini saya sudah mendatangi beberapa perkebunan kopi, di Bilalang, di Modayag bahkan hingga ke Sapan di Toraja, sebuah negeri yang juga terkenal dengan kopinya. Tapi dalam kunjungan-kunjungan itu saya tidak peduli dengan cita rasa, saya menjalankan tugas saya saja, memotret dan mencatat.

Di Mobalang ini, (anda harus melafalkan “mobalang” dengan menyisip bunyi “er” diantara huruf “a” dan “l”) saya juga diajak berkeliling oleh Rio, tentu sambil kami merekam aktivitasnya. Selain untuk liputan, tim Satu Bumi Jaya juga sedang mendokumentasikan kegiatan crew Zonautara.com.

Saya mencerna setiap penjelasan Rio sembari dia mempraktikkan bagaimana memetik buah kopi yang benar, merawat pohonnya, menghitung rantingnya dan memperlakukan hama tanaman kopi. Lalu hujan turun, dan kami harus berteduh. Bukan karena takut basah, tapi kamera kami tidak waterproof.

Di kolong pondok kayu itu, Rio memeragakan bagaimana memilih buah kopi yang berkualitas baik. Sembari mulutnya terus menghujani kami dengan sejarah dan filosofi kopi. Lalu sampailah dia pada sebuah penjelasan, bagaimana kopi datang ke tanah Bolmong nan subur ini.

Kopi Mobalang
Crew Zonautara.com dan tim Satu Bumi Jaya serta para petani kopi.

Menurut Rio, tanaman kopi dibawa oleh kolonial Belanda. Mereka penjajah (begitu dia menyebut kolonial itu), yang mengenalkan tanaman kopi. Pekerjanya para pribumi yang dilarang mencicipi kopi dengan kualitas terbaik. Biji kopi super dikirim kompeni itu ke negeri mereka lalu dijual ke seantero Eropa.

Orang pribumi yang ngiler dengan minuman kopi juga diijinkan membawa pulang biji kopi. Tapi yang diberi adalah biji kopi yang afker, tak layak dijual ke Eropa. Lalu para kompeni itu bilang, ‘kalau mau bikin kopi, harus dicampur dengan gula’. Padahal mereka menyeduh kopi berkualitas baik tanpa gula untuk mendapatkan citarasa original dari kopi.

Karena diajar minum kopi dengan gula, meski kompeni telah pergi, dan tanaman kopi menjadi salah satu komoditas di tanah Bolmong, orang-orang masih minum kopi pakai gula. Padahal itu ajaran yang salah.

Dan Rio mengakhiri penjelasannya dengan kalimat yang menohok. “Jadi.” Wajahnya serius sekali. “Jika anda masih minum kopi pakai gula, berarti anda masih terjajah.”

Kami semua tertawa. Termasuk saya. Padahal saya tersinggung, karena saya selama ini minum kopi pakai gula. Setelahnya Rio mengajari kami bagaimana menyeduh kopi yang benar. Kopi itam, kopi tubruk, americano, long black, espreso atawa apapun namanya, sejatinya kopi diseduh dan dinikmati tanpa gula.

Oh iya, soal perjalanan menuju ke lokasi perkebunan Mobalang, tak seru jika saya detilkan dengan kalimat. Sebaiknya tonton saja penggalan-penggalan video yang kami rekam serabutan ini. Untuk lebih lengkapnya keseruan perjalanan kami, kita tunggu bersama saja visual storytelling yang sedang digarap tim Bumi Satu Jaya.

Sekadar catatan tambahan untuk stakeholder pariwisata di Kotamobagu. Lokasi Mobalang dan sekitar Poyowa ini adalah potensi wisata minat khusus yang bisa dikembangkan. Saya pejalan. Dan banyak menemui para pejalan lain yang tidak pusing dengan urusan budget asalkan bisa menjajal lokasi-lokasi eksotis dan menantang. Poyowa dan Mobalang berpotensi untuk itu.